Yogyakarta,REDAKSI17.COM – Dulu, mencari sinyal di pesisir selatan Gunungkidul bisa berarti mencari jalan keluar. Ketika kendaraan wisatawan mogok atau pedagang kehabisan stok, warga harus mencari titik yang memungkinkan untuk menghubungi bantuan. Kini, akses internet gratis mulai hadir di kawasan Pansela DIY, membuka jalan baru bagi warga untuk berkomunikasi, bertransaksi, dan mengembangkan usaha.
Perubahan itu mulai dirasakan warga setelah Pemda DIY melalui Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) DIY memasang akses internet gratis di 24 titik sepanjang kawasan Pantai Selatan (Pansela), mulai Gunungkidul hingga Bantul. Layanan tersebut memiliki kecepatan hingga 100 Mbps dan mulai dapat dimanfaatkan masyarakat sejak 2 September 2026.
Bagi Slamet Sutrisno, Dukuh Putat, Desa Songbanyu, Girisubo, kehadiran internet bukan sekadar kemudahan untuk mengakses informasi. Sebelumnya, persoalan sederhana seperti kendaraan wisatawan mogok atau pedagang kehabisan stok bisa menjadi urusan panjang karena sulitnya komunikasi.
“Sebelum ada Wi-Fi dari Kominfo DIY, kalau ada wisatawan yang kendaraannya mogok, kami kebingungan setengah mati untuk menghubungi keluarga mereka. Pedagang kecil kalau kehabisan stok es atau bahan jualan juga harus pulang jauh ke rumah,” kata Slamet.
Kini, akses internet mulai mengubah aktivitas warga. Jaringan tersebut tidak hanya memudahkan komunikasi, tetapi juga mulai dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan ekonomi. Warga perlahan mengenal transaksi nontunai melalui QRIS dan dompet digital.
“Awalnya kami wong dusun ya tidak paham, tahunya cuma bayar cash. Tapi begitu ada Wi-Fi, anak-anak muda dan wisatawan mulai tanya ‘Mas, bisa barcode tidak?’. Dari situ warga penasaran dan belajar. Bahkan ada yang minta diajari anak-anak muda Pokdarwis cara daftar QRIS atau dompet digital. Transaksi sekarang jadi jauh lebih lancar,” ujarnya.
Kepala Bidang Layanan Teknologi Informatika (LTI) Dinas Kominfo DIY Mohamad Zainuri mengatakan, penyediaan internet gratis tersebut diarahkan untuk membuka akses digital bagi masyarakat di kawasan yang selama ini menghadapi keterbatasan konektivitas.
“Fokus kami adalah membuka aksesibilitas. Internet gratis ini dipasang di titik-titik strategis usulan OPD seperti Satpol PP untuk keselamatan pantai, Dinas Kelautan untuk pelabuhan perikanan, hingga area publik tempat warga lokal mengadu nasib. Kami ingin masyarakat pesisir punya alat yang sama untuk maju,” jelasnya.
Sebanyak 24 titik layanan internet tersebut tersebar di sepanjang Pansela DIY. Di wilayah Bantul, akses tersedia di Pantai Baru, Pantai Cangkring, Pantai Goa Cemara, Pantai Tanggul Tirto, Pantai Pandansari, UKBAP Samas, Pantai Depok, dan Pantai Parangtritis.
Sementara di wilayah Gunungkidul, jaringan mencakup Pantai Gesing, Pantai Nguyahan, Pantai Ngobaran, Pantai Ngrenehan, Pantai Ngandong, Pantai Sundak, Pantai Watu Kodok, Pantai Pulangsawal, UKBAL Sundak, Pantai Nglambor, Pantai Siung, Pantai Timang, Pantai Nampu, Pantai Sadeng, Pantai Krokoh, dan Pantai Krakal.
Sebaran titik tersebut mencakup kawasan wisata, ruang publik, hingga lokasi yang berkaitan dengan aktivitas masyarakat pesisir. Kehadiran jaringan internet di berbagai titik itu diharapkan memperluas akses masyarakat terhadap informasi dan layanan digital sekaligus mendukung aktivitas ekonomi lokal.
Selain akses internet, Pemda DIY juga menyediakan layanan kamera pengawas atau CCTV yang dapat diakses masyarakat melalui laman cctv.jogjaprov.go.id. Kehadiran jaringan internet di kawasan pantai diharapkan turut mendukung keselamatan, penyebaran informasi, serta aktivitas masyarakat dan wisatawan.
Penguatan konektivitas Pansela merupakan bagian dari upaya Pemda DIY membuka akses pembangunan di kawasan selatan. Kebijakan tersebut sejalan dengan Misi Kedua RPJMD DIY 2022–2027, yakni memberdayakan kawasan selatan dengan mengoptimalkan dukungan infrastruktur, peningkatan kapasitas SDM, dan perlindungan/pengelolaan sumber daya setempat.
Namun, membuka konektivitas di kawasan Pansela bukan tanpa tantangan. Kondisi geografis dan topografi, jarak antarlokasi, ketersediaan anggaran, hingga kestabilan pasokan listrik menjadi sejumlah hal yang harus diperhitungkan dalam pengembangan infrastruktur digital.
“Karakter wilayahnya memang tidak sama dengan kawasan perkotaan. Karena itu, penentuan titik dan pengelolaannya harus disesuaikan dengan kondisi di lapangan,” ujar Zainuri.
Ke depan, penguatan konektivitas di kawasan Pansela juga terbuka melalui kolaborasi dengan sektor swasta, antara lain melalui pemanfaatan infrastruktur tiang bersama sesuai ketentuan peraturan daerah yang berlaku.
Bagi warga seperti Slamet, hadirnya akses internet membuat aktivitas sehari-hari menjadi lebih mudah. Komunikasi tidak lagi selalu bergantung pada perjalanan mencari sinyal, informasi lebih cepat diperoleh, dan pelaku usaha mulai memiliki pilihan untuk menerima pembayaran secara digital.
Dari kawasan yang sebelumnya sulit terhubung, Pansela DIY kini perlahan memasuki ruang digital. Bukan hanya akses internet yang semakin mudah ditemukan, tetapi juga peluang bagi warga untuk berkomunikasi, menjalankan usaha, dan memanfaatkan teknologi dalam kehidupan sehari-hari.
Humas Pemda DIY





