Beranda / Aneka Warna / Jenglot

Jenglot

Asal usul Batara Karang atau yang lebih populer dikenal sebagai Jenglot memiliki dua sisi yang sangat berbeda: versi mitos (klenik) yang beredar di masyarakat dan versi pembuktian ilmiah.
Berikut adalah penjelasan dari kedua sudut pandang tersebut mengenai sosok misterius ini:
1. Versi Mitos dan Legenda (Klenik)
Dalam kepercayaan mistis Nusantara, khususnya di Jawa, Jenglot atau Batara Karang bukanlah makhluk gaib sejak lahir, melainkan wujud akhir dari manusia.
• Praktik Ilmu Hitam (Ajian Batara Karang): Konon, di masa lalu, ada pertapa, dukun, atau jawara sakti yang menuntut ilmu hitam bernama Ajian Batara Karang. Ilmu ini dipercaya dapat memberikan kekebalan fisik (tidak bisa terluka oleh senjata) dan keabadian.
• Ditolak oleh Bumi: Ketika penganut ilmu ini meninggal dunia, jasadnya diyakini tidak diterima oleh bumi karena banyaknya dosa dan energi gelap dari ilmu hitam yang menyatu dalam darah dan dagingnya. Jasanya tidak membusuk seperti manusia biasa.
• Proses Menyusut: Karena jasadnya tidak bisa terurai oleh tanah, tubuh tersebut perlahan-lahan menyusut, mengering, dan memfosil selama ratusan tahun hingga berukuran sekitar 10–20 cm. Meskipun tubuhnya mengecil, kuku, gigi taring, dan rambutnya diyakini terus tumbuh.
• Pemeliharaan dan Tumbal: Jenglot sering diburu atau dipelihara oleh pelaku spiritual karena dianggap memiliki “khodam” atau energi magis yang bisa mendatangkan kekayaan, perlindungan, atau sarana santet. Sebagai gantinya, pemiliknya harus memberikan “makan” berupa tetesan darah manusia (sering kali golongan darah O) atau minyak wangi khusus (seperti minyak jafaron) pada waktu-waktu tertentu.
2. Versi Fakta Ilmiah dan Forensik
Di balik cerita mistis yang menyelimutinya, dunia sains dan medis telah memberikan jawaban yang jauh lebih logis dan dapat dibuktikan.
• Hasil Rontgen (Sinar-X): Pada tahun 1990-an dan awal 2000-an, beberapa spesimen jenglot pernah diserahkan ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) dan diteliti oleh ahli forensik dari Universitas Indonesia. Hasil foto rontgen menunjukkan bahwa jenglot tidak memiliki struktur tulang yang utuh atau organ dalam. Susunan tulangnya tidak beraturan dan lebih menyerupai gabungan tulang hewan.
• Hasil Tes DNA: Penelitian forensik pada rambut dan kulit ari jenglot memang menemukan DNA manusia. Namun, ini bukan berarti jenglot adalah manusia yang menyusut.
• Karya Modifikasi (Taxidermy): Kesimpulan ilmiah menyatakan bahwa jenglot adalah benda buatan tangan manusia (semacam boneka modifikasi atau taxidermy). Pembuatnya merakit jenglot menggunakan bahan-bahan organik, seperti tulang dan jaringan hewan (biasanya primata kecil, kelelawar, atau ikan), kemudian menempelkan rambut serta kuku manusia asli untuk memberikan efek mistis dan nyata.
Secara kultural, mitos Batara Karang atau Jenglot ini tetap bertahan kuat karena cerita dari mulut ke mulut dan bentuk fisiknya yang memang didesain sedemikian rupa untuk menciptakan aura seram

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *