
Kulon Progo,REDAKSI17.COM – Pemerintah Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, menargetkan Jembatan Nglinggan atau Jembatan Trisik di Kapanewon Galur, yang sempat ambles akibat gerusan arus sungai pada Februari 2024, dapat kembali beroperasi pada awal Agustus 2026, sehingga mendongkrak ekonomi dan pariwisata di wilayah ini.
Jembatan yang melintasi Sungai Gonzairo tersebut kini telah tersambung sepenuhnya setelah pembangunan ulang yang dimulai sejak November 2025 dengan dukungan dana APBN melalui program Inpres Jalan Daerah (IJD) senilai Rp13,778 miliar.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Kulon Progo Didik Wijanarto di Kulon Progo, Senin, mengatakan progres fisik di lapangan berjalan sesuai dengan linimasa yang direncanakan.
“Setelah struktur utama tersambung, fokus pekerjaan kini beralih ke pengecoran lantai jembatan, penyelesaian dinding penahan tanah, serta pengaspalan jalan pendekat jembatan,” kata Didik.
Ia menjelaskan bahwa jembatan baru ini mengadopsi konstruksi modern dengan sistem gelagar pracetak tanpa pilar tengah untuk mengantisipasi kerusakan serupa di masa depan. Desain tersebut memastikan seluruh beban jembatan bertumpu pada tiang penyangga (abutment) di kedua sisi sungai, sehingga meminimalkan risiko gerusan air dan sumbatan sampah.
Secara teknis, jembatan ini memiliki bentang sepanjang 45,4 meter dengan total lebar 9 meter, di mana lebar badan jalan utama mencapai 6 meter yang memungkinkan kendaraan roda empat dari kedua arah melintas dengan leluasa. Selain itu, jembatan ini juga dilengkapi fasilitas trotoar bagi pejalan kaki.
Pembangunan ulang ini dinilai sangat krusial bagi mobilitas masyarakat pesisir selatan Kulon Progo. Didik menegaskan, jembatan tersebut merupakan urat nadi perekonomian, akses utama menuju destinasi wisata Pantai Trisik dan Pantai Bugel, serta jalur distribusi logistik pertanian.
“Kami berharap jembatan ini bisa segera dimanfaatkan. Ini adalah akses vital bagi mobilitas harian warga pesisir, pariwisata, maupun kelancaran distribusi logistik pertanian,” tambahnya.
Terkait pengerjaan proyek, ia memastikan DPUPKP terus melakukan pengawasan ketat, termasuk koordinasi wilayah dan penanganan dampak sosial. Selama masa penyelesaian akhir, jembatan masih ditutup total untuk umum, sementara arus lalu lintas dialihkan melalui tiga rute alternatif yang telah disiapkan.
Proyek strategis ini dikerjakan oleh Kementerian PUPR melalui Satker Pelaksanaan Jalan Nasional di bawah Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional (BBPJN) Jawa TengahâDIY, dengan kontraktor pelaksana CV Ramadhany Kukuh Sejahtera.
Kehadiran infrastruktur baru ini diproyeksikan tidak hanya memulihkan mobilitas yang sempat terganggu, tetapi juga menjadi ikon baru yang mempercantik kawasan pesisir selatan Kulon Progo.



