Beranda / Nasional Dan Internasional / Netanyahu Sebut Pertemuan dengan Trump ‘Sangat Baik’, Bahas Langkah Lanjut Perang Iran

Netanyahu Sebut Pertemuan dengan Trump ‘Sangat Baik’, Bahas Langkah Lanjut Perang Iran

Arsip. Presiden AS Donald Trump berpose dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Bandara Internasional Ben Guiron, Tel Aviv, 13 Oktober 2025. (Sumber: Evan Vucci/Associated Press)

 

WASHINGTON,REDAKSI17.COM – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menggambarkan pertemuannya dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Gedung Putih pada Selasa (28/7/2026) lalu sebagai pertemuan yang “sangat baik”.

Pertemuan tertutup yang berlangsung hampir satu setengah jam itu menjadi diskusi tatap muka pertama kedua pemimpin sejak AS dan Israel melancarkan operasi militer bersama terhadap Iran.

Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan pembicaraan berlangsung secara positif dan produktif.

Beberapa jam setelah pertemuan berakhir, Trump juga menyebutnya sebagai “pertemuan yang sangat baik” melalui unggahan di media sosial, seraya mengatakan banyak isu penting dibahas tanpa merinci lebih lanjut.

Pertemuan tersebut berlangsung ketika kedua pemimpin sama-sama menghadapi tekanan politik di dalam negeri.

Trump didesak mengakhiri perang yang memicu gejolak ekonomi dan kenaikan harga menjelang pemilu sela (midterm elections) pada November.

Sementara itu, Netanyahu menghadapi pemilu di Israel di tengah sorotan terhadap hubungannya yang sempat memburuk dengan Trump.

Beberapa jam setelah pertemuan tersebut, situasi keamanan di kawasan kembali memanas.

Militer AS menyatakan Iran meluncurkan sejumlah rudal balistik yang menargetkan pasukan AS di Timur Tengah, namun seluruh rudal berhasil dicegat oleh sistem pertahanan Amerika.

Dilansir dari Associated Press, seorang pejabat Israel yang mengetahui jalannya pertemuan mengatakan Netanyahu menegaskan kepada Trump dan para anggota kabinetnya bahwa Israel akan membalas jika Iran menyerang wilayahnya.

Namun, terkait langkah berikutnya, Israel akan mempercayakan penilaian kepada Presiden AS.

Dalam unggahan di Instagram setelah pertemuan, Netanyahu menyebut pembicaraan berlangsung dengan “kemitraan penuh”, “saling mendukung”.

“Ketika saya mengatakan luar biasa, saya tidak bermaksud secara dangkal,” tulis Netanyahu dalam bahasa Ibrani.

“Sebuah percakapan dengan kemitraan penuh, dengan dukungan timbal balik, dengan pemahaman tentang tujuan bersama untuk memastikan bahwa Iran tidak memiliki senjata nuklir, dan tujuan-tujuan lainnya juga.”

Meski pertemuan berakhir dengan pernyataan positif dari kedua pihak, Trump sebelumnya sempat mengungkapkan kekesalannya terhadap laporan yang menyebut Netanyahu berencana membahas data intelijen mengenai aktivitas Iran di situs Pickaxe Mountain, lokasi yang diduga terkait program nuklir Teheran.

Dalam wawancara dengan Fox News, Trump mengatakan dirinya telah mengetahui perkembangan di Pickaxe Mountain dan menilai situasi di lokasi tersebut “bukan masalah besar”.

Ia juga mempertanyakan alasan informasi tersebut disampaikan kepada publik.

Menanggapi hal itu, pejabat Israel mengatakan negaranya akan terus berbagi informasi intelijen dengan AS.

Namun, Israel juga memahami bahwa Washington memiliki pertimbangan strategis sendiri, termasuk memperhitungkan dampaknya terhadap negara-negara sekutu di kawasan apabila konflik meningkat.

Perbedaan pendekatan tersebut terlihat dari kebijakan kedua pemimpin dalam menyikapi perang Iran.

Trump berupaya mencapai kesepakatan dengan Teheran, sedangkan Netanyahu sebelumnya menyatakan ingin melanjutkan operasi militer terhadap Iran dan kelompok Hizbullah di Lebanon.

Analis politik sekaligus jurnalis Israel, Amit Segal, menilai AS kini menjadi pihak yang menentukan arah perang.

“Jelas bagi semua orang bahwa Israel telah dipinggirkan (dalam mengambil keputusan),” tulis Segal di surat kabar Israel Hayom.

Netanyahu sendiri mengakui besarnya peran Trump dalam menentukan langkah berikutnya.

Dalam wawancaranya juga dengan Fox News, ia mengatakan keputusan mengenai arah konflik berada di tangan Presiden AS.

Menurut Netanyahu, penyelesaian tanpa kembali ke pertempuran berskala besar merupakan pilihan yang dapat diterima selama program nuklir Iran dapat diakhiri.

Selain Iran, kedua pemimpin juga membahas perkembangan di Gaza dan Lebanon.

Dalam pertemuan tersebut, Netanyahu berupaya meyakinkan Trump bahwa Israel tidak akan menghambat upaya diplomasi maupun rekonstruksi yang didorong AS di kedua wilayah tersebut.

 

Di Lebanon, Israel menyetujui pelaksanaan “program percontohan” yang memungkinkan tentara Lebanon ditempatkan di sejumlah desa di wilayah selatan untuk menguji kemampuan mereka menjaga keamanan di area yang sebelumnya menjadi basis Hizbullah.

Departemen Luar Negeri AS menyatakan putaran pembahasan berikutnya mengenai perluasan program tersebut dijadwalkan berlangsung pekan depan di Roma.

Sementara itu, kabinet keamanan Israel pada Minggu lalu menyetujui langkah yang secara prinsip membuka jalan bagi masuknya anggota pertama pasukan stabilisasi internasional sebagaimana diatur dalam kesepakatan gencatan senjata yang didukung AS.

Meski demikian, setiap pengerahan pasukan tetap harus mendapat persetujuan Israel, dan untuk tahap awal mereka hanya akan ditempatkan di sebagian kecil wilayah Rafah, Gaza selatan.

Pasukan tersebut antara lain berasal dari Maroko dan Uganda.

Pertemuan Trump dan Netanyahu juga berlangsung di tengah menurunnya dukungan publik Amerika terhadap Israel.

Jajak pendapat AP-NORC yang dirilis bulan ini menunjukkan dukungan warga dewasa di AS terhadap Israel mengalami penurunan signifikan, terutama terkait perang di Gaza.

Di luar kompleks Gedung Putih, sekelompok pengunjuk rasa menggelar aksi menolak kedatangan Netanyahu.

Mereka meneriakkan slogan seperti “Netanyahu, you’re a tyrant” dan “Bibi, you’re not welcome here”, merujuk pada nama panggilan Perdana Menteri Israel tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *