Sleman,REDAKSI17.COM – Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X menerima penghargaan Anugerah Kehormatan Maestro Penggerak Inklusivitas pada Rabu (15/07). Penghargaan ini diberikan dalam gelaran Jogja Brand and Business Award (JBBA) oleh Harian Jogja di Hotel Royal Ambarrukmo.
Anugerah kehormatan ini diberikan sebagai apresiasi dan penghormatan atas dedikasi dan kontribusi Sri Sultan dalam membangun DIY menjadi daerah yang inklusif, berbudaya, dan berkelanjutan. Mengusung tema ‘Smartly Cultured, Sustainably Driven’, JBBA 2026 menyoroti bisnis dan organisasi yang sukses memadukan nilai kultural Yogyakarta dengan inovasi modern dan dampak lingkungan.
Dalam sambutannya, Sri Sultan mengatakan, falsafah ‘Hamemayu Hayuning Bawana’ mampu menjawab pertanyaan terkait bagaimana filosofi khazanah niaga Jawa bertahan di era digital. Menurut Sri Sultan, falsafah induk ini mampu memperindah, memelihara, dan menyempurnakan tatanan dunia.
“Falsafah ini menuntun kita, bahwa setiap kemajuan, termasuk kemajuan teknologi keuangan, harus tunduk pada satu ukuran, apakah ia menyejahterakan sesama, ataukah hanya memperkaya sebagian. Dalam kerangka inilah, teknologi keuangan bukan sekadar alat efisiensi, melainkan proxy modern dari ungkapan ‘Tunâ Satak, Bathi Sanak’,” papar Sri Sultan.
Sri Sultan menjelaskan, ungkapan ‘Tunâ Satak, Bathi Sanak’ atau rugi sedikit materi, untung mendapat saudara, bukanlah kalkulasi akuntansi biasa. Ungkapan ini merupakan filosofi bisnis yang menempatkan hubungan di atas transaksi.
“Sama halnya ketika sebuah aplikasi pembayaran memberi diskon ongkos kirim kepada pembeli baru, atau ketika platform digital memperluas jangkauan pelanggan bagi bakul kecil di pasar. Prinsipnya, sedikit ‘kerugian’ di depan, demi ekosistem pelanggan yang berkelanjutan di kemudian hari. Bedanya hanya instrumen: dahulu senyum ramah dan potongan harga, kini algoritma dan QRIS,” kata Sri Sultan.
Sri Sultan mengungkapkan, inklusi keuangan hanyalah separuh jalan. Separuh berikutnya adalah memastikan bahwa pertumbuhan UMKM terhubung langsung dengan belanja itu sendiri. Di sinilah pengembangan UMKM DIY telah menuju pada satu paradigma baru, yakni ‘Local Value for Money’.
“UMKM DIY bukan pelengkap dalam ekosistem ekonomi daerah. Mereka adalah tulang punggungnya. Keunggulan mereka nyata, adaptabilitas produk lokal, konektivitas rantai pasok berbasis bahan baku daerah, serta kualitas yang lahir dari keahlian dan warisan budaya,” jelas Sri Sultan.
Sri Sultan menambahkan, melalui platform digital SiBakul, DIY telah membangun ekosistem yang menghubungkan UMKM dengan pasar, termasuk pasar pengadaan pemerintah sendiri. SiBakul menjadi ruang kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat dalam menjamin keberlangsungan perajin di pedesaan tetap terjaga.
“Kepada para pemegang merek, pengelola lembaga keuangan, dan pemimpin korporasi yang hadir hari ini, saya titipkan pesan sederhana. Bangunlah bisnis dengan hati, sebagaimana nenek moyang membangun pasarnya. Sebab keuntungan yang sejati bukan hanya yang tercatat di neraca, tetapi yang tertanam dalam kepercayaan rakyat, dan yang mengalir kembali ke desa-desa penghasil produk lokal,” imbuh Sri Sultan.
Dalam kesempatan yang sama, Presiden Direktur Harian Jogja Arif Budisusilo mengatakan, JBBA 2026 mengusung tema yang sangat strategis untuk masa depan, dengan membumikan falsafah luhur ‘Hamayu Hayuning Bawono’. Konsep ini dipilih karena mampu menjadi panduan praktis bagaimana manusia harus bersikap.
“Artinya setiap kebijakan yang kita lahirkan, baik oleh para pemimpin birokrasi maupun perusahaan, dan setiap strategi bisnis yang dijalankan oleh korporasi, harus bermuara pada satu hal, yakni kesejahteraan dan ketentraman hidup rakyat, tanpa merusak alam tempat kita tinggal atau berpijak. Ketika institusi menjalankan ‘Hamayu Hayuning Bawono’, masyarakat luas akan mendapatkan dampak positifnya,” paparnya.
Menurut Arif, falsafah ini juga mengingatkan bahwa modernisasi dan kebijakan ekonomi, tidak boleh ditebus dengan runtuhnya sendi-sendi kebudayaan, yang selama ini mengikat rasa persaudaraan. Karenanya, JBBA diharapkan dapat menjadi panduan moral dan alat akuntabilitas publik.
“Kami ingin mengubah standar, di mana kesuksesan bukan lagi dilihat dari banyaknya laba bersih atau kemegahan infrastruktur yang dibangun pemerintah. Sukses menjadi kemenangan sejati ketika beriringan dengan komitmen menjaga lingkungan, mendemokratisasikan ruang digital, melestarikan budaya, serta mengangkat derajat kesejahteraan masyarakat,” jelasnya.
HUMAS DIY




