Home / Daerah / Dari Menoreh Ke Hati: Pembinaan Mualaf di Kulon Progo, LDK Muhammadiyah dan BAZNAS Hadirkan Pendampingan Menyeluruh 

Dari Menoreh Ke Hati: Pembinaan Mualaf di Kulon Progo, LDK Muhammadiyah dan BAZNAS Hadirkan Pendampingan Menyeluruh 

KULON PROGO,REDAKSI17.COM — Langit pagi di Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta pada Ahad (26/4) terasa lebih hangat dari biasanya. Bukan semata karena matahari yang mulai meninggi, melainkan hadirnya sebuah ikhtiar besar menguatkan langkah para mualaf dalam perjalanan spiritual mereka.

Melalui “Kick Off Pembinaan Mualaf”, Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah resmi memulai program pembinaan yang digagas bersama Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS). Kolaborasi ini menjadi penanda bahwa dakwah tak lagi berdiri sendiri, melainkan bergerak dalam semangat kemitraan yang saling menguatkan.

Sejak pukul 09.00 WIB, kegiatan ini menghadirkan sejumlah tokoh yang selama ini dikenal aktif dalam pengembangan dakwah komunitas di Persyarikatan Muhammadiyah. Di antaranya Muh. Ikhwan Ahada, Rizaludin Kurniawan, Muchamad Arifin, serta Ananto Isworo. Kehadiran mereka bukan sekadar simbolis, tetapi menjadi representasi keseriusan dalam merawat perjalanan iman para mualaf.

Menariknya, semangat kolaborasi ini juga terasa sejak awal perjalanan. Sebanyak 30 member BikersMu (Bikers Muhammadiyah) Koordinator Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta turut ambil bagian dalam kegiatan ini. Mereka berkumpul sejak pukul 07.00 WIB di RS PKU Muhammadiyah Gamping, lalu bergerak bersama menggunakan sekitar 27 kendaraan bermotor menuju lokasi kegiatan.

Perjalanan menuju lokasi bukan sekadar mobilitas, tetapi juga menjadi bagian dari pengalaman kebersamaan. Rombongan BikersMu beserta LDK PP Muhammadiyah melintasi jalur meliuk-liuk khas Dataran Tinggi Menoreh, menikmati lanskap alam yang hijau sekaligus mempererat solidaritas dalam misi dakwah yang mereka emban.

Program ini tidak hanya berhenti pada seremoni pembukaan. Lebih dari itu, pembinaan mualaf dirancang sebagai proses berkelanjutan menguatkan pemahaman keislaman, membangun jejaring sosial yang suportif, hingga mendorong kemandirian ekonomi. Sebab, menjadi mualaf bukan hanya soal perubahan keyakinan, tetapi juga tentang menata ulang kehidupan secara menyeluruh.

Dalam konteks ini, peran BAZNAS RI menjadi sangat strategis. Melalui dukungan program pemberdayaan, para mualaf diharapkan tidak hanya kuat secara spiritual, tetapi juga tangguh secara sosial dan ekonomi. Di sisi lain, LDK PP Muhammadiyah membawa pendekatan dakwah yang inklusif merangkul tanpa menghakimi, membina tanpa menggurui.

Kegiatan ini juga menjadi cermin bahwa dakwah di era modern membutuhkan sentuhan yang lebih humanis. Bukan sekadar ceramah, melainkan pendampingan yang hadir dalam keseharian. Di sinilah pembinaan mualaf menemukan maknanya: menjadi ruang aman bagi mereka yang tengah menapaki jalan baru.

Lebih jauh, inisiatif ini membuka harapan bahwa sinergi antar lembaga keumatan mampu menghadirkan dampak nyata di tengah masyarakat. Kulon Progo bukan hanya menjadi lokasi kegiatan, tetapi juga saksi lahirnya semangat baru bahwa setiap perjalanan iman layak didampingi, dihargai, dan dikuatkan.

Pembinaan mualaf bukan sekadar sebuah agenda. Ia adalah awal dari perjalanan panjang, di mana dakwah hadir sebagai sahabat, bukan sekadar penuntun. Sebuah langkah kecil yang membawa perubahan besar bagi banyak kehidupan dengan iringan deru mesin, semangat kebersamaan, dan harapan yang terus menyala.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *