Dari transaksi tersebut, Protelindo menggelontorkan dana sekitar Rp969,35 miliar. Perusahaan ini bergerak di bidang penyediaan infrastruktur telekomunikasi dan merupakan bagian dari PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR). Adapun TOWR terafiliasi dengan Grup Djarum atau keluarga Hartono melalui PT Sapta Adhikari Investama.
Aksi korporasi ini berkaitan dengan proses konversi kepemilikan obligasi wajib konversi yang dimiliki Protelindo pada anak usaha Bakrie Group. Setelah konversi tersebut diselesaikan, Protelindo tercatat sebagai salah satu pemegang saham BTEL.
Mengacu pada komposisi pemegang saham, Huawei Tech menjadi pemegang saham terbesar BTEL dengan porsi 16,13%. Selanjutnya, PT Mahindo Agung menguasai 13,05%, Bioful 8,21%, Bakrie Global 6,89%, dan Raiffeisen Bank sebesar 5,77%.
Selain itu, masyarakat non warkat secara keseluruhan memiliki 49,65% atau setara 19,03 miliar saham BTEL. BTEL juga tercatat memiliki saham treasuri sebesar 0,30%.
Dari total saham perseroan, jumlah saham yang beredar di publik atau free float mencapai 19,03 miliar saham, setara dengan 49,65%.
Selain Protelindo, BTEL menyebut ada lima pihak lain yang mengonversi OWK menjadi saham dalam keterbukaan informasi BEI, pada Jumat (21/8/2026).
Mereka adalah PT Inti Bangun Sejahtera Tbk mengonversi 250,81 juta saham, PT Komet Infra Nusantara 47,36 juta saham, PT Solusi Tunas Pratama Tbk 888,12 juta saham, PT Sarana Inti Persada 35,51 juta saham, dan PT Reka Jasa Akses 247,50 juta saham.
Secara keseluruhan, pelaksanaan konversi OWK pada 20 Agustus 2026 menghasilkan 6,32 miliar saham BTEL.





