Teheran,REDAKSI17.COM – Kesepakatan damai yang hampir tercapai di antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran terancam runtuh.
Hingga malam ke 15, kedua negara masih terus melanjutkan aksi saling serang.
Iran bahkan dilaporkan mengklaim telah menghancurkan 11 pesawat militer dan membunuh 200 tentara AS.
Sementara itu, pasukan khusus AS disebut tengah menyiapkan operasi perebutan bom nuklir. Inilah update perang AS Vs Iran hingga Minggu, 26 Juli 2026:
1. Iran Klaim Hancurkan 11 Pesawat Militer dan Bunuh 200 Tentara AS
TEHERAN – Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengeklaim pada hari Sabtu bahwa angkatan bersenjatanya telah menghancurkan 11 pesawat militer dan helikopter Amerika Serikat (AS) di darat selama konflik 15 hari terakhir.
Garda Revolusi juga mengklaim data yang benar adalah lebih dari 200 tentara Amerika telah tewas sejak perang dimulai akhir Februari.
Namun, data ini berseberangan dengan apa yang pernah disampaikan Pentagon.
Pentagon awalnya mencatat jumlah tentara Amerika yang tewas sejumlah 18, namun tiba-tiba direvisi menjadi 14 personel.
2. Pasukan Khusus AS Siapkan Operasi Perebutan Bom Nuklir Iran
Amerika Serikat dulaporkan tengah mempertimbangan operasi militer yang bertujuan untuk merebut fasilitas nuklir milik Iran.
Operasi tersebut rencananya akan melibatkan ribuan pasukan khusus.
3. Trump Batal Serang Iran Besar-besaran
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah menunda atau membatalkan, setidaknya untuk saat ini, rencana untuk menyerang Iran secara besar-besaran.
Pembatalan serangan terjadi setelah Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine memperingatkan bahwa perang yang lebih luas dapat menguras persediaan rudal pencegat untuk sistem pertahanan Patriot Amerika di Timur Tengah.
Trump dan para penasihat militernya juga mempertimbangkan kemungkinan perang regional yang lebih luas, kerusakan hubungan dengan sekutu Teluk yang rentan, tekanan lebih lanjut pada ekonomi global, dan krisis energi dan pengungsi yang memburuk.
4. Inflasi Terancam Meluas ke Logistik
Lonjakan biaya logistik global akibat pengalihan jalur pelayaran internasional mulai memunculkan tekanan inflasi baru tidak hanya dipicu dari kenaikan harga minyak.
Meningkatnya biaya pengiriman, bahan bakar, dan premi asuransi dinilai berpotensi memicu inflasi berbasis biaya (cost-push inflation) yang lebih sulit dikendalikan melalui kebijakan moneter.
Tekanan terhadap biaya logistik dipicu oleh konflik geopolitik di Timur Tengah.
Sejak akhir Februari 2026, setelah operasi militer Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran memicu penutupan Selat Hormuz, empat perusahaan pelayaran peti kemas terbesar dunia, yakni Maersk, MSC, CMA CGM, dan Hapag-Lloyd, menghentikan pelayaran melalui Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb.
Kapal-kapal dialihkan melalui Tanjung Harapan (Cape of Good Hope), sehingga waktu pelayaran bertambah 10 hingga 14 hari dengan tambahan jarak sekitar 3.500 hingga 4.000 mil laut untuk rute Asia-Eropa.
Perubahan rute tersebut berdampak langsung pada kenaikan biaya operasional.
Tambahan konsumsi bahan bakar diperkirakan mencapai USD1,2 juta hingga USD2,5 juta untuk setiap perjalanan pulang-pergi, tergantung ukuran kapal. (*)





