Mantrijeron,REDAKSI17.COM-Pemerintah Kota Yogyakarta kembali menggelar kegiatan safari tarawih Ramadan 1446 Hijriah. Kali ini kegiatan tersebut dilaksanakan di Masjid Sutan Sulaiman, Gedongkiwo, Mantrijeron pada Selasa (10/3/2025). Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo.

Dalam kesempatan tersebut, Hasto kembali mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga kebersihan lingkungan, khususnya dalam pengelolaan sampah. Menurutnya, persoalan sampah masih menjadi salah satu perhatian utama Pemerintah Kota Yogyakarta yang memerlukan dukungan dari seluruh elemen masyarakat.

Hasto menegaskan bahwa dirinya menargetkan seluruh depo sampah di Kota Yogyakarta sudah bersih dari tumpukan sampah sebelum Hari Raya Idul Fitri. Langkah ini dilakukan agar masyarakat dapat merayakan Idul Fitri dengan nyaman, termasuk saat melaksanakan salat Ied.

“Target kami sebelum Idul Fitri nanti depo-depo sampah sudah bersih dari tumpukan sampah. Kami ingin masyarakat bisa menjalankan salat Ied dan merayakan lebaran di Kota Yogyakarta dengan rasa nyaman,” ujar Hasto di hadapan para jamaah.

Untuk mencapai target tersebut, Hasto mengajak masyarakat agar ikut berperan aktif dalam pengelolaan sampah melalui gerakan lima langkah Mas Jos atau Masyarakat Jogja Olah Sampah. Program ini merupakan upaya Pemerintah Kota Yogyakarta untuk mengurangi volume sampah dengan cara mengolah sampah langsung dari sumbernya.

Melalui gerakan ini masyarakat diharapkan dapat memilah, mengolah, serta memanfaatkan kembali sampah rumah tangga sehingga tidak seluruhnya berakhir di depo atau tempat pembuangan akhir.

“Dengan keterlibatan masyarakat, diharapkan persoalan sampah di Kota Yogyakarta dapat ditangani secara lebih efektif dan berkelanjutan,” ungkapnya.

Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo saat salat tarawih

Sementara itu, Ketua Takmir Masjid Sutan Sulaiman, Mohammad Santosa, menyambut baik kegiatan safari tarawih yang digelar oleh Pemerintah Kota Yogyakarta.

Menurutnya, kehadiran pemerintah di tengah masyarakat melalui kegiatan seperti ini menjadi bentuk perhatian sekaligus mempererat hubungan antara pemerintah dan warga.

Dalam kesempatan itu, Santosa juga menceritakan sejarah singkat berdirinya Masjid Sutan Sulaiman. Ia menjelaskan bahwa awalnya bangunan tersebut hanya berupa musala kecil yang digunakan oleh warga sekitar untuk melaksanakan salat berjamaah.

Namun pada masa pandemi COVID-19, banyak jamaah yang ingin melaksanakan salat Jumat di masjid-masjid sekitar, tetapi tidak diperbolehkan karena berbagai pembatasan yang diberlakukan saat itu. Kondisi tersebut kemudian mendorong pengurus dan masyarakat sekitar untuk berinisiatif meningkatkan status musala tersebut menjadi masjid agar dapat digunakan untuk salat Jumat.

“Karena saat pandemi banyak jamaah yang tidak bisa melaksanakan salat Jumat di masjid sekitar, akhirnya kami bersama masyarakat berinisiatif mengubah musala ini menjadi masjid,” ujar Santosa.

Dengan dukungan swadaya masyarakat serta kerja sama para pengurus, proses perubahan musala menjadi masjid akhirnya dapat terwujud. Masjid Sutan Sulaiman pun resmi mulai beroperasi sebagai masjid pada tahun 2020 dan hingga kini terus menjadi pusat kegiatan ibadah serta kegiatan sosial masyarakat di wilayah Gedongkiwo.

Kegiatan safari tarawih tersebut kemudian ditutup dengan penyerahan berbagai bantuan untuk mendukung kegiatan dan operasional masjid. Bantuan tersebut berasal dari sejumlah pihak yang turut mendukung kegiatan keagamaan dan kemasyarakatan.

Penyerahan Bantuan.

Pemerintah Kota Yogyakarta memberikan bantuan sebesar Rp10 juta. Selain itu, bantuan juga datang dari Perseroda Bank Jogja sebesar Rp 2 juta, kemudian dari BAZNAS Kota Yogyakarta sebesar Rp 2 juta, serta dari PD Jogjatama Visesha sebesar Rp1 juta. Selain itu juga ada bantuan sembako untuk enam warga dari Kemantren Mantrijeron.

Bantuan tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan untuk mendukung berbagai kegiatan keagamaan di Masjid Sutan Sulaiman serta meningkatkan kenyamanan jamaah dalam beribadah, khususnya selama bulan Ramadan.