GEDONGTENGEN,REDAKSI17.COM –  Pemerintah Kota Yogyakarta berkolaborasi dengan Supermarket Pamella melaksanakan bedah rumah tidak layak huni (RTLH) di wilayah Kelurahan Pringgokusuman, Gedongtengen dan Panembahan, Kraton pada Minggu (3/5/2026). Bedah rumah kali ini menggunakan bantuan program Corporate Social Responsibility (CSR) Supermarket Pamella serta bantuan dari beberapa organisasi perangkat daerah (opd) dan keluarga  besar umat Kristiani Pemkot Yogyakarta. Kegiatan bedah rumah itu tidak hanya memperbaiki rumah tapi juga membangun kebersamaan gotong royong masyarakat.
Bedah rumah pertama dilakukan di rumah milik Rochiban di Notoyudan RT 89 RW 25 Pringgokusuman. Kondisi rumahnya mengalami kerusakan di bagian atap tengah melengkung dan bagian atap depan terlalu rendah. Bagian dalam juga ada yang bocor saat hujan dan kamar mandi kurang layak. Sedangkan bedah rumah kedua menyasar rumah Rachmat Subagyono di Panembahan RT 46/RW 12, Kraton. Kondisi rumahnya ada dinding yang retak, beberapa kayu rapuh dan sebagian genteng harus diganti.

Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menurunkan beberapa genteng sebagai simbol kegiatan bedah rumah di Panembahan dimulai .

Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo mengapresiasi dan mengucapkan terima kasih kepada Supermarket Pamella yang memberikan bantuan CSR untuk bedah rumah. Termasuk kepada beberapa OPD Pemkot Yogyakarta yang mendampingi dan keluarga besar umat Kristiani Pemkot Yogyakarta yang ikut membantu program bedah rumah. Hasto menilaj bedah rumah itu tidak sekadar memperbaiki rumah tidak layak huni tapi juga membangun membangun kebersamaan gotong royong masyarakat.
“Supaya tidak dimaknai secara fisik saja, tetapi secara nilai nonfisiknya harus dihikmati. Bahwa bedah rumah gotong royong ini membangun rekonstruksi sosial dari sisi kebersamaan,” kata Hasto ditemui saat bedah rumah.

Hasto melihat kondisi di dalam rumah yang akan dibedah di Kampung Notoyudan Pringgokusuman.

Oleh sebab itu Hasto mengajak masyarakat bergotong royong melaksanakan bedah rumah. Mulai dari Tuwanggana yang menjadi koordinator pelaksana bedah rumah sampai pengurus wilayah RW dan warga. Menurutnya permasalahan orang miskin bisa diselesaikan oleh bersama-sama orang miskin sendiri, asalkan bergotong royong. “Semuanya bergotong royong. Karena maknanya itu bukan rumahnya yang jadi bagus saja, tetapi maknanya gotong royong,” ujarnya.
Hasto berharap semua pihak seperti pengusaha untuk terus melaksanakan CSR kepada masyarakat yang membutuhkan seperti program bedah rumah. Dijelaskan program CSR perusahaan yang dikoordinator Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Yogyakarta sudah mengumpulkan dana program CSR perusahaan-perusahaan. Contoh akan ada csr bedah rumah dari pengusaha Real Estate Indonesia (REI). Selain itu dari Baznas Kota Yogyakarta lebih dari sepuluh rumah  yang akan dilaksanakan tiap hari Minggu.

Pemilik Supermarket Pamella, Noor Liesnani Pamella (kanan) menyerahkan bantuan bedah rumah di Pringgokusuman kepada Tuwanggana sebagai Pelaksana perbaikan rumah.

Sementara itu Pemilik Supermarket Pamella, Noor Liesnani Pamella menyebut pada tahun 2026 Pamella memberikan bantuan CSR bedah rumah untuk 5 rumah setelah tahun lalu menyasar 10 rumah. Bantuan CSR sebesar Rp 20 juta tiap rumah. Dia merasa  tergerak hatinya  saat  Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menyampaikan di Yogya  masih banyak rumah yang tidak layak huni, kemudian akan dibedah. Ia mengajak kepada para pengusaha-pengusaha terutama yang ada rezeki berlebih untuk membantu keluarga miskin di Kota Yogyakarta agar mendapatkan rumah layak huni, sehingga hidupnya sehat.
“Saya minta kepada Allah agar saya bisa memberi manfaat ke banyak orang. Saya  merasakan jadi orang miskin karena saya pernah dulu merasakan itu. Ternyata orang miskin itu nggak nyaman, nggak enak, apalagi rumahnya yang tidak layak. Jadi  tergerak hati saya. Saya ikhlas sekali membantu karena saya dapat rezeki itu  dari Allah, saya kembalikan kepada hamba Allah juga,” tutur Liesnani.

Sedangkan penerima manfaat bantuan bedah rumah Rachmat Subagyono mengucapkan terima kasih atas bantuan bedah rumah itu. Dia menyatakan kerusakan rumah ada di bagian dinding yang retak-retak karena kondisi usia rumah sudah tua. “Harapan saya supaya bisa dibetulin biar aman ditempati, terus nyaman, tidak mengkhawatirkan,” imbuh Subagyono.
Hal senada disampaikan Rochiban  warga Notoyudan yang mendapat program bedah rumah. Selain atap di tengah yang melengkung karena sambungan kayu kecil dan saat hujan sebagian atap juga bocor. “Atapnya (depan) ini terlalu pendek. Kalau ada orang meninggal, itu bawa jenazah sering nyanggrok (tersangkut) ini. Makanya ini kalau bisa dinaikkan supaya enggak ganggu jalan,” pungkas Rochiban.