Militer AS mengklaim Operation Epic Fury berhasil melumpuhkan 90% industri pertahanan Iran, menghancurkan kapasitas rudal, dan memutus suplai senjata. (Google)
Jakarta,REDAKSI17.COM – Departemen Pertahanan Amerika Serikat mengumumkan bahwa kekuatan militer Iran saat ini berada dalam titik terendah setelah dilaksanakannya “Operation Epic Fury”. Operasi militer yang diluncurkan pada akhir Februari 2026 tersebut diklaim telah melumpuhkan kemampuan Iran untuk memproyeksikan kekuatan militer di luar perbatasannya, sekaligus melindungi kepentingan sekutu di kawasan Timur Tengah.
Dalam kesaksiannya di hadapan Komite Angkatan Bersenjata Senat hari ini, Komandan Komando Pusat AS (Centcom), Laksamana Angkatan Laut Brad Cooper, memaparkan rincian keberhasilan operasi tersebut. Menurutnya, pasukan Centcom berhasil mencapai tujuan militer strategis hanya dalam waktu kurang dari 40 hari, sebuah pencapaian yang disebutnya sebagai hasil dari perencanaan matang selama berbulan-bulan.
Salah satu poin paling krusial dalam laporan tersebut adalah hancurnya kapasitas rudal konvensional Iran. Cooper mengingatkan para anggota parlemen tentang serangan ratusan rudal Iran ke Israel pada tahun lalu. Namun, ia menegaskan bahwa serangan dengan skala dan massa sebesar itu tidak akan mungkin terjadi lagi dalam waktu dekat karena infrastruktur peluncuran mereka telah dieliminasi secara efektif.
“Hari ini, Iran tidak lagi memiliki kemampuan untuk menyerang dengan massa dan skala seperti itu,” ujar Cooper di Capitol Hill yang dikutip keterangan resmi Departemen Pertahanan AS, Jumat (15/5/2026).
Ia menambahkan bahwa sekitar 90% basis industri pertahanan Iran telah hancur. Dengan tingkat kerusakan tersebut, diperkirakan Iran tidak akan mampu memproduksi kembali senjata-senjata canggih mereka selama bertahun-tahun ke depan.
Selain fokus pada rudal dan drone, operasi ini juga menyasar kekuatan maritim. Penilaian militer menunjukkan bahwa Angkatan Laut Iran mengalami kerusakan yang sangat parah. Cooper memprediksi bahwa Teheran baru akan bisa mulai membangun kembali kekuatan angkatan lautnya dalam waktu lima hingga sepuluh tahun mendatang, sebuah kemunduran besar bagi ambisi geopolitik mereka.
Presiden Donald J Trump dan jajaran administrasinya telah berulang kali menyatakan bahwa Iran tidak akan pernah diizinkan memiliki senjata nuklir. Operation Epic Fury dirancang untuk mendukung visi tersebut dengan cara menghancurkan kemampuan balistik dan industri yang bisa mendukung program nuklir. Target-target ini diklaim telah tercapai sepenuhnya melalui serangan yang presisi.
Dampak lain dari operasi ini adalah melemahnya jaringan proksi teroris di kawasan tersebut. Kelompok-kelompok seperti Hamas, Hezbollah, dan Houthi kini dilaporkan terputus dari suplai senjata dan dukungan finansial Iran. Laksamana Cooper memastikan bahwa saat ini tidak ada lagi sumber daya atau peralatan militer yang mengalir dari Teheran kepada kelompok-kelompok proksi tersebut.
Di sisi lain, Operation Epic Fury justru mempererat hubungan militer antara Amerika Serikat dengan mitra-mitra regionalnya. Cooper memberikan apresiasi khusus kepada Uni Emirat Arab, Bahrain, Kuwait, Qatar, dan Arab Saudi yang disebutnya berdiri “bahu-membahu” dengan pasukan AS. Kerja sama ini dianggap sebagai kunci stabilitas baru di Timur Tengah.
Sebagai penutup, Laksamana Cooper menekankan bahwa keberhasilan ini tidak terjadi secara kebetulan, melainkan akumulasi dari pengalaman militer selama puluhan tahun. Dukungan dari Kerajaan Yordania dan koordinasi erat dengan negara Israel juga disebut sebagai faktor krusial yang membuat Operation Epic Fury mustahil terlaksana tanpa peran serta aktif para sekutu tersebut.





