Yogyakarta,REDAKSI17.COM – Eks Parkir Abu Bakar Ali (ABA) akan menjadi Ruang Terbuka Hijau (RTH) sebagai bagian dari rencana penataan kawasan Sumbu Filosofi Yogyakarta. Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X pun mengungkapkan keinginannnya agar pada rancangannya RTH ABA dapat meminimalisir keberadaan bangunan.
Hal ini diungkapkan Sekretaris Daerah DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti usai menghadiri Rapat Rencana Penataan Sumbu Filosofi Segmen Selatan pada Kamis (21/05) di Gedhong Gadri, Kompleks Kepatihan. Made mengatakan, Sri Sultan ingin agar keberadaan RTH ABA nantinya bisa memberikan suasana yang berbeda di Kawasan Sumbu Filosofi Yogyakarta.
“Ngarsa Dalem maunya ruang terbuka hijau yang ada nanti paling tidak memberikan suasana nyaman untuk pengunjung. Dan kalau desainnya memang menjadi taman, beliau menginginkan tidak perlu banyak bangunan. Dan memang nanti tidak ada bangunan, hanya ada toilet saja,” ungkapnya.
Made menjelaskan, desain RTH ABA yang ada dan telah diajukan kepada Sri Sultan adalah hutan kota. Pada desain awal ini, keberadaan toilet di tengah RTH karena selama ini sisi utara dari kawasan Malioboro ini juga belum terdapat toilet umum. Namun, dari hasil rapat yang diselenggarakan hari ini, posisi toilet akan digeser ke sisi barat sedikit dan ukuran bangunannya diperkecil.
Menurut Made, Sri Sultan pun lebih menginginkan jika tanaman yang dipilih nantinya tidak hanya tanaman perdu saja. Sri Sultan menginginkan ada semacam pergola di RTH ABA ini, sehingga bisa diberi tanaman hias rindang, sehingga tampilannya lebih berwarna.
“Beliau menginginkan tanaman yang indah, yang bisa nyaman dipandang mata. Tapi nanti bisa kita kombinasikan, perdunya nanti tidak terlalu banyak. Mungkin akan kita kombinasikan dengan jenis perdu yang ada bunga-bunganya,” imbuhnya.
Selain itu, Made pun mengungkapkan, rencana penataan kawasan Panggung Krapyak, yang juga menjadi bagian dari Kawasan Sumbu Filosofi Yogyakarta. Namun sebelum melakukan rencana penataan, identifikasi pertanahan akan lebih dulu dilakukan.
“Karena di sana aktivitas ekonominya cukup padat, permukimannya juga cukup padat, sehingga memang tidak mudah, makanya perlu mengidentifikasi, baik dari sisi kepemilikan lahan maupun kemungkinan-kemungkinan pengembangannya. Dan beliau juga menyampaikan untuk persoalan tanah, coba diidentifikasi dan diselesaikan dulu,” katanya.
Made pun menegaskan, penataan kawasan Panggung Krapyak ini tidak akan mengubah pola maupun sistem yang sudah ada dan berjalan di sana. Pengaturan yang akan dilakukan nantinya akan bersifat menyesuaikan, sembari mencari opsi-opsi penataan yang memang cocok dengan kondisi di sana.
Sebagai informasi, penataan Kawasan Sumbu Filosofi Yogyakarta berfokus pada pelestarian warisan budaya dunia UNESCO melalui pengelolaan tata ruang yang harmonis, pembatasan kendaraan, serta optimalisasi fasilitas pejalan kaki. Garis imajiner yang membentang dari Panggung Krapyak, Keraton, hingga Tugu Pal Putih ini ditata untuk menjaga keselarasan antara manusia, alam, dan nilai spiritual.
HUMAS DIY




