Beranda / Daerah / Sekolah Rakyat, Ruang Tumbuh bagi Mimpi yang Nyaris Terhenti

Sekolah Rakyat, Ruang Tumbuh bagi Mimpi yang Nyaris Terhenti

Yogyakarta,REDAKSI17.COM – Sekolah Rakyat tidak hanya membuka akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. Lebih dari itu, sekolah ini menghadirkan harapan baru bagi keluarga yang selama ini hidup dalam berbagai keterbatasan.

Dwi Hidayat dan Tegar Maulana, keduanya berkisah pada Kamis (02/07). Keduanya menjadi dua potret bagaimana kesempatan yang sama mampu mengubah kehidupan dengan cara berbeda. Dari seorang remaja yang mengembangkan potensi kepemimpinan hingga seorang anak yang kembali menemukan jalan melanjutkan pendidikan setelah nyaris terputus.

Di Bantar Kulon, Kulon Progo, Suprihatin membesarkan ketiga anaknya bersama sang suami yang bekerja sebagai buruh bangunan serabutan. Di tengah keterbatasan ekonomi, ia tetap meyakini pendidikan sebagai jalan menuju kehidupan yang lebih baik.

Saat kesempatan Dwi bersekolah di Sekolah Rakyat datang, Suprihatin tak ragu mengizinkan putranya tinggal di asrama, meski harus berjauhan dari keluarga.

“Agar lebih pintar lagi,” ujarnya singkat.

Kerinduan hanya terobati lewat sambungan telepon ketika Dwi pulang dua pekan sekali. Namun di balik itu, Suprihatin menyimpan harapan sederhana agar kelak putranya menjadi hakim.

Harapan itu kini sedang diperjuangkan Dwi. Lulus sebagai salah satu siswa terbaik di SMP, ia sebenarnya bisa melanjutkan sekolah di dekat rumah. Namun, ia memilih keluar dari zona nyaman demi kesempatan yang lebih besar.

“Kalau sekolah dekat rumah, saya merasa perkembangan saya akan terbatas. Saya ingin mencari kesempatan yang lebih baik di Sekolah Rakyat,” tuturnya.

Sebagai anak dari keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas, Dwi memahami perjuangan orang tuanya. Seusai lulus SMP, ia bahkan sempat bekerja menjual sate selama liburan untuk membantu perekonomian keluarga.

Keterbatasan tidak menghalangi prestasinya. Ia aktif berorganisasi hingga dipercaya menjadi Ketua OSIS di sekolah sebelumnya serta mengikuti berbagai forum kepemudaan di Kulon Progo.

Di Sekolah Rakyat, Dwi menemukan lingkungan yang mendorongnya berkembang. Kehidupan berasrama membentuk kebiasaan baru, mulai dari bangun pukul empat pagi, belajar mengatur waktu, hingga hidup lebih disiplin.

“Banyak sekali perubahan yang saya rasakan. Dari hal-hal kecil seperti bangun pagi sampai kedisiplinan yang sekarang sudah menjadi kebiasaan,” katanya.

Kesempatan mengembangkan diri pun semakin terbuka. Dwi aktif di English Club, paduan suara, pasukan baris-berbaris, hingga organisasi asrama. Kepercayaan teman-temannya mengantarkannya menjadi Ketua OSIS Sekolah Rakyat Menengah Atas 19.

Seluruh kebutuhan pendidikan dan kehidupan di asrama juga disediakan tanpa biaya. Mulai dari tempat tinggal, makan, seragam, hingga perlengkapan sekolah.

Kini cita-citanya pun berkembang. Jika dulu ingin menjadi guru, Dwi bercita-cita menjadi pengacara, bahkan berharap suatu hari dapat menjadi hakim setelah melanjutkan pendidikan ke Universitas Gadjah Mada.

“Saya ingin lulus dengan nilai yang baik supaya bisa membanggakan orang tua dan terus mengembangkan potensi saya,” ujarnya.

Bagi Dwi, Sekolah Rakyat menjadi ruang bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu untuk berani bermimpi lebih tinggi.

Berbeda dengan Dwi, Tegar Maulana datang ke Sekolah Rakyat setelah sempat berada di ambang putus sekolah.

Ia tinggal bersama kedua orang tuanya di sebuah gudang rosok di Timbulharjo, Bantul. Sejak 2019, keluarganya menempati bangunan itu karena diminta menjaga lokasi tempat ibunya bekerja memilah barang bekas.

Sarjilah, sang ibu, menggantungkan hidup dari pekerjaan memilah rongsok dengan penghasilan yang tidak menentu. Kondisi keluarga semakin berat sejak usahanya menurun pada 2023. Di saat yang sama, Sarjilah harus menjalani cuci darah dua kali setiap pekan akibat gagal ginjal.

Di tengah berbagai kesulitan itu, pendidikan Tegar menjadi kegelisahan terbesar.

“Dulu sebelum masuk Sekolah Rakyat, saya takut tidak bisa menyekolahkan anak,” ujarnya.

Keterbatasan ekonomi membuat biaya sekolah sulit dipenuhi. Bahkan, ijazah SMP Tegar sempat belum dapat diambil karena masih memiliki tunggakan.

Harapan mulai muncul ketika Sarjilah mendengar informasi mengenai Sekolah Rakyat. Meski awalnya Tegar menolak karena tidak ingin meninggalkan ibunya yang sakit, dukungan keluarga akhirnya meyakinkannya untuk mendaftar.

“Alhamdulillah, Tegar bisa sekolah. Benar-benar meringankan bagi saya,” kata Sarjilah.

Kini Tegar tinggal di asrama. Meski rasa rindu tetap ada, Sarjilah berusaha menenangkan putranya agar fokus belajar.

“Saya bilang, enggak usah mikir mamak,” tuturnya.

Harapan Sarjilah sederhana. Ia ingin putranya memiliki pendidikan yang lebih baik daripada dirinya dan suami yang hanya lulusan sekolah dasar.

Bagi Tegar, Sekolah Rakyat menjadi kesempatan kedua untuk melanjutkan pendidikan. Setelah diterima, hari-harinya diisi dengan belajar, tinggal di asrama, serta mengikuti berbagai kegiatan yang membentuk kedisiplinan dan rasa percaya diri.

Ia aktif mengikuti Pramuka, bola voli, dan pleton inti. Seluruh kebutuhan hidup selama di asrama juga telah dipenuhi sehingga ia dapat fokus belajar.

Kesempatan itu membuatnya kembali berani memiliki cita-cita.

“TNI, kuliah dulu,” jawabnya singkat ketika ditanya tentang impiannya.

Saat ditanya bagaimana perasaannya melihat perjuangan sang ibu yang harus rutin menjalani cuci darah, Tegar kembali menjawab singkat.

“Kasian.”

Satu kata itu menjadi alasan terbesar mengapa ia ingin terus belajar dan mengubah masa depan keluarganya.

Di dua sudut Daerah Istimewa Yogyakarta, Dwi dan Tegar tumbuh dengan cerita yang berbeda. Yang satu memanfaatkan kesempatan untuk mengembangkan potensi, sementara yang lain memperoleh kembali hak belajar yang nyaris terhenti. Namun keduanya dipersatukan oleh harapan yang sama. Pendidikan mampu membuka jalan menuju masa depan yang lebih baik.

Humas Pemda DIY

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *