
KULON PROGO,REDAKSI17.COM – Langkah strategis nasional dalam penanganan kemiskinan ekstrem melalui sektor pendidikan bersiap memulai babak baru di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Ditandai dengan Pembukaan Rapat Konsolidasi dan Open House Sekolah Rakyat di kompleks Sekolah Rakyat, Dusun Wonolopo, Kalurahan Gulurejo, Kapanewon Lendah, Kulon Progo.
Kegiatan ini menjadi momentum krusial dalam menyosialisasikan dan mengenalkan sistem pembelajaran Sekolah Rakyat kepada masyarakat. Untuk wilayah DIY, tercatat total 314 siswa yang siap menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat. Mayoritas siswa didominasi anak-anak asal Kulon Progo, yakni sebanyak 187 siswa, dengan rincian 7 siswa SD, 90 siswa SMP, dan 90 siswa SMA.
Menteri Sosial (Mensos) RI, Saifullah Yusuf atau akrab disapa Gus Ipul menyampaikan Sekolah Rakyat di Kulon Progo merupakan salah satu dari 104 gedung permanen yang berhasil dibangun pada tahun 2026. Tanah pembangunan sendiri disediakan langsung oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X, sedangkan proses konstruksinya dikebut Kementerian Pekerjaan Umum (PU) atas arahan Presiden Prabowo Subianto.

“Alhamdulillah, pembangunan di tempat ini sudah mencapai lebih dari 90 persen. Targetnya dua minggu lagi sudah bisa dimanfaatkan untuk proses belajar mengajar,” ujar Gus Ipul di lokasi, Senin (6/7/2026).
Ia menambahkan gedung baru ini dirancang dengan kapasitas total 1.000 siswa untuk jenjang SD, SMP, hingga SMA. Pihaknya memproyeksikan penambahan kuota penerimaan siswa secara masif di tingkat nasional, dari 30.000 siswa pada tahun ini menjadi 100.000 siswa pada tahun depan, hingga ditargetkan menyentuh angka 800.000 siswa di seluruh Indonesia pada akhir tahun 2029.
Berbeda dengan sekolah reguler, Sekolah Rakyat menerapkan masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) selama dua minggu, yang kemudian dilanjutkan dengan program matrikulasi khusus selama 3 bulan.
“Kita memerlukan waktu untuk semua beradaptasi. Siswanya perlu beradaptasi dengan kebiasaan baru, guru-gurunya juga perlu mendalami setiap potensi siswa agar pendampingannya tepat dan siswa bisa menemukan talent-nya dengan baik,” urai Mensos.
Selain itu, guna menguatkan kedisiplinan siswa, program ini juga akan melibatkan sekitar 2.000 Taruna Bakti dari Akademi Militer (Akmil) dan Akademi Kepolisian (Akpol). Sebanyak 5 Taruna Akmil dan 5 Taruna Akpol akan diterjunkan ke tiap-tiap sekolah selama 5 hari untuk melatih pembiasaan baik, mulai dari merapikan tempat tidur, membersihkan toilet, hingga manajemen kedisiplinan personal.
Mensos menegaskan bahwa proses rekrutmen siswa Sekolah Rakyat tidak membuka pendaftaran umum, melainkan menggunakan sistem penjangkauan berbasis data kemiskinan yang divalidasi oleh pendamping sosial, Dinas Sosial, Dikdasmen, dan tokoh masyarakat, yang kemudian ditetapkan melalui keputusan kepala daerah.
Gus Ipul menerangkan, program Sekolah Rakyat awalnya bergerak sebagai sekolah rintisan yang memanfaatkan gedung sementara di 166 titik dari Sabang sampai Merauke. Mulai tahun 2026 ini, pemerintah secara bertahap menggantinya dengan infrastruktur kokoh.
Gedung Sekolah Rakyat Kulon Progo sendiri merupakan bagian dari 104 gedung permanen yang dikebut pembangunannya pada tahun anggaran 2026. Guna melakukan akselerasi pengentasan kemiskinan, Kementerian Sosial menetapkan target proyeksi pertumbuhan jumlah siswa Sekolah Rakyat secara progresif dengan target 2029 busa menampung total lebih dari 800.000 untuk jenjang SD, SMP, SMA.
“Target akhir di tahun 2029 tersebut dihitung dengan asumsi jika sarana dan prasarana bisa disediakan sesuai rencana, di mana setiap kabupaten/kota di Indonesia nantinya akan memiliki satu gedung permanen Sekolah Rakyat yang mampu menampung sekitar 2.000 siswa,” jelas Gus Ipul.
Pemerintah juga menerapkan skema pengisian bertahap untuk gedung-gedung permanen baru ini. Gedung tidak langsung diisi penuh, melainkan diisi secara bertahap dalam kurun waktu 3 tahun dengan rata-rata menerima 300 hingga 600 siswa per tahun di tiap titiknya hingga kapasitas gedung terpenuhi secara maksimal.
Wakil Bupati Kulon Progo, Ambar Purwoko, menyambut baik dan bersyukur atas kepastian operasional Sekolah Rakyat di Kulon Progo pada tahun ajaran ini. Rapat konsolidasi yang mengumpulkan calon kepala sekolah, guru, murid, beserta wali murid dinilai memberikan kejelasan masa depan pendidikan anak-anak di Kulon Progo.
Menanggapi arahan Mensos terkait pemenuhan fasilitas atau tenaga pendukung yang sekiranya masih kurang, Ambar menyatakan komitmen penuh jajaran pemerintah daerah untuk berkolaborasi. Ia pun mengusulkan agar operasional teknis sekolah turut memberdayakan warga sekitar.
“Kami dari pemerintah daerah akan selalu berkolaborasi dan berkoordinasi terkait dengan kekurangan-kekurangan tersebut. Termasuk ke depan, kami ingin mengusulkan untuk posisi security, office boy, dan segala macamnya kalau bisa mohon melibatkan masyarakat sekitar, khususnya di Kabupaten Kulon Progo,” ungkap Ambar Purwoko.
Menurut Ambar, pelibatan warga lokal sangat penting karena mereka lebih memahami situasi dan kondisi wilayah setempat, sekaligus dapat memberikan dampak perputaran ekonomi yang positif bagi lingkungan sekitar sekolah sejak awal beroperasi.
Hadirnya Sekolah Rakyat dengan fasilitas lengkap memicu rasa optimisme tinggi di kalangan para peserta didik. Renatha, salah seorang siswa asal Sleman yang akan menempuh pendidikan di fasilitas ini, mengaku sangat kagum dengan sarana penunjang bakat yang disediakan oleh pemerintah.
“Menurut saya, Sekolah Rakyat itu bagus sekali karena ini program pertama dari Presiden kita, Bapak Prabowo Subianto, untuk memutus rantai kemiskinan. Fasilitasnya sangat luar biasa dan cukup lengkap; ada laboratorium, perpustakaan, lapangan basket, lapangan voli, bahkan lapangan sepak bola pun ada. Sekolah Rakyat membantu menaikkan bakat dan minat yang dimiliki siswa,” kata Renatha.
Senada dengan Renatha, Nur yang juga merupakan siswa asal Sleman menilai sarana prasarana yang ada sudah sangat memadai, baik untuk kebutuhan personal maupun kebutuhan akademis harian.
“Fasilitas dari sekolahnya sendiri sangat mencukupi kebutuhan siswa. Tidak hanya kebutuhan pribadi, tetapi juga ruang kelas untuk belajar, ruang laboratorium, perpustakaan, dan tempat olahraga. Harapan saya, semoga dengan adanya Sekolah Rakyat ini mampu menciptakan generasi-generasi emas untuk melanjutkan perjuangan bangsa Indonesia yang lebih maju,” pungkas Nur.
Dengan koordinasi intensif yang terus berjalan antara Kementerian Sosial, Kementerian PU, serta Pemerintah Daerah, Sekolah Rakyat di Kulon Progo siap menjadi percontohan nasional dalam mencetak generasi unggul dari keluarga prasejahtera.



