Jakarta,REDAKSI17.COM – Nilai tukar Rupiah masih belum bertenaga untuk membalikkan tekanan dari Dolar Amerika Serikat. Sampai saat ini nilai tukar sudah tembus rekor sepanjang di level Rp 17.500. Bahkan, Rupiah dirasa sulit untuk kembali pada keadaan normal.
Yang jadi masalah adalah, nilai tukar Rupiah yang melemah dapat berdampak langsung kepada masyarakat. Dompet-dompet warga Indonesia bisa terkuras karena kenaikan harga dan dampak lainnya.
Ekonom Center of Economics and Law Studies (CELIOS) Nailul Huda mengatakan dampak paling besar dari nilai tukar yang terus melemah adalah inflasi yang tak terelakkan. Sebab, Indonesia sejauh ini masih cukup banyak melakukan impor berbagai produk kebutuhan harian.
“Dampaknya adalah, inflasi dari impor akan mulai naik ke depan terutama akibat biaya distribusi naik, harga barang naik. Imported inflation akan terjadi, terutama untuk barang yang terkait impor, baik bahan baku, penolong, ataupun konsumsi,” ujar Huda ketika dihubungi detikcom, Jumat (15/5/2026).
Huda memprediksi akan ada kenaikan harga dalam 2-3 bulan ke depan. Dia menyatakan yang sudah mulai terlihat adalah plastik sebab bahan bakunya saat ini langka, distribusinya mahal, dan ketika mendapat eksportir yang produknya bisa diimpor harganya naik karena Rupiah nilainya sangat lemah.
Pelemahan harga plastik bukan cuma fenomena biasa, pasalnya banyak barang-barang yang menggunakan plastik juga akan meningkat harganya. Misalnya saja, minyak goreng dalam kemasan yang sudah mulai meningkat harganya.
“Jadi dampak dari pelemahan nilai tukar ini bisa menyeluruh ke semua lapisan masyarakat. Mulai dari penjual gorengan hingga pengusaha terkena dampak negatif,” sebut Huda.
Senada dengan Huda, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menjelaskan Indonesia juga masih banyak mengimpor gandum, kedelai, bawang putih, susu, bahan baku obat, sampai bahan baku industri. Ketika nilai tukar Rupiah melemah, biaya masuk barang-barang tersebut juga ikut naik.
“Dampaknya pelan-pelan terasa di harga makanan, obat, sampai kebutuhan rumah tangga,” ujar Rendy kepada detikcom.
Kelas Menengah Terpukul
Rendy melanjutkan kelas menengah juga bakal tertekan. Kelas menengah yang mengkonsumsi barang lebih banyak daripada sekadar kebutuhan hidup akan merasakan kenaikan harga yang pesat. Nilai tukar rupiah yang melemah dapat meningkatkan harga gadget, barang elektronik, kosmetik impor, langganan jasa digital, sampai biaya sekolah dan kuliah luar negeri ikut naik.
Dia mengatakan orang-orang akan menekan pesat ruang belanjanya. Pembelian hanya dilakukan untuk yang penting-penting saja. Akhirnya banyak orang yang merasakan penghasilannya tak lagi mencukupi hidupnya.
“Orang mungkin tetap bisa membeli, tetapi ruang belanjanya jadi lebih sempit. Ini yang kemudian membuat banyak orang merasa penghasilannya tidak sejauh dulu,” ujar Rendy.
Melemahnya nilai tukar juga berpotensi membuat harga transportasi makin mahal. Tiket pesawat misalnya, bahkan untuk penerbangan domestik nampaknya harga yang dipatok akan sulit dijangkau.
“Sebagian besar biaya maskapai berbasis Dolar, mulai dari avtur, sewa pesawat, suku cadang, sampai perawatan mesin. Jadi ketika rupiah melemah, biaya operasional maskapai otomatis naik,” ujar Rendy.
Namun segelintir orang, kata Rendy, bisa mengambil keuntungan dari nilai tukar Rupiah yang melemah. Misalnya saja, pekerja migran yang mendapatkan uang dari luar negeri biasanya akan mendapatkan nominal lebih besar ketika penghasilannya ditukar dalam Rupiah.
Kemudian, para eksportir komoditas, baik skala kecil maupun besar, mulai dari komoditas kelapa sawit, kopi, atau perikanan juga relatif terbantu. Karena pendapatannya berbasis Dolar sementara sebagian besar biayanya Rupiah.
Namun begitu, Rendy tetap menekankan nilai Rupiah yang melemah dampaknya lebih banyak buruk kepada masyarakat Indonesia.
“Tapi secara umum, untuk mayoritas masyarakat, Rupiah yang terlalu lemah tetap lebih banyak menambah tekanan dibanding manfaatnya,” tegas Rendy.





