Beranda / Hikayat Seni dan Budaya / KULUK KANIGORO

KULUK KANIGORO

Pernah lihat mahkota yang dipakai raja Jawa atau pengantin yang mirip peci tapi tinggi? Itu namanya kuluk.
Kuluk ini dulu merupakan mahkota dari Kesultanan Demak (1475–1568). Bentuknya seperti di foto.
Itu Kuluk Kanigoro, yang terbuat dari emas dengan ornames floral khas Islam. Kuluk Kanigoro saat ini ada di Tropenmuseum, Belanda.
Kuluk ini menandai peralihan busana raja dari Hindu-Buddha ke Islam. Kuluk ini pasca Demak masih dipakai di Mataram Islam dan penerusnya sampai saat ini.
Umumnya Kuluk ini dikatakan mengadopsi peci Fez dari Kesultanan Turki Utsmani (Ottoman). Termasuk dalam deskripsi atas Kuluk Kanigoro di berbagai tulisan.
Lalu ada juga yang menyangkal dan mengatakan ini asli Jawa, Turki yang meniru, karena Ottoman baru memakai Fez di Abad ke-19.
Dua pendapat tersebut sama-sama keliru.
Yang benar adalah Kuluk ini tidak mengadopsi Fez Ottoman tapi Fez yang sudah lama dipakai orang-orang Muslim di Timur Tengah dan Afrika. Nama Fez dari kota di Maroko.
Fez memang dipopulerkan Ottoman di abad ke 19. Saat itu Sultan Mahmud II menjadikannya mahkota dan pakaian tentara dalam reformasi busana di pemerintahannya. Menggantikan sorban yang berat dan ribet pemakaiannya.
Tapi orang-orang Turki sudah memakai topi atau peci ini sejak sejak 1460. Jauh sebelum Demak berdiri. Ini juga membantah cocokologi bahwa Turki lah yang dipengaruhi Demak.
Di dunia Islam Fez ini dikenal dengan nama dari Bahasa Arab; Tarbus. Turunan dari Bahasa Persia Sarpus yang artinya penutup kepala.
Fez modern yang dipopulerkan Turki juga banyak dipakai aaktivis gerakan global Islam melawan kolonialisme. Modifikasi Fez modern kemudian menjadi peci di Indonesia dipupulerkan aktivis Islam di era pergerakan.
Misalnya oleh Syarekat Islam atau Haji Oemar Said Tjokroaminoto. Soekarno juga membuatnya semakin populer dan kemudian Songkok Nasional ini jadi penutup kepala busana resmi Indonesia.
Maka Kuluk Kanigoro merupakan artefak yang penting bagi Indonesia. Semoga masuk dalam program repatriasi dan bisa dipulangkan dari Belanda ke Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *