Beranda / Ekonomi dan Bisnis / Heboh Omset KKMP Banjarsari Rp300 Juta, Netizen Justru Hitung-hitungan: ‘Cuma Rp15 Ribu Sehari, Bos!’

Heboh Omset KKMP Banjarsari Rp300 Juta, Netizen Justru Hitung-hitungan: ‘Cuma Rp15 Ribu Sehari, Bos!’

​SURAKARTA,REDAKSI17.COM — Kabar mengenai Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) Banjarsari, Kota Surakarta, yang sukses meraup omset hingga Rp300 juta dalam waktu enam bulan terakhir, awalnya disambut sebagai angin segar bagi pertumbuhan ekonomi kerakyatan di Jawa Tengah. Klaim kesuksesan yang jamak dibanggakan oleh kalangan pejabat ini menyoroti bagaimana manajemen profesional mampu menggerakkan ekonomi akar rumput secara masif menurut laporan resmi dari Antara News.
​Namun, alih-alih ikut terpukau dan bertepuk tangan, ruang siber justru mendadak riuh oleh komentar bernada menggelitik sekaligus kritis dari para netizen. Bagi warga net yang terkenal jeli, angka ratusan juta tersebut dianggap sekadar “pemanis” di permukaan untuk menyenangkan para atasan dan bos besar, tanpa melihat realita margin bisnis ritel yang sebenarnya.
​Kritik pedas yang menjadi sorotan dimulai saat salah seorang netizen, Saynan Ralfbageur, membongkar kalkulasi matematis di balik angka Rp300 juta tersebut. Menurutnya, publik jangan sampai terkecoh antara omset (pendapatan kotor) dengan profit atau keuntungan bersih.
​”Omset itu bukan profit, atau bukan keuntungan… Jika 6 bulan 300 juta maka per hari 1,8 juta. Dan jika keuntungan rata-rata dari barang yang dijual 15%, maka baru memperoleh laba harian Rp270.000. Jika jumlah karyawan 15 orang, maka setiap orang baru mendapat profit Rp15.000,00. Belum biaya air, listrik, dll. Thinks Smart!!!” tulisnya dalam sebuah forum diskusi digital.
​Kalkulasi ini sontak memicu reaksi berantai. Netizen lain, Iyan Waryana, ikut mengamini dengan menambahkan fakta lapangan dari industri ritel sembako yang dikenal memiliki margin sangat tipis. “Sembako tipis, saya juga dagang paling 5% sampai dengan 10%. Ngambil 15% kebesaran, ditinggal pembeli,” ujarnya.
​Sentimen serupa dilemparkan oleh akun Patrick Lie yang menyebut profit bersih bisnis retail semacam ini “paling tinggi 5 persen,” serta Leo Kaiser yang berkelakar bahwa bisnis retail dengan omset sebesar itu dalam kurun waktu 6 bulan tergolong sangat kecil, dengan keuntungan bersih yang “setipis tisu.”
​Tidak sedikit pula netizen yang melempar sindiran nakal terhadap para pemangku kebijakan yang dianggap terburu-buru memamerkan pencapaian tersebut ke media massa. Akun Waluyo Lothok berkomentar sinis, “Itu hanya penambah manis agar pejabat dan bos mereka senang dan bangga.” Sementara akun Noor Azka menyentil, “Bos besar mana tahu antara profit dan omset.”
​Hingga berita ini diturunkan, unggahan mengenai pencapaian KKMP Banjarsari tersebut terus dibanjiri ratusan komentar. Fenomena ini menjadi pengingat bagi para pejabat publik dan pengelola program bahwa masyarakat kini semakin cerdas dalam membedakan antara kilau angka publikasi dan realita isi dompet para pekerja di tingkat bawah. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *