Yogyakarta,REDAKSI17.COM – Berawal dari semburat cahaya matahari yang menembus celah perbukitan kapur di Rongkop, Gunungkidul, lahirlah sebuah gagasan yang kini berpeluang menjadi ikon baru Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Karya berjudul “Cahaya Pradipta Penanda Gerbang Perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta” karya Marcelo Diaz Octavianus dinobatkan sebagai Juara I Sayembara Pradesain Penanda Perbatasan DIY 2026 setelah melalui penilaian ketat dewan juri dan mendapat persetujuan Sri Sultan Hamengku Buwono X selaku Dewan Juri Kehormatan.
Penetapan pemenang diumumkan dalam penjurian tahap final Sayembara Pradesain Penanda Perbatasan DIY yang digelar di Ruang Gadri Kompleks Kepatihan Yogyakarta, Senin (20/7). Sayembara yang diselenggarakan Pemda DIY melalui Biro Tata Pemerintahan Setda DIY tersebut menjadi langkah strategis untuk menghadirkan penanda perbatasan yang tidak hanya berfungsi sebagai gerbang wilayah, tetapi juga merepresentasikan identitas, filosofi, dan Keistimewaan DIY.
Kepala Biro Tata Pemerintahan Setda DIY, Nuri Achadiyanti, mengatakan dewan juri telah menetapkan lima karya terbaik melalui rapat pleno penjurian tahap akhir. Juara I diraih peserta SP-022 dengan karya Cahaya Pradipta Penanda Gerbang Perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta, Juara II peserta SP-165 dengan karya Watujaga, Juara III peserta SP-106 dengan karya Catur Gatra Tunggal: Penanda Perbatasan DIY, Harapan I peserta SP-038 melalui karya Ngayomi Budaya Kukuh, dan Harapan II peserta SP-349 dengan karya Regol Keistimewan Yogyakarta.
Usai pengumuman, penghargaan kepada para pemenang diserahkan oleh Sekretaris Daerah DIY Ni Made Dwipanti Indrayanti, Direktur Utama Bank BPD DIY Santoso Rohmad, serta jajaran dewan juri yang terdiri atas Prof. Ar. Ir. Ikaputra, M.Eng., Ph.D., Ir. Suyata, dan Ar. Erlangga Winoto, IAI., ASEAN Architect.
Sekda DIY Ni Made Dwipanti Indrayanti menilai tingginya antusiasme peserta yang datang dari berbagai daerah di Indonesia menunjukkan besarnya perhatian publik terhadap upaya membangun identitas ruang DIY. Semangat yang tercermin dalam sayembara tersebut sejalan dengan visi besar Pemda DIY dalam memperkuat karakter daerah melalui ruang publik yang sarat makna budaya.
“Sesuai pesan Bapak Gubernur, ini bukan cuma soal batas fisik. Ada pesan budaya di dalamnya,” tutur Ni Made.
Ni Made menegaskan, hasil sayembara tidak boleh berhenti pada tahap perencanaan semata. Karya-karya terbaik yang telah lahir harus menjadi pijakan menuju pembangunan nyata yang mampu memperkuat citra Yogyakarta sebagai daerah istimewa yang berbudaya dan berkarakter.
“Harapannya jelas. Ini tidak boleh berhenti jadi draf desain yang menumpuk. Harus benar-benar berlanjut ke tahap realisasi pembangunan,” tegasnya.
Bagi Marcelo Diaz Octavianus, kemenangan tersebut berawal dari pengalaman sederhana saat melakukan survei lokasi di kawasan Rongkop, Gunungkidul. Warga Wonosari itu mengaku sempat mengalami kebuntuan ide sebelum akhirnya menemukan inspirasi langsung dari bentang alam yang akan menjadi lokasi penanda perbatasan.
“Cahaya Pradipta merupakan cahaya yang menerangi. Saat survei di lokasi, saya melihat gunung kapur yang terbelah dan di tengahnya terlihat cahaya matahari. Dari situ saya mendapatkan inspirasi bahwa cahaya tersebut seperti menuntun saya menuju sesuatu yang baik, menuju Jogja,” ujarnya.
Inspirasi tersebut kemudian diterjemahkan menjadi sebuah desain penanda yang menempatkan simbol cahaya sebagai elemen utama. Bagi Diaz, cahaya tidak hanya menjadi unsur visual, tetapi juga metafora tentang keramahan, harapan, dan keterbukaan Yogyakarta bagi siapa pun yang datang memasuki wilayah DIY.
“Saya ingin identitas Jogja semakin kuat dengan menambahkan unsur-unsur khas Yogyakarta. Di situ ada kehangatan dan budaya yang ingin saya tampilkan agar lebih dikenal masyarakat luas. Jadi ketika orang memasuki Jogja dari perbatasan, mereka langsung merasakan seperti apa Jogja itu sebenarnya,” katanya.
Secara konseptual, Cahaya Pradipta menghadirkan penanda yang menonjolkan simbol sinar sebagai penuntun perjalanan. Karya tersebut dirancang sebagai tetenger yang mudah dikenali dari kejauhan dan mampu menghadirkan kesan kuat sebagai gerbang masuk menuju Yogyakarta. Perpaduan unsur budaya lokal dengan pendekatan desain kontemporer menjadikan karya tersebut dinilai mampu merepresentasikan wajah DIY yang berakar pada tradisi sekaligus terbuka terhadap perkembangan zaman.
Ketua Dewan Juri, Prof. Ar. Ir. Ikaputra, M.Eng., Ph.D., mengungkapkan proses penjurian berlangsung panjang dan kompetitif. Sejak diluncurkan pada 17 April 2026, sayembara ini berhasil menarik sekitar 400 pendaftar dari berbagai daerah di Indonesia. Setelah melalui proses verifikasi dan seleksi berlapis, sebanyak 124 karya dinyatakan memenuhi syarat dan kemudian disaring menjadi 10 besar hingga lima finalis terbaik.
Menurut Ikaputra, karya Cahaya Pradipta memiliki keunggulan yang menonjol dibanding karya finalis lainnya karena mampu menghadirkan karakter visual yang kuat sekaligus membuka peluang pengembangan lebih lanjut pada tahap perancangan berikutnya.
“Salah satu kelebihan karya ini adalah kesan pertama yang muncul ketika melihat tetenger tersebut. Bentuknya cukup unik dan tidak biasa. Ini merupakan pradesain yang masih bisa dikembangkan lebih jauh, termasuk eksplorasi ketinggiannya. Namun secara visual, baik pada siang maupun malam hari, karya ini sudah terlihat sangat kuat, unik, dan spektakuler,” terang Ikaputra.
Ia menambahkan, dewan juri tidak hanya mempertimbangkan aspek estetika, tetapi juga kelayakan konstruksi, pemilihan material, kesesuaian dengan lingkungan, serta kemampuan karya dalam merepresentasikan nilai-nilai budaya DIY. Seluruh proses penilaian dilakukan secara cermat hingga akhirnya menghasilkan keputusan yang disepakati bersama, termasuk oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X selaku Dewan Juri Kehormatan.
“Kami memiliki kesatuan pandangan bahwa karya juara pertama memiliki karakter yang sangat ikonik. Ketika pertama kali melihatnya, langsung muncul kesan berbeda. Bentuknya kuat, unik, dan memiliki daya tarik visual yang tetap menonjol baik pada siang maupun malam hari. Potensinya sangat besar untuk menjadi identitas baru kawasan perbatasan DIY,” katanya.
Sayembara ini secara khusus difokuskan untuk mencari desain penanda perbatasan pada dua titik strategis koridor selatan DIY, yakni kawasan Rongkop di Kabupaten Gunungkidul dan Sindutan di Kabupaten Kulon Progo. Ke depan, karya terbaik hasil sayembara akan menjadi referensi penting dalam proses pengembangan dan pembangunan penanda perbatasan di wilayah tersebut.
Lebih dari sekadar membangun sebuah bangunan, Pemda DIY memandang penanda perbatasan sebagai wajah pertama yang menyambut masyarakat dan wisatawan saat memasuki Yogyakarta. Karena itu, keberadaannya diharapkan mampu memperkuat identitas ruang, mempertegas citra Keistimewaan DIY, sekaligus menjadi landmark baru yang mencerminkan harmoni antara budaya, arsitektur, dan semangat kemajuan daerah.
Humas Pemda DIY




