Kulon Progo,REDAKSI17.COM – Pemerintah Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, meluncurkan inovasi kolaboratif bertajuk “Gora Bangsa” (Gotong Royong, Kolaborasi Membangun Pariwisata) dalam rangkaian acara Festival Pantai Congot “Sambanggo” guna memperkuat setor pariwisata.

Kegiatan yang dihadiri ratusan masyarakat tersebut menjadi momentum penguatan sektor pariwisata daerah sekaligus upaya strategis untuk mengentaskan kemiskinan melalui pemberdayaan ekonomi lokal.

Wakil Bupati Kulon Progo Ambar Purwoko di Kulon Progo, Minggu, menekankan pentingnya sinergi lintas elemen, mulai dari tingkat masyarakat akar rumput hingga pemerintah, untuk memajukan potensi wisata daerah.

“Kabupaten Kulon Progo harus bangkit dan maju. Kita harus bergerak bersama dari tingkat bawah sampai atas untuk memperlihatkan kepada dunia bahwa daerah kita indah, ramah, dan berbudaya,” ujar Ambar Purwoko.

Kepala Dinas Pariwisata Kulon Progo Sutarman menjelaskan bahwa program “Gora Bangsa” merupakan implementasi strategi pentahelix yang melibatkan akademisi, pemerintah, komunitas, dan media.

“Tujuan utamanya adalah meningkatkan kunjungan wisatawan, meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD), dan pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kulon Progo,” ungkap Sutarman.

Dalam festival tersebut, Pemkab Kulon Progo juga meresmikan Angkringan “Lawis Segoro” (Lawan Kemiskinan dengan Semangat Gotong Royong) yang dikelola oleh BUMDes Binangun Sejahtera Kalurahan Jangkaran.

Angkringan ini berfungsi sebagai pusat pemasaran bagi produk-produk UMKM hasil kreasi ibu-ibu rumah tangga di wilayah tersebut. Saat ini, tercatat lebih dari 15 pelaku ekonomi rumah tangga telah bergabung sebagai mitra.

Kehadiran unit usaha ini diharapkan mampu memberikan dampak ekonomi nyata bagi warga sekitar seiring dengan meningkatnya arus kunjungan wisatawan di Pantai Congot.

Penyelenggaraan festival tahun ini dinilai menjadi titik awal transformasi pariwisata Kulon Progo yang lebih adaptif, berdaya saing, dan berkelanjutan. Sinergi antara pemerintah kalurahan, dinas terkait, hingga event organizer menjadi kunci sukses dalam membangun ekosistem wisata yang inklusif.

“Sebagai bagian dari agenda festival, masyarakat juga diajak terlibat aktif melalui kegiatan senam sehat, lomba mewarnai anak, serta promosi produk lokal sebagai bentuk gotong royong memajukan daerah,” kata Sutarman.