Beranda / Politik / Rocky Gerung Blak-blakan Soal Londo Ireng: Kalau Diradikalkan, Ya Jokowi

Rocky Gerung Blak-blakan Soal Londo Ireng: Kalau Diradikalkan, Ya Jokowi

Rocky Gerung

JAKARTA,REDAKSI17.COM — Istilah ‘Londo Ireng’ yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto terus memantik tafsir di tengah publik.

Pengamat politik Rocky Gerung bahkan menarik istilah tersebut ke dalam pertarungan politik yang melibatkan Presiden ke-7 RI, Jokowi, dan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.

Rocky mengatakan, istilah ‘Londo Ireng’ bukan sekadar merujuk pada pengkhianat di masa lalu.

Baginya, istilah tersebut juga bisa ditarik pada kondisi politik Indonesia saat ini.

Ia bahkan secara terang-terangan menyebut nama Jokowi ketika mencoba menjawab siapa sosok yang dapat disebut sebagai ‘Londo Ireng’ dalam konteks politik kekinian.

Rocky mengatakan pernyataan Prabowo mengenai ‘Londo Ireng’ membuat publik memiliki tafsir yang beragam.

Sebagian masyarakat, kata dia, mungkin merasa istilah tersebut tidak ditujukan kepada mereka.

Namun, sebagian lainnya dapat mengaitkannya dengan sosok tertentu dalam dinamika politik nasional.

“Misalnya peristiwa Londo Ireng. Itu diingat orang lagi bahwa, oh ya kami tahu bahwa ada pengkhianat di masa lalu itu,” ujar Rocky, dikutip fajar.co.id, Selasa (11/8/2026).

“Dan hari-hari ini juga ada pengkhianat. Jadi kalau Presiden bilang londo ireng, publik terbagi dua,” tambahnya.

Lanjut Rocky, istilah tersebut kemudian menjadi menarik karena publik dapat menghubungkannya dengan berbagai persoalan politik yang terjadi saat ini.

Rocky kemudian mengembangkan tafsir tersebut dengan menyebut Jokowi sebagai salah satu sosok yang bisa dikaitkan dengan istilah “Londo Ireng”.

Ia mengaitkan hal tersebut dengan dugaan pengkhianatan terhadap konstitusi.

“Dia merasa dia tidak dituduh, tapi ada yang merasa dia dituduh itu. Tapi bagi publik umum merasa, ya memang ada pengkhianat kok,” Rocky menuturkan.

“Siapa yang londok ireng? Misalnya kalau kita radikalkan, ya Jokowi. Mengkhianati apa? Menghianati konstitusi,” tegasnya.

Rocky juga membawa nama Megawati dalam pembahasannya. Ia menyebut adanya persoalan politik masa lalu yang membuat istilah pengkhianatan memiliki konteks tersendiri bagi Megawati.

“Siapa yang mesti ucapkan itu? Publik. Siapa yang paling dendam dengan isu itu? Megawati,” terangnya.

Rocky kemudian mengembangkan analisisnya dengan kemungkinan bahwa istilah ‘Londo Ireng’ dapat dibaca dalam relasi politik antara Megawati dan Jokowi.

“Ya karena pengkhianatan tadi, meskipun menggawati ini loh, jadi Londo Ireng terhadap Megawati misalnya,” imbuhnya.

Tidak berhenti di situ, Rocky melihat posisi Prabowo dalam dinamika politik tersebut.

Menurutnya, Prabowo tidak semestinya menjadi pihak yang secara langsung membawa kepentingan politik Megawati.

Namun, ia dapat berperan sebagai artikulator dalam dinamika politik yang lebih luas.

“Dan Prabowo menjadi artikulatornya Megawati. Prabowo bukan jadi akurator, dia mesti memoderasi isu itu. Sebelum ada proses politik di DPR,” jelas Rocky.

Ia berujar, publik perlu membaca pernyataan Prabowo secara lebih luas dan tidak berhenti pada ucapan literal mengenai ‘Londo Ireng’.

“Kan nggak mungkin Presiden jadi artikulator Megawati. Tapi Presiden mengerti Ibu Mega punya potensi untuk mengartikulasikan itu di dalam sistem demokrasi melalui upaya-upaya pemakzulan,” jelasnya.

Rocky: Jangan Menganalisis Melebihi Ucapan Prabowo

Rocky juga mengingatkan bahwa publik selama ini cenderung menahan diri untuk menarik kesimpulan lebih jauh dari pernyataan Prabowo.

“Orang menahan diri untuk menganalisnya melebihi dari apa yang diucapkan oleh Prabowo,” tandasnya.

Kata dia, isu tersebut justru menarik untuk diperluas dengan mempertanyakan siapa sebenarnya sosok yang dimaksud melalui istilah ‘Londo Ireng’.

“Nah sekarang kita perluas. Who is the thing. Called Londo Ireng. Itu jawabnya. Siapakah barang itu, yang disebut sebagai Londo Ireng,” kuncinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *