DANUREJAN,REDAKSI17.COM – Keterbatasan lahan di kawasan perkotaan yang padat penduduk bukan menjadi penghalang untuk bercocok tanam. Melalui konsep urban farming, lahan sempit di sekitar rumah dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pangan sekaligus berpotensi memberikan tambahan penghasilan bagi masyarakat.
Salah satu contohnya yang telah dilakukan Daliman, warga Gemblakan, Kelurahan Danurejan, Kota Yogyakarta. Di lahan rumahnya yang terbatas, Daliman memanfaatkan galon bekas sebagai media tanam untuk berbagai jenis sayuran dan tanaman pangan. Bahkan, hari ini, Senin (24/8), Daliman bersama Wakil Wali Kota Yogyakarta Wawan Harmawan memanen bawang merah hasil budidayanya.
Wakil Wali Kota Yogyakarta Wawan Harmawan mengatakan, apa yang dilakukan Daliman dapat menjadi contoh bahwa kegiatan bercocok tanam tetap dapat dilakukan meskipun masyarakat tidak memiliki lahan yang luas.
“Konsepnya urban farming. Menanam di galon-galon bekas, hasilnya juga tidak kalah. Ini bisa menjadi percontohan bagi warga setempat untuk menanam bawang merah di tempat-tempat lain,” jelas Wawan.

Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan usai memanen bawang merah di rumah Daliman warga Gemblakan.

Menurutnya, metode tersebut dapat menjadi salah satu solusi untuk mendukung ketahanan pangan di kawasan perkotaan. Selain bawang merah, masyarakat juga dapat menanam cabai, tomat, sawi maupun terong dengan memanfaatkan ruang yang tersedia di sekitar rumah.
“Ini menginspirasi warga untuk ketahanan pangan. Cabai kita tanam sendiri, bawang merah kita tanam sendiri. Bisa jadi solusi untuk perkotaan yang sempit. Urban farming di kota bisa berjalan walaupun tidak memiliki lahan yang besar,” jelasnya.
Wawan menambahkan, apa yang dilakukan Daliman menunjukkan bahwa keterbatasan lahan bukan alasan untuk berhenti berupaya mewujudkan ketahanan pangan di perkotaan. Dengan kreativitas dan pemanfaatan barang bekas seperti galon, ruang sempit di rumah pun dapat menjadi lahan produktif.
“Yang penting niat dan mendapatkan cahaya matahari yang cukup. Lahan sempit sekalipun bisa menjadi tempat bercocok tanam,” imbuhnya.
Sementara itu, Warga Gemblakan, Daliman menjelaskan, untuk menanam bawang merah diperlukan media tanam yang gembur agar pertumbuhan umbi dapat berlangsung optimal. Ia menggunakan campuran tanah dan sekam, kemudian melakukan penyiraman secara rutin satu kali sehari.
“Tanaman bawang merah membutuhkan tanah yang gembur, tidak keras, supaya umbinya cepat tumbuh. Penyiraman rutin, intinya sehari satu kali,” katanya.

Selain bawang merah, Daliman juga menanam tomat, terong, cabai di halaman rumahnya yang berada di lantai 2.

Bawang merah juga memiliki masa panen yang relatif singkat, yakni sekitar dua bulan. Menariknya, Daliman menerapkan pola tanam bertahap dengan menyusulkan tanaman cabai setelah bawang merah berusia satu bulan. Dengan demikian, saat bawang merah dipanen pada usia sekitar dua bulan, tanaman cabai masih dapat terus tumbuh dan dipanen berikutnya.
“Setelah satu bulan bawang merah, disusul cabai. Jadi ketika bawang merah di panen, cabainya sudah ada dan tinggal menunggu panen. Lebih hemat, lebih praktis, dan lebih menguntungkan,” ungkapnya.
Dari sekitar setengah kilogram bibit brambang yang ditanam, Daliman dapat mengembangkannya menjadi sekitar 50 galon media tanam. Hasil panen kali ini pun rencananya tidak seluruhnya dikonsumsi, tetapi sebagian akan disimpan sebagai bibit untuk penanaman berikutnya.
Selain brambang dan cabai, kebun milik Daliman juga ditanami terong, timun dan tomat ceri. Ia memilih jenis tanaman yang sesuai dengan kondisi lahan dan lingkungan perkotaan. Ia juga memelihara ayam dan memanfaatkan kotorannya sebagai bahan untuk media tanam sehingga dapat menghemat penggunaan pupuk.
Daliman berharap masyarakat yang memiliki ruang kosong di rumah dapat memanfaatkannya untuk bercocok tanam. Menurutnya, selain membantu memenuhi kebutuhan pangan keluarga, kegiatan tersebut juga dapat menjadi peluang untuk memperoleh penghasilan.
“Kalau ada tempat yang kosong bisa digunakan untuk bercocok tanam. Tentunya tanaman yang bisa mendatangkan rezeki. Kalau kita menanam, ada penghasilan, ada hasilnya,” katanya.
Ia juga membuka kesempatan bagi masyarakat yang ingin belajar mengenai budidaya tanaman di lahan sempit untuk datang dan belajar langsung. Menurutnya, siapa pun dapat mencoba selama memiliki kemauan, mendapatkan cukup cahaya matahari, serta memahami teknik dasar penanaman.