UMBULHARJO,REDAKSI17.COM – Pemerintah Kota Yogyakarta mewaspadai penyakit campak meskipun tidak ada peningkatan kasus di Kota Yogyakarta. Namun kasus campak di beberapa daerah di Indonesia mengalami kenaikan bahkan penetapan kejadian luar biasa, sehingga Pemkot Yogyakarta tetap waspada. Masyarakat diharapkan waspada dengan mengecek status imunisasi campak pada anak. Imunisasi campak menjadi upaya mencegah penyakit yang disebabkan oleh virus campak (Morbilivirus).

Kepala Bidang Pencegahan Pengendalian Penyakit dan Pengelolaan Data dan Sistem Informasi Kesehatan Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta Lana Unwanah menyebut tidak ada peningkatan kasus Campak di Kota Yogyakarta. Pada tahun 2026 sampai Februari ada 6 kasus positif campak dan semua kondisinya sudah sembuh. Kasus itu bersal dari hasil pemeriksaan laboratorium terhadap 45 kasus suspek Campak. Selama tahun 2025 di Kota Yogyakarta ada sekitar 13 kasus campak.

“Setiap tahun pasti muncul kasus Campak. Kita masih relatif  terkendali dan tidak ada peningkatan yang lebih dari dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya . Masyarakat kami harap tetap harus waspada, tapi jangan panik,” kata Lana ditemui di Kantor Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Selasa (10/3/2026).

Dia menjelaskan gejala penyakit campak antara lain demam tinggi sampai 40 derajat celcius, batuk kering dan ruam-ruam merah. Campak bisa menular dari percikan batuk, bersin penderita dan kontak langsung dengan orang sakit campak. Selain berdampak pada gejala-gejala, risiko terberat Campak jika mengalami komplikasi virus bisa lari ke otak dan menyebabkan radang selaput otak maupun ke paru-paru dan menjadi pneumonia sampai meninggal dunia.

Jajaran Bidang Pencegahan Pengendalian Penyakit dan Pengelolaan Data dan Sistem Informasi Kesehatan Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta saat melakukan koordinasi terkait kasus Campak di Kota Yogyakarta.

“Kalau misalkan ada anak yang dengan gejala-gejala Campak misalnya demam kemudian diberi penurun panas. Jika dua sampai tiga hari tidak ada perbaikan dengan penurun panas segera bawa ke fasilitas pelayanan kesehatan (puskesmas). Kemudian jika dinyatakan sudah positif, sebaiknya istirahat dipatuhi agar tidak menular,” terangnya.

Lana menegaskan Campak adalah salah satu penyakit yang masuk dalam kategori  penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I). Cakupan imunisasi Campak di Kota Yogyakarta berkisar 95-96 persen. Meski demikian tidak menjamin anak yang sudah mendapat imunisasi Campak, tidak bisa terkena penyakit Campak. Imunisasi  Campak  (Measles and Rubella) menjadi upaya mencegah penyakit Campak. Imunisasi Campak pertama diberikan pada usia bayi 9 bulan dan pada umur 18 bulan (booster).

“Cek status imunisasi anak-anak kita. Kalau misalkan belum lengkap, segera dikejar langsung ke puskesmas terdekat. Tidak ada batas kedaluwarsa imunisasi pada bayi dan balita. Penuhi juga kecukupan nutrisi anak-anak terutama anak dengan gangguan kesehatan penyakit pembawa. Masyarakat juga harus melakukan perilaku hidup bersih dan sehat. Bila merasa tidak nyaman di tempat keramaian, bisa menggunakan masker,” jelas Lana.

Sementara itu Epidemiolog Kesehatan Ahli Muda Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Dwi Ana Sulistyani menyampaikan dari 6 kasus Campak di Kota Yogyakarta dialami anak-anak usia balita paling kecil 10 bulan dan satu orang dewasa. Sebanyak 2 kasus, belum mendapat imunisasi campak. Enam kasus Campak itu ditemukan di Kemantren Kotagede, Mantrijeron, Umbulharjo, Mergangsan, Jetis dan Tegalrejo. Mereka ada yang cukup rawat jalan dan opname di rumah sakit.

“Kasusnya menyebar. Yang kasus Kotagede ditelusuri sebelumnya melakukan perjalanan dari Bogor itu. Kita lihat masa inkubasi sekitar satu sampai dua minggu. Ternyata setelah perjalanan dari luar kotam bisa jadi tertular di sana. Kalau (Campak) orang dewasa malah cenderung lebih berat biasanya.  Saat kecil sudah diimunisasi tapi antibodi tidak stabil dan seiring waktu turun. Apalagi yang punya komorbid diabetes melitus risiko tinggi,” pungkas Ana.