Beranda / Daerah / Menjembatani Kesenjangan Pengetahuan dan Perilaku: Analisis Strategis Aktivitas Fisik dan GERMAS di Kulon Progo

Menjembatani Kesenjangan Pengetahuan dan Perilaku: Analisis Strategis Aktivitas Fisik dan GERMAS di Kulon Progo

 

Oleh: Tim Survei Diskes Kulon Progo | Juli 2026 | Berdasarkan Data Survei 814 Responden

Meskipun literasi masyarakat Kulon Progo terhadap Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) telah mencapai kategori sangat baik (86,2%), tantangan riil kesehatan masyarakat bergeser pada tingkat eksekusi. Hasil survei mendalam terhadap 814 responden mengungkap adanya knowledge-practice gap serta ancaman status gizi lebih yang meluas (69,7%), menegaskan pentingnya intervensi berbasis habituation dan lingkungan kerja.

PENDAHULUAN & GAMBARAN DEMOGRAFI RESPONDEN

Aktivitas fisik merupakan pilar utama preventif dalam mengendalikan risiko Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti diabetes melitus, hipertensi, dan penyakit jantung. Guna mengevaluasi efektivitas kampanye kesehatan dan memahami pola perilaku masyarakat, Tim Survei Diskes Kulon Progo menggelar survei komprehensif pada Juli 2026.

Pengumpulan data berbasis media digital ini berhasil menghimpun 814 responden. Berdasarkan analisis karakteristik demografi, mayoritas responden adalah perempuan (70,1%), didominasi oleh kelompok usia produktif dan pra-lansia (35–54 tahun sebesar 60,6%), serta berstatus sebagai ASN/TNI/Polri (64,7%).

PROFIL STATUS GIZI: ALARM BAGI KESEHATAN MASYARAKAT

Salah satu temuan paling krusial dalam survei ini adalah gambaran status gizi responden yang dihitung berdasarkan Indeks Massa Tubuh (IMT) standar Asia-Pasifik WHO.

Kategori IMT Rentang IMT (kg/m²) Frekuensi (n) Persentase (%)
Kurus (Underweight) < 18.5 34 4.2%
Normal 18.5 – 22.9 213 26.2%
Overweight (Beban Lebih) 23.0 – 24.9 170 20.9%
Obesitas I 25.0 – 29.9 296 36.4%
Obesitas II ≥ 30.0 101 12.4%

Catatan Kritis Status Gizi: Sebanyak 69,7% responden mengalami status gizi lebih (gabungan Overweight, Obesitas I, dan Obesitas II). Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan data historis regional dan menempatkan masyarakat pada risiko tinggi PTM jika tidak diimbangi dengan rutinitas aktivitas fisik dan pola makan seimbang.

PERILAKU AKTIVITAS FISIK, MOTIVASI, DAN KENDALA UTAMA

Dari total responden, sebanyak 51,7% tergolong Aktif (melakukan aktivitas fisik ≥ 3 kali/minggu), sedangkan 48,3% tergolong Kurang Aktif (< 3 kali/minggu). Waktu olahraga terfavorit adalah pagi hari (49,8%) dengan lokasi utama di sekitar rumah/lingkungan pemukiman (55,0%).

Faktor Pendorong & Motivasi Utama

  • Keinginan untuk Sehat/Bugar: 92,1% (Alasan utama) dan 78,6% (Alasan terkuat).
  • Menurunkan Berat Badan: 38,3% (Menjadi pendorong kuat sejalan dengan tingginya prevalensi obesitas).
  • Mengurangi Stres: 37,1%.
  • Pemicu Semangat: Memiliki target pribadi terukur (59,2%) dan kondisi mood yang baik (54,9%).

Faktor Penghambat & Konsistensi

Kesenjangan antara niat dan tindakan (intention-action gap) terlihat sangat nyata. Sebanyak 79,8% responden mengaku ‘kadang-kadang’ atau ‘sering’ gagal menjaga rutinitas olahraga. Hambatan dominan meliputi:

  • Keterbatasan Waktu / Kesibukan Kerja (45,6%)
  • Kelelahan Fisik Pasca Kerja (40,7%)
  • Rasa Malas & Kurang Motivasi (34,4%)
  • Perubahan Jadwal Mendadak (47,4%)

Uniknya, sebanyak 63,4% responden merasa menyesal saat batal berolahraga, mengindikasikan bahwa motivasi dasar dan kesadaran kesehatan sebenarnya sudah terbentuk.

ANALISIS LITERASI GERMAS & PENGUJIAN HIPOTESIS

Tingkat pengetahuan masyarakat mengenai program GERMAS tergolong sangat unggul, di mana 86,2% responden masuk dalam kategori Baik (rata-rata skor 6,33 dari 7). Celah pengetahuan minor hanya ditemukan pada materi pemeriksaan kesehatan berkala, di mana 35% responden belum memahami bahwa hal tersebut merupakan bagian integral GERMAS.

 

Pengujian Bivariat (Hubungan) Uji Statistik Nilai p-value Kesimpulan Statistik
Pengetahuan GERMAS vs Aktivitas Fisik Chi-Square (x²) p = 0.569 Tidak Signifikan (Knowledge-Practice Gap)
Sikap terhadap Aktivitas Fisik vs Aktivitas Fisik Chi-Square (x²) p = 0.003 Signifikan (H12 Diterima)
Status Gizi (IMT) vs Aktivitas Fisik Chi-Square (x²) p = 0.051 Tidak Signifikan (Mendekati batas 0.05)
Jenis Kelamin vs Aktivitas Fisik Chi-Square (x²) p < 0.001 Sangat Signifikan
Kelompok Usia vs Aktivitas Fisik Chi-Square (x²) p < 0.001 Sangat Signifikan

Analisis Multivariat (Regresi Logistik Biner): Menunjukkan bahwa variabel yang paling dominan memengaruhi kebiasaan aktivitas fisik secara berurutan adalah Jenis Kelamin, Sikap terhadap Aktivitas Fisik, dan Kelompok Usia. Sementara Pengetahuan GERMAS, Pekerjaan, Domisili, dan IMT tidak menjadi faktor dominan langsung. Kelompok usia produktif (25–44 tahun) tercatat memiliki peluang aktif lebih rendah dibandingkan usia muda atau pra-lansia akibat hambatan pekerjaan.

REKOMENDASI STRATEGIS DINAS KESEHATAN

  • Reformasi Strategi: Pergeseran dari Edukasi ke Pembentukan Kebiasaan (Habit Formation)

Mengingat tingkat pengetahuan sudah sangat baik (86,2%), anggaran dan fokus program tidak lagi dihabiskan untuk sosialisasi teori GERMAS, melainkan penyediaan sarana dan fasilitasi pembentukan kebiasaan.

  • Program “Kebugaran Tempat Kerja” (Workplace Wellness)

Menyasar kelompok mayoritas ASN/TNI/Polri dan pekerja swasta yang terkendala waktu: penerapan peregangan mandiri di meja kerja, gerakan Jumat Sehat, tantangan langkah harian (10.000 Steps Challenge) antar-instansi, dan fleksibilitas jam olahraga internal.

  • Intervensi Terintegrasi Promosi Kesehatan & Gizi Seimbang

Menjawab tingginya prevalensi obesitas (69,7%), program promosi fisik harus dipadukan secara langsung dengan konseling gizi, pengaturan porsi makan (Isi Piringku), dan pemantauan IMT berkala di Puskesmas maupun tempat kerja.

  • Penguatan Edukasi Deteksi Dini PTM

Mengatasi celah informasi pada materi pemeriksaan kesehatan berkala melalui kampanye khusus pentingnya cek tekanan darah, gula darah, dan kolesterol secara rutin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *