Pemkot Yogya Jadi Tujuan Studi Tiru Daerah Lain

UMBULHARJO,REDAKSI17.COM – Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menerima kunjungan Wakil Wali Kota Pekanbaru, Markarius Anwar dan Wakil Bupati Pulang Pisau, Ahmad Jayadikarta, beserta rombongan di Ruang Yudhistira, Balai Kota Yogyakarta, Jumat (6/11). Kunjungan tersebut membahas penanganan HIV/AIDS serta tata kelola hibah yang di Kota Yogyakarta.
Dalam sambutannya, Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo menjelaskan, penanganan HIV/AIDS di Kota Yogyakarta dilakukan secara berlapis dan melibatkan berbagai pihak. Upaya tersebut bertujuan menjangkau kelompok masyarakat yang sulit mengakses pelayanan kesehatan. “Pelayanan kami berlapis-lapis. Karena tujuannya untuk menjangkau yang tidak bisa terjangkau,” jelasnya.
Sementara itu, Hasto Wardoyo juga menjelaskan terkait tata kelola hibah, Pemkot Yogyakarta mengedepankan semangat gotong royong dan kolaborasi. Salah satunya melalui kerja sama dengan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas). Meski dukungan operasional dari pemerintah kota sebesar Rp400 juta per tahun, Baznas didorong mampu menghimpun dana hingga Rp 12 miliar per tahun melalui infak dan sedekah masyarakat.
“Memang hibah kami tidak terlalu besar, tetapi gotong royongnya yang kita perbesar. Baznas kita dorong untuk setahun bisa mendapatkan Rp12 miliar dari infak dan sedekah. Jadi, uang dari kami yang Rp400 juta itu untuk operasional saja, tetapi Baznas sendiri kita bantu,” ungkapnya.
Dalam kesempatan yang sama, Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, dr. Lana Unwanah menjelaskan, bahwa salah satu tantangan penanganan HIV/AIDS adalah tingginya angka lost to follow-up, yakni pasien yang tidak melanjutkan pengobatan atau kehilangan kontak dengan pelayanan kesehatan.

Wakil Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo saat memberikan sambutan.

Kendala yang kita hadapi lebih kepada banyaknya lost to follow-up. Orang-orang dengan HIV yang berobat sebagian memang kehilangan kontak,” ujarnya.
Untuk mengatasi hal tersebut, Dinas Kesehatan memperkuat kerja sama dengan komunitas dan lembaga swadaya masyarakat guna melakukan penjangkauan kembali.
Pihaknya menambahkan, layanan tes HIV telah tersedia di 18 Puskesmas, 14 rumah sakit, dan tiga klinik. Sementara layanan pengobatan, dukungan, dan perawatan tersedia di 18 Puskesmas serta 14 rumah sakit.
Sementara itu, Kepala BPKAD Kota Yogyakarta, Raden Roro Andarini memaparkan, pengelolaan hibah di Kota Yogyakarta berpedoman pada regulasi yang berlaku. Pada perubahan tahun anggaran 2026, terdapat tiga organisasi penerima hibah, yakni Kementerian Agama Kota Yogyakarta, MUI Kota Yogyakarta, dan Baznas Kota Yogyakarta. “Untuk tahun 2026 ini, total hibah yang dikelola Bagian Kesra untuk kesejahteraan rakyat sebesar Rp1,353 miliar,” katanya.
Selanjutnya, Wakil Wali Kota Pekanbaru, Markarius Anwar menyampaikan, kunjungan tersebut bertujuan mempelajari kebijakan dan praktik penanganan HIV/AIDS di Kota Yogyakarta, termasuk peran Komisi Penanggulangan AIDS serta tata kelola Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) Puskesmas.
“Penanganan HIV/AIDS di Kota Yogyakarta sangat menginspirasi. Ternyata disini penanganannya berlapis-lapis. Selain itu, kami mendapatkan gambaran mengenai tata kelola BLUD Puskesmas karena kami mendapat informasi bahwa pengelolaan Puskesmas di Yogyakarta cukup maju dan sangat bagus,” ungkapnya.

Suasana saat diskusi bersama terkait penanganan HIV/AIDS serta tata kelola hibah yang di Kota Yogyakarta.

Adapun Wakil Bupati Pulang Pisau, Ahmad Jayadikarta berharap, kunjungan kali ini menjadi referensi mengenai pengelolaan dana hibah, khususnya untuk mendukung kegiatan sekolah minggu dan guru mengaji.
Menurutnya, keterbatasan anggaran daerah menjadi tantangan dalam mempertahankan program bantuan tersebut. “Dana hibah untuk sekolah minggu dan guru mengaji. Ini karena memang sangat diperlukan. Semoga setelah ini akan ada kebijakan efisiensi anggaran yang turut mempengaruhi kemampuan daerah dalam mengalokasikan bantuan hibah,” ungkapannya.