TEL AVIV,REDAKSI17.COM– Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada hari Rabu mengisyaratkan bahwa Israel dapat melancarkan tindakan militer sepihak terhadap Iran.Ini terlepas dari upaya regional yang sedang berlangsung untuk mencapai kesepakatan diplomatik antara Teheran dan Washington.
Pernyataan tersebut disampaikan saat para mediator Qatar mengonfirmasi bahwa negosiasi telah mencapai tahap lanjut, dan di saat yang sama Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa upaya untuk menggulingkan Republik Islam tersebut telah gagal.
Dalam pernyataannya pada hari Rabu, Netanyahu menegaskan tekad Israel untuk mencegah Iran memiliki senjata nuklir, seraya mengisyaratkan bahwa tindakan militer tetap menjadi pilihan terlepas dari perkembangan diplomatik yang ada.
“Hari ini kita mendengar komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran, Ahmad Vahidi, menyatakan bahwa Iran berniat untuk terus mengembangkan senjata nuklir,” klaim Netanyahu.
“Sebagai perdana menteri Israel, saya bertekad untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir.” Sembari menyebut Amerika Serikat sebagai “sekutu terbesar Israel,” Netanyahu menambahkan bahwa ia siap melakukan “apa pun yang diperlukan” demi menjamin keamanan Israel.
Pernyataan Netanyahu tersebut disampaikan di tengah berlanjutnya upaya diplomatik yang bertujuan mengakhiri konfrontasi selama berbulan-bulan antara Iran dan Amerika Serikat.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed Al-Ansari, mengatakan pada hari Selasa bahwa upaya mediasi telah mencapai “tahap lanjut,” di mana kedua belah pihak saling bertukar draf usulan seiring berlanjutnya negosiasi menuju kesepakatan yang lebih luas. Ia menyatakan bahwa para mediator kawasan terus menjalin komunikasi dengan semua pihak demi mencapai solusi diplomatik.
Negosiasi terkini ini menyusul konflik selama berbulan-bulan yang bermula setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan operasi militer terhadap Iran pada akhir Februari. Sejak saat itu, Pakistan dan Qatar telah memainkan peran utama dalam mediasi, yang menghasilkan penandatanganan nota kesepahaman pada bulan Juni, sebelum akhirnya negosiasi terhenti akibat sejumlah masalah, termasuk terkait pelayaran di Selat Hormuz.
Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa upaya untuk menggulingkan Republik Islam telah gagal, meskipun ada tekanan militer selama berbulan-bulan. Dalam pidatonya di hadapan rakyat Iran, Pezeshkian mengatakan bahwa pihak-pihak yang memusuhi Iran yakin mereka dapat menyebabkan keruntuhan negara tersebut dalam waktu 48 jam.
“Musuh-musuh kita menyusun rencana dan beranggapan bahwa mereka bisa menguasai Iran—seperti yang mereka lakukan di Suriah—dalam waktu 48 jam,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa di tengah perang dan tantangan yang kian berat, Iran tetap menjadi “negara kuat yang sangat dihormati.”
Pezeshkian menggambarkan situasi saat ini sebagai masa tersulit sejak Revolusi Islam 1979, namun menegaskan bahwa persatuan nasional telah mencegah runtuhnya Iran. “Selama kita tetap bersatu dengan rakyat, tidak ada kekuatan yang mampu menggulingkan Republik Islam,” tegasnya. Ia juga menuding pihak lawan berupaya memicu keresahan publik melalui tekanan ekonomi dan serangan militer, seraya menyatakan bahwa rakyat Iran tetap teguh dalam membela negara mereka.
Menurut Pezeshkian, ketika upaya militer gagal, musuh-musuh Iran beralih melakukan pembunuhan, dengan keyakinan bahwa mereka dapat meruntuhkan negara tersebut dengan menargetkan kepemimpinannya.
“Mereka mengira negara akan runtuh setelah tindakan keji mereka, namun institusi-institusi negara tetap berjalan, pemimpin baru terpilih, dan kehadirannya saat ini menjadi sumber kekuatan bagi kita untuk melanjutkan perjuangan ini,” ujarnya.





