Menurut laporan tersebut, ketegangan bermula ketika peluncuran misi pengamanan pelayaran komersial di Selat Hormuz. Project Freedom Amerika Serikat adalah sebuah operasi yang bertujuan mengawal kapal-kapal dagang setelah jalur pelayaran strategis tersebut ditutup oleh Iran.
Namun, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) dibuat terkejut oleh penolakan pemberian akses wilayah udaranya bagi operasi tersebut dari Arab Saudi. Penolakan itu membuat mereka terpaksa mengevaluasi rencana yang baru saja dijalankan. Amerika Serikat sendiri sebelumnya disebutkan belum berkonsultasi dengan Riyadh.
Situasi itu memicu serangkaian percakapan bernada tegang antara Washington dan Putra Mahkota Mohammed bin Salman. Trump dilaporkan berbicara langsung dengan sang putra mahkota itu pada hari pertama operasi dan kembali menghubunginya dalam dua hari berikutnya.
Selain Trump, Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance, Utusan Khusus Amerika Serikat untuk Timur Tengah Steve Witkoff hingga Penasihat Keamanan Nasional sekaligus Menteri Luar Negeri Marco Rubio juga melakukan komunikasi dengan pihak dari Arab Saudi.
Namun Mohammed bin Salman meski mendapatkan tekanan politik, tetap mempertahankan keputusannya. Menurut sejumlah pejabat, sang putra mahkota khawatir penggunaan wilayah udara negaranya justru akan memicu eskalasi perang yang lebih besar dan meningkatkan risiko serangan balasan dari Iran.
Amerika akhirnya harus lega dan menerima penolakan tersebut dengan menghentikan Project Freedom. Hal ini menjadi salah satu momen tegang dalam hubungan Arab Saudi dan Amerika Serikat.
Pakar dari Arab Gulf States Institute di Washington, Hussein Ibish menilai keputusan tersebut juga dilatarbelakangi oleh menurunnya kepercayaan terhadap pemerintahan dari Amerika Serikat.
“Mereka kehilangan kepercayaan kepadamereka, dan mereka berpikir jika mengizinkan wilayah udaranya digunakan, mereka akan menerima serangan yang lebih besar dari Iran,” kata Ibish.
Perbedaan pandangan itu mencerminkan perubahan pendekatan Arab Saudi di Timur Tengah. Sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan pada akhir awal tahun, mereka berusaha menjaga keseimbangan antara mendukung sekutunya dan melindungi kepentingan nasionalnya sendiri.
Arab Saudi di satu sisi tetap memberikan dukungan diplomatik dan militer kepada Amerika Serikat. Namun di sisi lain, kerajaan juga mulai mengambil sejumlah langkah yang tidak selalu sejalan dengan kebijakan Washington. Hal itu terutama ketika menilai tindakan sekutunya yang berpotensi memperbesar konflik.
Arab Saudi juga semakin aktif membangun hubungan dengan negara-negara lain seperti Pakistan dan China. Bahkan,Riyadh dan Teheran telah membuat komunikasi langsung kedua negara semakin intensif, termasuk membahas keamanan, rudal balistik serta aktivitas kelompok-kelompok bersenjata di kawasan.
Hubungan Amerika Serikat dan Arab Saudi masih terjalin melalui kerja sama pertahanan, penjualan senjata serta pembahasan program nuklir sipil, namun perang kali ini menunjukkan adanya perbedaan kepentingan yang semakin nyata antara kedua sekutu lama tersebut.
Gedung Putih sendiri membantah hubungan kedua negara mengalami keretakan. Juru bicara Gedung Putih Anna Kelly menyatakan pemerintah tetap memiliki hubungan yang sangat baik dengan Arab Saudi.
“Trump mendengarkan berbagai pandangan mengenai setiap isu dan mempertimbangkan masukan dari para mitra regional. Pada akhirnya, seluruh keputusan diambil berdasarkan kepentingan rakyat Amerika Serikat dan keamanan nasional,” kata Kelly.
Meski demikian, perang dinilai menjadi ujian terbesar dalam hubungan Washington dan Riyadh. Perbedaan pandangan mengenai strategi menghadapi musuh memperlihatkan bahwa kepentingan keamanan kawasan kini tidak lagi selalu dipandang sama oleh Amerika Serikat dan Arab Saudi. Meski demikian, keduanya tetap mempertahankan kemitraan strategis di berbagai bidang.





