
PAKUALAMAN,REDAKSI17.COM — Ruang hotel tak hanya menjadi tempat menginap, tetapi juga dapat menjadi ruang bertemunya seni, budaya, dan kreativitas. Gagasan tersebut diwujudkan melalui Art Exhibition “Wahyu Tumurun” yang digelar di Lobby Area 1O1 STYLE Yogyakarta Malioboro yang berlangsung mulai hari ini tanggal 2 Oktober hingga 2 Desember 2026.
Pameran yang digelar dalam rangka memperingati Hari Batik Nasional 2026 ini mempertemukan karya seni lukis, warisan budaya Jawa, dan ruang hospitality dalam satu pengalaman estetika bagi para tamu hotel.
Pameran tersebut secara resmi dibuka oleh Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan. Sejumlah pelukis turut ambil bagian, di antaranya Acep Zamzam Noor, Gatut Yuwono, Tulus Warsito, Rochmad Widodo, serta puluhan pelukis lainnya.
Mengangkat tema “Wahyu Tumurun”, pameran ini terinspirasi dari salah satu motif batik klasik Keraton Jawa yang sarat dengan nilai filosofis. Dalam tradisi Jawa, motif Wahyu Tumurun dimaknai sebagai simbol turunnya anugerah, petunjuk, berkah, dan kebahagiaan dari Tuhan kepada manusia.
Dalam sambutannya, Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan mengapresiasi penyelenggaraan pameran yang memberikan ruang bagi seniman untuk mempresentasikan karya mereka kepada publik.
Menurut Wawan, kegiatan seni dan kreativitas memiliki peran dalam menggerakkan ekosistem ekonomi kreatif di Kota Yogyakarta. Ia menilai hotel tidak hanya dapat dipandang sebagai tempat menginap, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai ruang pamer dan tempat masyarakat berkreasi. “Hotel tidak hanya sebagai hunian, tetapi semua tempat bisa menjadi tempat pameran maupun tempat orang berkreasi,” ujarnya.

Ia mencontohkan berbagai kegiatan kreatif yang digelar di sejumlah ruang alternatif di Yogyakarta dan sekitarnya. Menurutnya, inovasi dalam memilih tempat maupun mengemas kegiatan seni dapat menciptakan pengalaman baru bagi masyarakat. “Yang penting bisa memberi banyak manfaat untuk para pelaku usaha, khususnya bagaimana mengembangkan industri kreatif,” katanya.
Pihaknya mengatakan, Kota Yogyakarta memiliki kekuatan besar pada sektor ekonomi kreatif. Karena itu, kolaborasi antara pemerintah, seniman, pelaku usaha, hotel, komunitas, dan masyarakat perlu terus dikembangkan. “Kita sama-sama bangkitkan Jogja kembali. Kemampuan kita itu industri kreatif,” ujar Wawan.
Menurutnya, industri kreatif memiliki prospek jangka panjang karena bertumpu pada kreativitas manusia. “Industri kreatif kita akan jauh lebih kreatif dimulai dari Jogja, kita mulai sama-sama bagaimana industri kreatif menjadi motor pergerakan ekonomi Kota Jogja,” imbuhnya.
Sementara itu, General Manager Hotel 1O1 STYLE Yogyakarta Malioboro, AR Atik Damarjati mengatakan, penyelenggaraan Art Exhibition “Wahyu Tumurun” merupakan salah satu bentuk komitmen hotel dalam mendukung pelestarian budaya Indonesia.
“Dalam rangka memperingati Hari Batik Nasional, Art Exhibition ‘Wahyu Tumurun’ menjadi salah satu bentuk komitmen kami dalam mendukung pelestarian budaya Indonesia,” katanya.
Menurut Atik, pameran tersebut diharapkan dapat memberikan pengalaman yang lebih bermakna kepada para tamu, tidak hanya melalui kenyamanan selama menginap, tetapi juga melalui suasana hotel yang diperkaya karya seni dan pengalaman budaya khas Yogyakarta.

“Melalui pameran ini, kami berharap para tamu dapat menikmati pengalaman yang lebih bermakna, mulai dari kenyamanan selama menginap, menikmati suasana hotel yang diperkaya oleh karya seni, hingga memperoleh pengalaman budaya yang autentik selama berada di Yogyakarta,” ujarnya.
Ia menambahkan, penyelenggaraan pameran tersebut sejalan dengan salah satu business pillar Panorama Hospitality Management (PHM), yakni Experience, yang menjadi bagian dari layanan kepada setiap tamu.
“Wahyu Tumurun” pada akhirnya tidak hanya menjadi agenda apresiasi seni, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan antara warisan budaya dan kehidupan modern. Melalui ruang hotel, karya para seniman dapat lebih dekat dengan masyarakat sekaligus membuka peluang kolaborasi antara pelaku seni, industri hospitality, Pameran dan ekosistem ekonomi kreatif Yogyakarta,” ungkapnya.
Salah satu pelukis, Rochmad Widodo mengatakan, gagasan pameran tersebut bermula dari pertemuan dan komunikasi dengan pihak hotel hingga akhirnya dapat diwujudkan dalam sebuah pameran.

“Harapannya semua pertemuan yang di sini akan mendatangkan wahyu bagi hotel ini, karyawannya serta tamu undangan. Semoga terus berlanjut dan menjadi titik temu komunitas pelukis sekaligus membuka jejaring baru bagi para pelaku seni di Kota Yogyakarta,” ungkapnya.


