Gondokusuman,REDAKSI17.COM — Sekitar 200 foto arsip Kota Yogyakarta dari rentang tahun 1954 hingga 1990-an membawa pengunjung menelusuri kembali wajah kota dari masa ke masa. Foto-foto yang merekam perjalanan pembangunan tersebut menjadi salah satu bagian dari Festival Literasi dan Arsip Kota Yogyakarta 2026 yang mengajak masyarakat tidak hanya membaca, tetapi juga mengenali, merawat, dan memanfaatkan pengetahuan dari jejak masa lalu.
Festival bertema “Otentik Arsipnya, Konkret Literasinya, Maju Kotanya” itu dibuka di Perpustakaan Kota Yogyakarta, Senin (14/9/2026). Kegiatan berlangsung selama tiga hari, 14-16 September 2026, pukul 08.00-17.00 WIB, dan menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Kunjung Perpustakaan sekaligus HUT ke-270 Kota Yogyakarta.
Mengusung semangat “Perpustakaan untuk Semua: Menjelajah Pengetahuan, Mewujudkan Masa Depan”, festival dirancang untuk menghadirkan perpustakaan sebagai ruang publik yang inklusif, dinamis, dan menyenangkan. Masyarakat tidak hanya diajak membaca, tetapi juga belajar, berdiskusi, berkarya, dan mengeksplorasi berbagai bentuk pengetahuan.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Yogyakarta, Afia Rosdiana, mengatakan festival menjadi upaya untuk memperkuat gerakan literasi sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya arsip. Menurutnya, literasi dan arsip memiliki hubungan erat karena literasi membantu masyarakat memahami dan memanfaatkan informasi, sementara arsip menyimpan rekam jejak yang dapat menjadi sumber pengetahuan dan memori kolektif.
Afia menjelaskan pameran arsip menghadirkan sekitar 200 foto yang bersumber dari arsip statis. Dokumentasi tersebut memperlihatkan perkembangan sejumlah kawasan Kota Yogyakarta sejak sekitar tahun 1954 hingga 1990-an.
“Untuk generasi muda, itu bisa menunjukkan bahwa yang namanya pembangunan itu berjalan. Tahun ’56 di Malioboro ada apa, kemudian tahun ’70 ada apa, sekarang bisa dilihat Malioboro banyak sekali perubahannya,” jelas Afia.
Menurutnya, arsip dapat membantu generasi muda melihat bahwa pembangunan kota merupakan proses yang terus berjalan. Perubahan kawasan yang terekam dalam foto menjadi bukti perjalanan Kota Yogyakarta dari waktu ke waktu.

Selain mengenalkan arsip, festival juga menghadirkan berbagai kegiatan yang dekat dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan zaman. Pada hari pertama, Senin (14/9/2026), kegiatan diisi dengan pembukaan, Parade Dongeng, serta talkshow bertema “Teacher Librarian: Menghidupkan Perpustakaan, Menguatkan Pembelajaran, Membangun Generasi Literat.”
Masyarakat juga dapat mengikuti Puskot Cinema serta workshop “Menjadi Content Creator Kreatif, Inspiratif, dan Bertanggung Jawab.” Sementara itu, pameran arsip “Jogja Masa Lalu”, Pameran Lapak Literasi, dan Pameran Buku dapat dinikmati sepanjang pelaksanaan festival.
Memasuki hari kedua, Selasa (15/9/2026), kegiatan menghadirkan diskusi buku “Literasi di Era Kecerdasan Buatan”. Parade Dongeng dan Puskot Cinema kembali digelar, dilengkapi workshop public speaking “Voice Your Future: Public Speaking untuk Generasi Berprestasi” yang ditujukan bagi pelajar SMA/SMK/MA di Kota Yogyakarta.
Pada hari terakhir, Rabu (16/9/2026), rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan Parade Dongeng, Podcast Duta Baca Pelajar bertema “Generasi Digital, Generasi Literat: Mengapa Pelajar Harus Berkunjung ke Perpustakaan?”, Jagongan Gantari, Puskot Cinema, Kalista, serta penutupan festival.
Rangkaian tersebut melengkapi kegiatan lain yakni kelas literasi, pameran lapak literasi, pameran buku, serta podcast arsip dan literasi.

Pameran tersebut juga menarik perhatian Bunda Literasi Kota Yogyakarta, Siti Hapsah. Salah satu yang berkesan baginya adalah foto kawasan Kotabaru yang memperlihatkan sebuah ruas jalan yang menurutnya masih tampak serupa dengan kondisi saat ini.
“Yang paling berkenan dengan saya, saya melihat jalan di tengah yang ada di Kotabaru. Itu ternyata dari tahun ’76, saya lihat fotonya, sampai sekarang sama sekali tidak ada perubahan,” ujarnya.
Siti menilai arsip perlu disimpan dan dikelola dengan baik karena memiliki nilai sejarah sekaligus menjadi sumber pembelajaran.
“Kearsipan itu sesuatu yang harus kita simpan baik-baik. Jangan sampai data-data, foto-foto, ataupun hasil-hasil karya yang sudah dibuat cukup lama menjadi barang yang tidak bermanfaat. Dengan mengarsipkannya dengan baik, itu akan menjadi satu kenangan yang sangat indah dan dari masa lalu kita akan banyak belajar,” katanya.
Siti Hapsah juga menyoroti tantangan menumbuhkan kegemaran membaca di tengah perkembangan teknologi digital. Ia mendorong orang tua untuk tetap menjadi teladan dengan membiasakan diri membaca sehingga anak melihat aktivitas membaca sebagai bagian dari keseharian.
“Perlu satu tantangan yang besar, perlu satu inovasi yang besar bagaimana agar anak-anak terus dapat mengunjungi perpustakaan, terus dapat mencintai membaca,” tuturnya.
Menurutnya, membaca tidak harus selalu dilakukan melalui buku fisik karena saat ini berbagai bahan bacaan juga tersedia secara digital. Namun, kebiasaan membaca tetap perlu dijaga di tengah aktivitas sehari-hari.
“Saya merasakan sendiri bahwa mengajak anak ke perpustakaan itu bukan perkara mudah. Tetapi justru karena itu, kita semua perlu bergerak bersama—orang tua, guru, pustakawan, dan masyarakat untuk menghadirkan perpustakaan sebagai tempat yang menyenangkan bagi anak-anak,” ujarnya.
Dalam pembukaan festival juga diserahkan penghargaan lomba perpustakaan sekolah kepada SD Negeri Kotagede 4, MIN 1 Yogyakarta, dan SD Negeri Baluwarti. Penghargaan tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong perpustakaan sekolah agar tidak hanya memiliki koleksi buku, tetapi juga memenuhi standar penyelenggaraan perpustakaan dan menjadi bagian penting dari proses pembelajaran.

Staf Ahli Wali Kota Yogyakarta Bidang Perekonomian dan Pembangunan, Patricia Heny Dian Anitasari, mengapresiasi penyelenggaraan festival yang menurutnya dapat menjadikan perpustakaan sebagai ruang publik yang lebih hidup.
“Tidak hanya mereka datang melihat buku, membaca, tapi ini suatu aktivitas yang benar-benar menjadi suatu ekosistem yang bagus,” katanya.
Patricia menilai perpustakaan perlu terus beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat. Kehadiran berbagai kegiatan dalam festival, mulai dari diskusi, pemutaran film, hingga kegiatan kreatif, menjadi cara untuk membuat masyarakat lebih dekat dengan perpustakaan.
“Jadi benar-benar nyata. Kita tidak di awang-awang, tapi kita memijak bumi bagaimana kearsipan, bagaimana literasi itu nanti bisa bermanfaat untuk Kota Yogyakarta,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan masyarakat dan perangkat daerah untuk menjaga dokumen serta arsip dengan baik. Menurutnya, arsip memiliki manfaat penting yang mungkin baru terasa ketika dibutuhkan pada masa mendatang.
“Dokumen-dokumen ini penting, tolong disimpan karena di kemudian hari pasti nanti itu bermanfaat untuk kita semuanya,” katanya.
Seluruh kegiatan Festival Literasi dan Arsip terbuka secara gratis bagi masyarakat Kota Yogyakarta dan sekitarnya. Namun, sejumlah kegiatan dengan kapasitas terbatas, seperti workshop content creator, workshop public speaking, diskusi buku, Puskot Cinema, dan kelas literasi, mengharuskan peserta melakukan pendaftaran terlebih dahulu melalui tautan yang diumumkan di media sosial Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Yogyakarta.
Pameran arsip sendiri dapat dinikmati masyarakat hingga akhir September 2026. Kehadirannya menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk melihat perjalanan Kota Yogyakarta melalui dokumentasi masa lalu sekaligus memahami pentingnya menjaga arsip sebagai bagian dari memori kolektif kota.


