Sleman,REDAKSI17.COM – Kemajuan teknologi kedokteran tidak boleh menggeser nilai-nilai kemanusiaan dalam pelayanan pasien. Pesan tersebut menjadi benang merah pembukaan Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) XXI Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI) yang digelar di Yogyakarta Marriott Hotel, Kamis (6/8). Forum ilmiah yang berlangsung pada 6–9 Agustus 2026 itu diikuti lebih dari 2.500 dokter spesialis, peneliti, akademisi, tenaga kesehatan, dan mitra industri dari berbagai daerah di Indonesia.
Suasana pembukaan PIT XXI PERDOSKI berlangsung semarak dan penuh antusiasme. Lebih dari 2.500 peserta memenuhi ruang konvensi Yogyakarta Marriott Hotel untuk mengikuti simposium, lokakarya, pertemuan kelompok studi, serta berbagai diskusi ilmiah yang membahas perkembangan terkini di bidang dermatologi, venereologi, dan estetika. Selama empat hari, forum ini menjadi ruang bertukar gagasan, memperkuat jejaring kolaborasi, sekaligus mendorong penerapan hasil riset ke dalam praktik klinis demi meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di Indonesia.
Mewakili Gubernur DIY, Asisten Sekretariat Daerah DIY Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Aria Nugrahadi, menyampaikan bahwa kemajuan ilmu dermatologi harus selalu menempatkan manusia sebagai pusat pelayanan. Menurutnya, penyakit kulit tidak hanya berkaitan dengan kondisi medis, tetapi juga menyentuh aspek psikologis, sosial, hingga harga diri seseorang.
“Keberhasilan pelayanan bukan hanya ketika kondisi klinis pasien membaik, tetapi juga saat pasien kembali percaya diri, dapat menjalani kehidupan sosial tanpa diskriminasi, serta memperoleh perlakuan yang menghormati martabatnya,” ujar Aria saat membacakan sambutan Gubernur DIY.
Aria mengatakan tema “Bridging the Gaps: From Innovation and Research to Application and Practice in Dermatology, Venereology, and Aesthetics” mencerminkan tantangan besar dunia kedokteran saat ini. Kesenjangan yang perlu dijembatani bukan hanya antara hasil penelitian dan praktik klinis, tetapi juga antara kemajuan ilmu pengetahuan dengan akses masyarakat terhadap layanan kesehatan yang berkualitas.
Menurutnya, perkembangan artificial intelligence (AI), teledermatology, pencitraan digital, genomik, terapi biologis, hingga kedokteran presisi membuka peluang besar dalam meningkatkan akurasi diagnosis dan efektivitas terapi. Namun, pemanfaatan teknologi tersebut harus diimbangi dengan validasi ilmiah, keberagaman data, perlindungan privasi pasien, transparansi, serta pengawasan profesional.
“Teknologi dapat mempercepat diagnosis, tetapi tanggung jawab moral tetap berada di tangan dokter. Inovasi harus selalu berjalan seiring dengan etika dan kemanusiaan,” tegasnya.
Ia menambahkan, Indonesia sebagai negara yang memiliki wilayah luas dan beragam membutuhkan inovasi yang mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Hasil penelitian harus dapat diterjemahkan menjadi pelayanan yang dapat diakses masyarakat, baik di perkotaan maupun di daerah yang masih terbatas dokter spesialis.
“Riset harus bergerak menjadi praktik. Praktik harus berkembang menjadi akses. Akses harus bermuara pada keadilan,” lanjut Aria.
Sementara itu, Ketua Umum PERDOSKI, Hanny Nilasari, mengatakan PIT XXI PERDOSKI merupakan momentum penting untuk memperkuat kompetensi, memperluas jejaring, sekaligus mempererat solidaritas dokter spesialis dermatologi, venereologi, dan estetika di Indonesia.
“Forum ini kami harapkan tidak hanya menjadi ajang akademik, tetapi juga menjadi jembatan kolaborasi yang memperkuat kontribusi PERDOSKI dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan bagi masyarakat Indonesia,” kata Hanny.
Ketua Panitia PIT XXI PERDOSKI, Arum Krismi, menjelaskan bahwa perkembangan bioteknologi, terapi stem cell, personalisasi perawatan kulit, digital health, hingga AI telah membawa perubahan besar dalam dunia dermatologi selama satu dekade terakhir. Tantangan berikutnya adalah memastikan seluruh hasil riset tersebut dapat diimplementasikan secara nyata dalam praktik klinis berbasis evidence-based medicine.
Arum menyatakan melalui simposium, lokakarya, pertemuan kelompok studi, serta berbagai forum ilmiah yang digelar selama empat hari, para peserta diharapkan dapat berbagi pengalaman, mendiskusikan hasil penelitian terbaru, sekaligus merumuskan strategi untuk mempercepat penerapan inovasi dalam pelayanan dermatologi, venereologi, dan estetika yang lebih berkualitas.
Penyelenggaraan PIT XXI PERDOSKI di Yogyakarta kembali menegaskan peran DIY sebagai kota pendidikan dan ruang bertemunya para ilmuwan, praktisi, serta pemangku kepentingan untuk melahirkan inovasi yang berdampak bagi masyarakat. Pemda DIY berharap forum ini tidak berhenti pada pertukaran gagasan, tetapi menjadi titik lahirnya kolaborasi, riset terapan, dan terobosan pelayanan yang mampu memperluas akses kesehatan kulit di seluruh Indonesia. Dengan demikian, setiap kemajuan ilmu dermatologi tidak hanya menghasilkan teknologi yang semakin canggih, tetapi juga menghadirkan pelayanan yang lebih adil, inklusif, dan memuliakan martabat setiap pasien.
Humas Pemda DIY





