KUALA LUMPUR,REDAKSI17.COM — Penjualan minyak mentah Iran ke China tetap berlangsung meski Amerika Serikat (AS) memblokade pelabuhan Iran selama konflik dengan Israel. Jalur utama pengiriman minyak itu berada di kawasan Eastern Outer Port Limits (EOPL) di lepas pantai Malaysia, yang menjadi lokasi transfer muatan antarkapal sebelum dikirim ke China.

Dikutip dari Al Jazeera, aktivitas transfer minyak di EOPL tetap berlangsung meski blokade AS diberlakukan. Kawasan tersebut telah lama menjadi titik transit minyak Iran, Rusia, dan Venezuela yang dikenai sanksi.

Salah satu kapal yang terpantau adalah tanker Humanity. Pekan lalu, kapal itu melintasi Selat Malaka dan Selat Singapura sebelum memasuki EOPL lalu mematikan sistem identifikasi otomatis (Automatic Identification System/AIS).

Pakar keamanan maritim menilai langkah tersebut dilakukan untuk mempersiapkan transfer muatan ke kapal lain di perairan internasional. Minyak tersebut kemudian diduga dikirim ke China, yang selama ini menyerap sekitar 90% ekspor minyak mentah Iran, menurut Komisi Tinjauan Ekonomi dan Keamanan AS-China.

Direktur SeaLight di Stanford University Ray Powell mengatakan bahwa pihaknya menemukan sedikitnya 62 kapal yang menggunakan identitas palsu atau identitas kapal yang sudah tidak aktif sejak awal tahun.

Kapal-kapal itu bergerak dari Teluk Persia menuju EOPL, kemudian ke Hong Kong sebelum melanjutkan pelayaran ke China bagian utara.

Peneliti Center on Global Energy Policy Columbia University, Erica Downs, mengatakan bahwa jaringan kapal tersebut menjadi perantara penjualan minyak Iran ke kilang independen di China atau teapot refinery.

“Minyak mentah dari Iran biasanya dipindahkan beberapa kali melalui transfer antarkapal di perairan internasional sebelum tiba di China untuk menyamarkan asal muatannya,” ujar Downs.

Menurutnya, kilang independen di China lebih leluasa membeli minyak Iran berharga diskon karena tidak terlalu bergantung pada sistem keuangan AS.

Berbeda dengan perusahaan energi pelat merah seperti CNPC, Sinopec, dan CNOOC yang lebih rentan terhadap sanksi Washington.

Pakar keamanan maritim sekaligus Direktur Southeast Asia Regional Programs di Yokosuka Council on Asia-Pacific Studies (YCAPS) Charlie Brown mengatakan aktivitas di EOPL tidak banyak berubah sejak perang dimulai.

“Sebelum perang hingga sepanjang konflik berlangsung, kapal-kapal tetap berlabuh dan melakukan berbagai aktivitas, termasuk transfer muatan antarkapal,” katanya.

Luas Hampir Setara Hong Kong

EOPL memiliki luas hampir setara Hong Kong. Letaknya dekat dengan Singapura dan Malaysia sehingga memudahkan aktivitas logistik, tetapi berada di luar wilayah laut teritorial Malaysia.

Kawasan tersebut masih masuk dalam Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Malaysia. Otoritas maritim Malaysia sebelumnya mengakui wilayah itu sulit diawasi karena letaknya yang jauh dan adanya celah yurisdiksi.