Yogyakarta,REDAKSI17.COM – Di atas panggung, Zahra mengawali kisahnya dengan penuh keyakinan. Suaranya mengalun, menghidupkan cerita rakyat Terjadinya Kedung Bolong di hadapan dewan juri dan peserta dari lima kabupaten/kota di Daerah Istimewa Yogyakarta. Setiap intonasi, ekspresi, dan penghayatan yang ia tampilkan seolah mengajak pendengar larut dalam cerita yang telah diwariskan lintas generasi.
Penampilan itulah yang mengantarkan Atika Zahra Ratifa, siswi SD Negeri Pujokusuman 1 Yogyakarta, meraih Juara I Lomba Bertutur Tingkat Sekolah Dasar Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2026. Kompetisi yang diselenggarakan Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY tersebut berlangsung di Ruang Seminar Grhatama Pustaka, Selasa (7/7/2026), dan diikuti perwakilan terbaik dari lima kabupaten/kota se-DIY.
Bagi Zahra, kemenangan ini bukan sekadar tentang menjadi yang terbaik. Di balik piala yang diraih, ada kecintaan terhadap cerita rakyat, kebiasaan membaca, serta dukungan orang-orang yang selama ini membimbingnya.

“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur kepada Allah SWT karena telah meraih Juara 1 dalam Lomba Bertutur ini. Prestasi ini bisa saya raih berkat doa orang tua, bimbingan dari Sanggar JAS, dukungan dari SD Negeri Pujokusuman 1 Yogyakarta, dan juga support dari Pemerintah Kota Yogyakarta. Terima kasih banyak untuk semuanya,” ujar Zahra.
Dalam perlombaan tersebut, peserta dinilai berdasarkan teknik penampilan, cara bertutur, penguasaan materi, serta keterampilan menyampaikan cerita. Penilaian dilakukan oleh pegiat literasi dan pemerhati anak Titik Renggani, pakar psikologi Dr. Shinta, serta pendongeng profesional M. Dinu Imansyah. Berkat penampilannya yang memukau, Zahra berhasil meraih nilai tertinggi dan ditetapkan sebagai juara pertama.
Bagi Zahra, bertutur bukan sekadar menyampaikan cerita. Ia berharap kemampuannya itu dapat menjadi cara untuk mengenalkan kembali budaya Indonesia kepada generasi muda yang tumbuh di era digital.
“Harapan saya, melalui bertutur saya bisa ikut melestarikan cerita dan budaya Indonesia. Saya juga mengajak teman-teman untuk meluangkan waktu ke perpustakaan karena di sana banyak sekali pengetahuan. Semoga saya bisa membawa pulang juara lagi untuk Provinsi DIY di tingkat nasional. Mohon doa dan dukungannya,” tuturnya.

Keberhasilan Zahra mendapat apresiasi dari Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Yogyakarta, Afia Rosdiana. Menurutnya, prestasi tersebut menjadi kebanggaan bagi Kota Yogyakarta sekaligus menunjukkan bahwa budaya membaca dan bertutur terus tumbuh di kalangan anak-anak.
“Prestasi ini menjadi kebanggaan bagi Kota Yogyakarta sekaligus motivasi bagi anak untuk gemar membaca dan mencintai literasi. Semoga prestasi yang telah ditorehkan Zahra dapat terus dikembangkan dan nantinya sampai ke tingkat nasional,” kata Afia.
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Yogyakarta berharap keberhasilan Zahra dapat menginspirasi lebih banyak peserta didik untuk datang ke perpustakaan, memperkaya wawasan melalui buku, sekaligus melestarikan tradisi bertutur sebagai bagian dari kekayaan budaya bangsa.
Bagi Kota Yogyakarta, kemenangan Zahra bukan hanya menambah daftar prestasi di bidang literasi. Lebih dari itu, kisahnya menjadi bukti bahwa perpustakaan, buku, dan cerita rakyat masih memiliki tempat di hati generasi muda. Dari sebuah panggung bertutur, lahir harapan agar budaya membaca terus tumbuh, cerita-cerita Nusantara tetap hidup.



