Ilustrasi.Foto: Rifkianto Nugroho/detikfoto
Jakarta,REDAKSI17.COM – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi relatif stabil dan cenderung menguat. Hal ini sejalan dengan langkah-langkah Bank Indonesia (BI) menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah terus diperkuat. Langkah ini menyusul meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global.
“Bank Indonesia meningkatkan intensitas intervensi valuta asing untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, baik melalui intervensi di pasar NDF luar negeri, offshore NDF (Non-Deliverable Forward) maupun transaksi spot dan domestic non-delivery forward (DNDF) di pasar dalam negeri,” ujar Perry dalam konferensi pers virtual, Rabu (22/4/2026).
Tak hanya itu, Perry mengatakan, struktur suku bunga instrumen moneter ikut diperkuat untuk menarik aliran masuk investasi portofolio asing. BI juga memperkuat kebijakan transaksi valuta asing dengan penyesuaian threshold (ambang batas).
“Bank Indonesia memperkuat kebijakan transaksi valuta asing dengan tunai beli valas terhadap rupiah, peningkatan threshold jual di NDF atau forward, peningkatan threshold beli dan jual Swap yang berlaku mulai April 2026,” terang Perry.
Berdasarkan data per 21 April 2026, nilai tukar rupiah tercatat berada di level Rp 17.140 per dolar AS. Angka ini menunjukkan pelemahan sebesar 0,87% (point to point) dibandingkan posisi akhir Maret 2026. Kendati melemah, nilai tukar rupiah diyakini ke depan relatif stabil dan cenderung menguat.
“Ke depan Bank Indonesia meyakini nilai tukar rupiah akan stabil dan cenderung menguat didukung oleh komitmen Bank Indonesia, imbal hasil yang menarik, serta prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap baik,” jelas Perry.





