WASHINGTON,REDAKSI17.COM — Presiden AS Donald Trump mengeluhkan pengungkapan tentang menipisnya cadangan amunisi AS yang membuat Amerika Serikat tampak lemah pada saat yang krusial perang melawan Iran. Demikian menurut para pejabat senior AS seperti dilansir CNN.
Topik kekurangan amunisi ini menjadi sorotan utama dalam rapat kabinet pekan lalu di Camp David, saat Trump—yang merasa frustrasi—menyinggung pemberitaan media mengenai minimnya stok peluru tersebut. Pembahasan itu telah dikonfirmasi oleh enam sumber yang mengetahui jalannya rapat tersebut.
Banyak dari sumber tersebut menyatakan bahwa Trump sebenarnya sudah lama mengetahui potensi masalah terkait amunisi itu dan tidak terkejut oleh laporan-laporan tersebut.
Namun, mereka menyebutkan, bahwa Trump marah karena informasi itu terungkap pada titik penting konflik dan terus menjadi isu yang semakin ramai dibicarakan publi.
Padahal AS ingin menampilkan citra kekuatan hebatnya di tengah perundingan dengan Iran. “AS memiliki persediaan ‘amunisi’ dalam jumlah sangat besar, terutama untuk jenis-jenis tertentu,” tulis Trump di Truth Social tak lama setelah tengah malam pada hari Kamis.
“Selain itu, jumlah besar sedang diproduksi dan dikirim ke AS sesuai kebutuhan. Perusahaan-perusahaan pertahanan sedang membangun jumlah pabrik dan fasilitas produksi terbanyak dalam sejarah negara kita.”
Meski demikian, Trump tampaknya mengakui bahwa setidaknya sebagian informasi yang beredar mengenai persediaan tersebut memang akurat. Pasokan amunisi AS yang supercanggih lebih terbatas.
Ia menyatakan bahwa pemerintahannya akan mempidanakan pembocor kekurangan amunisi itu dengan penjara yang cukup lama.
“Sejauh ini, kemarahan presiden tidak ditujukan secara khusus kepada Menteri Pertahanan Pete Hegseth,” demikian ditegaskan oleh para pejabat Gedung Putih.
Dalam unggahan lain di Truth Social pada Kamis, Trump mengatakan bahwa ia sangat puas dengan kinerja Pete Hegseth.
“Dia tidak pernah menyalahkan Pete. Masalah ini sepenuhnya mengenai pihak yang membocorkan informasi,” ujar seorang pejabat.
Menurut para pejabat, Trump telah menugaskan Departemen Kehakiman untuk melacak individu-individu di dalam pemerintahannya—yang ia sebut sebagai pengkhianat.
Kemarahannya memuncak dalam beberapa pekan terakhir setelah sejumlah pemberitaan menyebutkan bahwa persediaan amunisi militer AS sedang menipis.
CNN melaporkan pekan ini bahwa militer telah menghabiskan hampir empat perlima dari inventaris rudal THAAD-nya dibandingkan dengan jumlah sebelum perang.
Center for Strategic and International Studies memperkirakan Amerika Serikat memiliki sekitar 2.200 rudal Patriot (dari dua varian paling modern sistem tersebut) dan 452 rudal THAAD dalam persediaannya sebelum konflik dengan Iran dimulai.
Angka-angka tersebut tidak hanya mengkhawatirkan para pejabat Amerika, tetapi juga para pemimpin di kawasan Teluk, yang telah menyuarakan kekhawatiran baru mengenai bagaimana kekurangan sistem pertahanan udara dapat memengaruhi kemampuan mereka dalam menangkal potensi serangan balasan Iran.
Apalagi jika Trump terus memutuskan untuk meningkatkan eskalasi konflik yang sedang berlangsung. Selama ini, beberapa negara di Teluk bergantung pada sistem pertahanan udara AS.
“Para pemimpin Teluk mengakui bahwa kekurangan persediaan dapat menghambat kemampuan mereka sendiri untuk mencegat serangan rudal dan pesawat nirawak (drone) Iran yang masuk,” demikian menurut keterangan sejumlah pejabat.
Iran telah menyampaikan kepada negara-negara Teluk bahwa serangan baru dari Amerika akan berujung pada operasi balasan terhadap fasilitas energi atau fasilitas desalinasi di seluruh kawasan. Demikian menurut seorang pejabat regional yang mengetahui pembicaraan tersebut.
Trump telah berbicara dengan para pemimpin Qatar dan Arab Saudi mengenai konflik ini selama sepekan terakhir.
Membatalkan serangan
Masalah persediaan senjata ini kembali mencuat sebelum keputusan presiden akhir pekan lalu untuk membatalkan serangan baru terhadap Iran.
Peristiwa ini menandai setidaknya kali kedua dalam beberapa pekan terakhir di mana penasihat militer senior Trump secara khusus menyuarakan kekhawatiran mengenai menipisnya jumlah amunisi utama AS dalam diskusi tentang potensi eskalasi konflik dengan Iran.
Pertanyaan mengenai persediaan amunisi sejatinya sudah muncul sejak awal konflik. Dalam rapat-rapat saat itu, Trump membahas masalah ini dengan Hegseth setelah berbagai media memberitakan kekhawatiran tersebut.
Kala itu, Hegseth meyakinkan presiden bahwa Pentagon sedang berupaya mengatasi masalah itu.
Bahkan sebelum konflik dimulai, Ketua Kepala Staf Gabungan (Joint Chiefs of Staff) Jenderal Dan Caine dan para pemimpin militer lainnya telah memperingatkan Trump bahwa kampanye militer yang berkepanjangan dapat berdampak pada persediaan senjata AS—terutama yang mendukung Israel dan Ukraina—demikian disampaikan sejumlah sumber yang mengetahui masalah tersebut kepada CNN sebelumnya.
Sejak saat itu, Trump menyalahkan pemerintahan sebelumnya karena membiarkan persediaan senjata menipis, termasuk akibat pengiriman senjata ke Ukraina.
“Kami punya banyak. Sejujurnya, saya ingin punya lebih banyak lagi, tetapi begitu banyak yang telah diberikan Biden kepada Ukraina,” ujar Trump kepada para wartawan di dalam pesawat Air Force One pada 27 Juli.





