Gondomanan,REDAKSI17.COM – Kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta kembali menjadi ruang perjumpaan pelaku seni dan budaya melalui gelaran Nol Koma #1 bertajuk “Ruang Awal, Ruang Bersama” yang diselenggarakan komunitas Malioboro Classical Jogja pada Jumat (10/7/2026) sore.

Mengusung filosofi bahwa setiap perjalanan besar selalu berawal dari satu titik kecil, kegiatan ini menjadi wadah kolaborasi seniman lintas generasi sekaligus menghidupkan kembali semangat Malioboro sebagai ruang kreatif yang terbuka bagi semua.

Beragam pertunjukan seni ditampilkan sepanjang acara, mulai dari musikalisasi puisi, pertunjukan musik, tari, seni lukis, hingga kolaborasi berbagai komunitas dan seniman dari lintas generasi. Suasana Titik Nol Kilometer pun dipenuhi masyarakat yang menikmati ragam ekspresi seni yang berpadu dengan atmosfer khas kawasan bersejarah tersebut.

Gelaran Nol Koma #1 bertajuk Ruang Awal, Ruang Bersama.

Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo yang hadir dalam kegiatan tersebut mengapresiasi lahirnya ruang kreatif yang mempertemukan kembali para seniman Malioboro dari berbagai generasi. Menurutnya, Nol Koma #1 bukan sekadar pertunjukan seni, tapi juga menjadi momentum reuni besar yang memperkuat identitas Malioboro sebagai pusat kebudayaan.

“Kegiatan ini kreatif, bagus, karena ini bagian dari reuni akbar seniman dan komunitas lintas generasi. Kita tahu bahwa Malioboro adalah rahimnya para seniman dan sastrawan lintas generasi. Ketika ada reuni dengan nama Nol Koma, itu sudah menjadi magnet tersendiri,” ujar Hasto.

Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo bersama seniman di gelaran Nol Koma #1.

Ia berharap kegiatan tersebut dapat terus diselenggarakan secara berkelanjutan dan menjadi salah satu agenda budaya tahunan Kota Yogyakarta.

“Saya berharap ini menjadi kalender event setiap tahun. Seniman-seniman besar yang pernah tumbuh dan berproses di Malioboro bisa kita undang kembali. Bahkan tokoh seperti Ebiet G. Ade semestinya juga bisa kita hadirkan. Kali ini persiapannya memang belum cukup, tetapi ke depan saya optimistis hal itu dapat diwujudkan,” katanya.

 

Sementara itu, perwakilan penyelenggara Seno Prawoto menjelaskan Nol Koma #1 lahir dari semangat untuk mengembalikan Malioboro sebagai ruang bersama yang selama puluhan tahun menjadi tempat bertemunya gagasan, kreativitas, dan berbagai ekspresi seni.

“Tema Ruang Awal, Ruang Bersama dipilih untuk mengingatkan setiap karya besar selalu lahir dari langkah sederhana, sementara ruang publik seperti Malioboro memiliki peran penting sebagai tempat bertumbuhnya kreativitas dan lahirnya kolaborasi lintas generasi,” jelasnya.

Pihaknya menyatakan kegiatan tersebut merupakan upaya merawat ingatan kolektif tentang Malioboro sebagai kampus jalanan, yang pernah melahirkan banyak penyair, musisi, pelukis, budayawan, hingga tokoh nasional.

“Selain menjadi ruang apresiasi seni, kegiatan ini kami harap mampu memperkuat ekosistem kebudayaan Kota Yogyakarta, juga menarik minat masyarakat untuk kembali menikmati ruang publik sebagai pusat interaksi, kreativitas, dan kebudayaan,” pungkasnya.