
Sleman,REDAKSI17.COM – Pemerintah Kabupaten Sleman bersama Injourney Destination Management menggelar Puncak Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) ke-42 Tahun 2026 yang berlangsung di Lapangan Garuda Mandala, Kompleks Candi Prambanan, pada Rabu (22/7/2026). Perhelatan tahunan ini tidak hanya menjadi panggung edukasi sejarah budaya, tetapi juga wujud nyata komitmen daerah dalam memperjuangkan hak dan perlindungan anak.
Mengusung tema “Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan”, agenda yang diinisiasi oleh Dinas P3AP2KB Kabupaten Sleman ini menyedot antusiasme ratusan pelajar. Sebanyak 380 siswa dan 54 guru pendamping dari 27 sekolah jenjang SMP dan MTs hadir memadati kawasan pelataran candi. Perwakilan peserta tersebut mencakup 10 sekolah dari Kapanewon Prambanan, 12 sekolah dari Kapanewon Kalasan, serta 5 sekolah dari Kapanewon Berbah.
Dalam suasana akrab dengan tradisi duduk lesehan bersama, Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa menyampaikan pesan bernas namun segar agar generasi muda tidak kehilangan pemahaman atas akar sejarah bangsanya. Beliau menyentil fenomena anak-anak zaman sekarang yang cenderung lebih familiar dengan budaya pop luar negeri dibandingkan peninggalan sejarah di tanah airnya sendiri.
“Generasi muda saat ini kerap merasa enggan saat diajak mendalami sejarah, tetapi begitu antusias ketika membahas budaya populer seperti drama Korea. Hal seperti ini tentu perlu kita benahi bersama. Jika kita ingin mewariskan keagungan budaya bangsa, kita harus lebih sering membagikan kisah-kisah sejarah,” ujar Danang.
Lebih lanjut, Danang mengisahkan kembali kilas balik kejayaan Kerajaan Mataram yang dihimpit dua candi megah, yakni Prambanan dan Borobudur. Ia juga menyelipkan filosofi legenda Bandung Bandawasa sebagai pelecut semangat agar anak-anak Sleman pantang menyerah serta bersungguh-sungguh dalam mengejar cita-cita.
Selain edukasi sejarah, puncak peringatan HAN ke-42 ini diwarnai aksi nyata kepedulian sosial. Pemkab Sleman menyerahkan bantuan peralatan sekolah secara simbolis kepada anak-anak dari kelompok rentan serta anak-anak penyandang disabilitas demi mewujudkan Sleman sebagai Kabupaten Layak Anak (KLA) yang inklusif.
Agar kunjungan lapangan ini berdaya guna secara akademis, Danang menginstruksikan para guru pendamping untuk memberikan tugas khusus berupa penyusunan laporan edukatif kepada para siswa usai mengelilingi kompleks candi. Rangkaian acara yang diawali dengan penampilan tarian dari Forum Anak Sleman ini ditutup secara meriah melalui kejutan pembagian satu unit sepeda bagi peserta yang berulang tahun tepat pada hari pelaksanaan.
Sejalan dengan semangat Peringatan HAN ke-42, InJourney Destination Management turut menghadirkan program InJourney Community Care bertajuk “Wujudkan Impian, Lestarikan Indonesia”. Melalui kegiatan ini, ratusan siswa diajak terlibat langsung dalam pelatihan membatik serta seni ecoprint. Aktivitas interaktif tersebut dirancang untuk menumbuhkan rasa cinta budaya sekaligus menanamkan pemahaman akan pentingnya keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata.
Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko di InJourney Destination Management, Joel Siahaan menegaskan komitmennya untuk menjadikan Candi Prambanan sebagai living heritage—warisan budaya yang terus hidup, relevan, serta membawa manfaat nyata bagi masyarakat sekitar tanpa mengorbankan nilai autentisitasnya.
Pengelolaan kawasan Candi Prambanan difokuskan pada keseimbangan tiga pilar utama: pelestarian cagar budaya, pengelolaan yang bertanggung jawab, serta pemberdayaan masyarakat lokal. Ragam program edukasi seperti Heritage Class, Junior Wonder, Sanggar Lestari Cagar Budaya, kegiatan kepramukaan, hingga pelatihan mitigasi bencana gempa bumi terus dihadirkan agar generasi muda memiliki kedekatan emosional dengan cagar budaya bangsa.


