Yogyakarta,REDAKSI17.COM – Suasana Pagelaran Keraton Yogyakarta terasa hangat dan semarak meski hujan turun pada Sabtu (7/3) sore. Peragaan busana bertema “Buron Wana” tampil memukau dan istimewa dalam pembukaan Pameran Temporer Smarabawana: Tata Ruang Kasultanan Yogyakarta oleh Gubernur DIY sekaligus Raja Keraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X.
Peragaan busana tersebut menampilkan 12 figur Buron Wana, yaitu Gajah, Landak, Bulus, Naga, Yuyu atau kepiting sungai, Kluyu, Turonggo atau kuda, Kidang atau rusa, Merak, Macan, Celeng, dan Peksi. Penampilan ini diiringi lantunan a cappella dari Yogyakarta Royal Choir. Perpaduan kostum artistik, musik vokal yang khidmat, serta suasana klasik Pagelaran Keraton menghadirkan pengalaman budaya yang memikat bagi para tamu undangan dan masyarakat yang hadir.
Pameran Smarabawana dibuka Sri Sultan didampingi GKR Hemas, GKR Mangkubumi, GKR Condrokirono, GKR Hayu, GKR Bendara, serta KPH Notonegoro. Pembukaan pameran ini juga menjadi bagian dari rangkaian Tingalan Jumenengan Dalem ke-37 Sri Sultan Hamengku Buwono X dan GKR Hemas.
Dalam sambutannya, Sri Sultan menegaskan bahwa sejak berdirinya Kasultanan Yogyakarta pada tahun 1755, tata ruang tidak hanya dipahami sebagai persoalan geografis atau arsitektur, tetapi juga sebagai cerminan pandangan hidup masyarakat Jawa.“Tata ruang bukan sekadar planologi, tetapi kosmologi kehidupan. Di dalamnya tercermin nilai, keyakinan, dan kebijaksanaan suatu peradaban,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Sri Sultan menjelaskan konsep tata ruang Yogyakarta juga berkaitan erat dengan Sumbu Imajiner Gunung Merapi–Keraton Yogyakarta–Laut Selatan yang dikenal sebagai filosofi Sangkan Paraning Dumadi. Sumbu ini bukan sekadar garis geografis, melainkan simbol perjalanan eksistensial manusia yang menautkan manusia dengan alam semesta.
Keunikan konsep tata ruang tersebut bahkan telah mendapat pengakuan dunia setelah UNESCO menetapkan The Cosmological Axis of Yogyakarta and its Historic Landmarks sebagai Warisan Dunia pada tahun 2023. Pengakuan ini menegaskan tata ruang Yogyakarta merupakan kesatuan kosmologis yang menyatukan manusia, alam, dan dimensi spiritual dalam kehidupan masyarakatnya.
Penghageng KHP Nitya Budaya Keraton Yogyakarta sekaligus Ketua Pameran, GKR Bendara, menuturkan pameran Smarabawana mengajak pengunjung memahami perjalanan tata ruang Kasultanan Yogyakarta dari masa ke masa. Tidak hanya menampilkan aspek arsitektur, pameran ini juga mengungkap berbagai narasi sejarah, pertanahan, hingga perkembangan budaya yang membentuk wajah Yogyakarta.
“Menariknya, pameran ini juga menghadirkan narasi ekologis melalui konsep Buron Wana atau hewan buruan di hutan dan Buron Toya atau hewan buruan di laut. Kedua konsep tersebut menggambarkan kearifan ekologis masyarakat Jawa dalam menjaga keseimbangan hubungan antara manusia dan alam,” tutur GKR Bendara.
Pameran temporer Smarabawana dapat dikunjungi masyarakat mulai 8 Maret hingga 26 Agustus 2026 di Kedhaton Keraton Yogyakarta setiap hari pukul 08.30–14.30 WIB. Melalui pameran ini, Keraton Yogyakarta mengajak masyarakat kembali membaca tata ruang bukan sekadar sebagai bentang wilayah, tetapi sebagai ingatan peradaban dan warisan kebijaksanaan leluhur.
Pada momentum yang sama, Kawedanan Radya Kartiyasa juga meluncurkan laman resmi tourism.kratonjogja.id serta akun Instagram @kratonjogja.tourism sebagai sarana diseminasi informasi dan pengetahuan tentang Keraton Yogyakarta. Ke depan, berbagai pemikiran dari pameran ini juga akan didalami dalam Simposium Internasional Budaya Jawa yang dijadwalkan berlangsung pada April mendatang.
Humas Pemda DIY





