Yogyakarta,REDAKSI17.COM – Hadeging Kadipaten Pakualaman (HKPA) ke-214 tahun ini tidak sekadar menjadi perayaan hari jadi sebuah institusi budaya. Lebih dari itu, momentum tersebut dimaknai sebagai ruang untuk memperkuat pengabdian kepada masyarakat sekaligus meneguhkan semangat kebersamaan atau guyub yang selama ini menjadi denyut kehidupan masyarakat Yogyakarta. Melalui rangkaian kegiatan sosial, budaya, kesehatan, hingga pemberdayaan ekonomi rakyat, Pakualaman menghadirkan peringatan yang lebih dekat dan menyentuh kebutuhan masyarakat.
Ketua Umum Panitia HKPA ke-214, Bendara Pangeran Haryo (BPH) Kusumo Bimantoro, mengatakan peringatan tahun ini mengusung tema “Rinarasing Astuti Nir Ing Sikara”, yang mengandung makna keselarasan lahir dan batin melalui doa, rasa syukur, serta harapan yang dipanjatkan dengan tulus kepada Tuhan Yang Maha Esa. Nilai tersebut diyakini menjadi fondasi penting bagi terciptanya ketenteraman, persatuan, dan kebersamaan di tengah masyarakat.
“Tema ini menggambarkan keyakinan bahwa doa yang dipersembahkan dengan ketulusan hati akan menghadirkan keharmonisan dalam kehidupan, baik pada diri pribadi maupun dalam hubungan dengan sesama. Keselarasan itulah yang menjadi dasar tumbuhnya persatuan dan kebersamaan masyarakat,” ujar BPH Kusumo dalam konferensi pers di Ruang Danawara Barat Pura Pakualaman, Rabu (17/6).
Semangat pengabdian tersebut diwujudkan melalui berbagai kegiatan yang menyentuh langsung masyarakat. Salah satunya adalah Dharma Mulyarja: Khitanan Bersama yang akan digelar pada Kamis (18/6) di Rumah Dinas Bupati Kulon Progo. Program ini diberikan secara gratis bagi masyarakat sebagai bentuk kepedulian sosial yang menjadi salah satu fokus utama HKPA tahun ini. Sebelumnya, Kadipaten Pakualaman juga telah mengawali rangkaian kegiatan dengan program Gizi Sehat untuk Bayi Stunting dan Sosialisasi Kesehatan Ibu Hamil di Kapanewon Girimulyo, Kulon Progo, yang menjangkau ratusan ibu hamil, balita, dan kader posyandu.
Di sisi lain, semangat pemberdayaan ekonomi kerakyatan akan hadir melalui Pasar Sewandanan yang berlangsung pada 20–21 Juni 2026 di Alun-Alun Sewandanan Pakualaman. Mengusung konsep pasar rakyat bernuansa nostalgia, kegiatan ini menghadirkan lebih dari 40 pelaku UMKM yang menawarkan beragam kuliner tradisional, kerajinan lokal, hingga bazar pangan murah hasil kolaborasi dengan sejumlah perangkat daerah dan mitra pembangunan.
Koordinator Lapangan Panitia HKPA, Mas Lurah Nitipustoko, menuturkan Pasar Sewandanan tidak hanya menjadi ruang transaksi ekonomi, tetapi juga wahana mempertemukan masyarakat dengan warisan budaya yang akrab dalam kehidupan sehari-hari. Pengunjung dapat menikmati aneka makanan tempo dulu sekaligus mencoba berbagai permainan tradisional seperti bakiak, egrang, lompat tali, dan kelereng yang kini semakin jarang ditemui.
“Perbedaan Hadeging tahun ini adalah penekanan pada bakti sosial dan pengabdian kepada masyarakat. Namun demikian, unsur budaya tetap kami hadirkan secara kuat melalui berbagai pertunjukan seni tradisi yang dapat dinikmati masyarakat secara gratis,” jelas Nitipustoko.
Nuansa budaya akan semakin terasa melalui beragam pertunjukan yang digelar selama peringatan HKPA, mulai dari Festival Jathilan “Klasik Asik”, uyon-uyon, campursari, hingga pementasan ketoprak “Damar Ing Wanci Panglong” yang dibawakan para abdi dalem Pura Pakualaman. Ketoprak tersebut secara khusus mengisahkan berdirinya Kadipaten Pakualaman, menjadi cara yang menarik untuk mengenalkan sejarah dan nilai budaya kepada generasi muda. Masyarakat juga dapat mengikuti kelas membatik yang menghadirkan motif-motif khas koleksi Pakualaman yang belum banyak dikenal publik.
Puncak peringatan HKPA ke-214 akan ditandai dengan Mlampah Guyub Sesarengan #5 pada Minggu (21/6). Jalan sehat yang telah menjadi agenda favorit masyarakat ini diharapkan menjadi ruang perjumpaan lintas generasi dan berbagai elemen masyarakat dalam suasana yang hangat, setara, dan penuh kebersamaan. Dari langkah-langkah yang menyusuri kawasan Pakualaman itu, tersirat pesan bahwa budaya bukan hanya warisan untuk dikenang, melainkan nilai hidup yang terus dirawat dan dihidupkan bersama.
Melalui rangkaian HKPA ke-214, Kadipaten Pakualaman ingin menegaskan bahwa budaya dan pengabdian merupakan dua hal yang tidak terpisahkan. Ketika nilai-nilai luhur diwariskan melalui tindakan nyata yang bermanfaat bagi masyarakat, budaya akan tetap hidup, relevan, dan menjadi sumber inspirasi bagi pembangunan yang berakar pada jati diri Yogyakarta. Karena itu, seluruh masyarakat dan wisatawan diundang untuk turut hadir, merayakan, dan merasakan semangat guyub yang menjadi ruh peringatan HKPA tahun ini.
Humas Pemda DIY




