Beranda / Daerah / Bangun Sleman Lebih Dari Sekadar Kemajuan Lahiriah

Bangun Sleman Lebih Dari Sekadar Kemajuan Lahiriah

Sleman,REDAKSI17.COM – Perayaan hari jadi hendaknya tidak berhenti sebagai peringatan usia, namun harus menjadi momen introspeksi diri. Demikian pula pada perayaan Hari Jadi ke-110 Kabupaten Sleman, di mana embangun Sleman tidak cukup hanya dengan mengejar kemajuan lahiriah.

Hal ini diungkapkan Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam Upacara Hari Jadi ke-110 Kabupaten Sleman pada Sabtu (23/05). Bertempat di Lapangan Denggung Sleman, tema yang diangkat yakni ‘Nggendong Mikul Murih Rahayuning Sleman’, memberi pesan sederhana, namun dalam maknanya.

“Membangun Sleman berarti ikut nggendong harapan rakyat, mikul tanggung jawab bersama, menjaga bumi, merawat kerukunan, dan mengupayakan keselamatan bagi seluruh kehidupan. Untuk itu, saat untuk mulat sarira, melihat kembali apa yang telah dijalani, meneguhkan apa yang harus diperbaiki, dan melangkah bersama menuju Sleman yang semakin ayom, ayem, sejahtera, lestari, dan bermartabat,” papar Sri Sultan.

Sri Sultan menjelaskan, rahayu bukan hanya berarti terhindar dari mara bahaya. Rahayu adalah ketenteraman batin, tegaknya ikhtiar, suburnya welas asih, dan hidupnya daya masyarakat untuk terus bergerak maju tanpa kehilangan akar budayanya.

“Semua itu selaras dengan filosofi luhur Ngayogyakarta, hamemayu hayuning bawana, yang mengandung dharma kemanusiaan dalam Tri Satya Brata. Filosofi ini bersumber dari ajaran agung warisan Sultan Agung Hanyakrakusuma, ‘Mangasah Mingising Budi, Memasuh Malaning Bumi, Memayu Hayuning Bawana’,” ungkap Sri Sultan.

Sri Sultan mengatakan, rahayuning bawana kapurba waskithaning manungsa, memiliki arti keselamatan dunia ditentukan oleh kejernihan batin dan kewaskitaan manusia. Sementara dharmaning manungsa mahanani rahayuning nagara, berarti pengabdian manusia melahirkan keselamatan nagari. Dan rahayuning manungsa dumadi amarga rasa kamanungsaning sarira piyambak berarti keselamatan manusia lahir dari kesadaran kemanusiaan di dalam dirinya sendiri.

“Pada hari ini turut dikirab Pusaka Tombak Kanjeng Kyai Turunsih. hal itu bukan semata-mata menjadi penanda upacara. Ia adalah perlambang batin, yang patut direnungkan oleh para pangemban praja, hingga seluruh warga Sleman,” imbuh Sri Sultan.

Menurut Sri Sultan, Kanjeng Kyai Turunsih mengandung daya makna tentang laku ambeg paramarta, atau watak kepemimpinan yang berwelas asih, menimbang rasa, dan mengutamakan keselamatan hidup bersama. Hal itu selaras dengan candra sengkala ‘Anggana Catur Sastra Tunggal’, yang menandai berdirinya Kabupaten Sleman pada tahun 1846 Jawa.

“Dari sanalah kita membaca bahwa perjalanan Sleman bukan hanya perjalanan administratif, melainkan perjalanan sejarah, budaya, dan pengabdian. Semoga Tuhan Sang Kuasa Cipta berkenan merestui seluruh ikhtiar kita, memberi petunjuk jalan yang benar, serta meneguhkan tekad dalam berkarya untuk kesejahteraan masyarakat Sleman, bangsa, dan negara,” tutur Sri Sultan.

Turut hadir pada upacara ini, Bupati Sleman, Harda Kiswaya dan Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa serta jajaran Forkopimda Kabupaten Sleman. Sebelumnya, Harda menegaskan, pembangunan daerah tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik dan infrastruktur, tetapi juga pembangunan mental, moral, spiritual, serta akhlak masyarakat.

“Kabupaten Sleman tumbuh bukan hanya maju infrastrukturnya, tetapi juga menjadi daerah yang masyarakatnya memiliki karakter kuat, akhlak yang baik, toleransi yang tinggi, dan kepedulian sosial yang kokoh. Dan peringatan ini adalah momentum evaluasi diri bagi seluruh jajaran pemerintahan untuk melayani dan menyejahterakan masyarakat ” ungkapnya.

HUMAS DIY

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *