Kulon Progo,REDAKSI17.COM – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), mencanangkan Sekolah Lansia di Pantog Wetan, Kelurahan Banjaroyo, sebagai langkah strategis untuk mewujudkan kelompok lanjut usia (lansia) yang mandiri, sehat, aktif, dan produktif.

Wakil Bupati (Wabup) Kulon Progo Ambar Purwoko di Kulon Progo, Senin, mengatakan kehadiran sekolah tersebut merupakan bentuk komitmen pemerintah dalam menciptakan lingkungan yang inklusif dan ramah bagi lansia.

Menurutnya, program tersebut sekaligus menanamkan paradigma bahwa proses belajar merupakan aktivitas sepanjang hayat (long-life learning).

“Kehadiran Sekolah Lansia ini adalah langkah nyata dalam membangun masyarakat Kulon Progo yang inklusif. Melalui sekolah ini, kami ingin menunjukkan bahwa proses belajar tidak mengenal batas usia,” ucap Ambar Purwoko.

Melalui Sekolah Lansia, pihaknya berharap para lansia tidak hanya memiliki usia yang panjang, tetapi juga mampu menjalani masa tua dengan penuh semangat, bahagia, dan tetap memberikan kontribusi positif bagi keluarga serta lingkungan sekitarnya.

“Dengan Sekolah Lansia ini diharapkan lansia bahagia dan mandiri,” katanya.

Sementara itu perwakilan BKKBN DIY Rohdhiana Sumariati menjelaskan pembentukan sekolah ini menjadi krusial untuk mendampingi lansia dalam menghadapi perubahan fisik maupun emosional.

Ia menyebut lingkungan sosial terkadang memberikan stigma negatif yang membuat lansia merasa tidak berguna, sehingga kehadiran sekolah ini diharapkan dapat menepis anggapan tersebut.

“Lansia membutuhkan pendampingan dan teman sebaya. Di sini mereka akan dibekali materi untuk mengelola emosi agar tetap berpikir positif dan percaya diri, sehingga mereka tidak merasa dikucilkan,” kata Rohdhiana.

Sekolah Lansia Puspasari di Banjaroyo tersebut menerapkan sistem kelas nonformal berbasis kurikulum terstruktur. Untuk jenjang Standar 1 (S1), terdapat 12 materi pokok yang difokuskan pada upaya kemandirian lansia dalam mengurus diri sendiri.

Selain materi kelas, kata dia, program ini juga mencakup aktivitas fisik yang disesuaikan dengan kapasitas usia. “Olahraga yang diberikan bukan yang energetik, melainkan gerakan ringan seperti stimulasi otak dan motorik untuk melatih daya ingat serta kecerdasan yang mulai menurun secara alami,” jelasnya.

Program ini disambut antusias oleh warga setempat. Pitoyo (64), salah satu peserta lansia, mengungkapkan kehadiran sekolah ini menjadi pelengkap bagi kegiatan posyandu lansia yang telah berjalan sebelumnya.

“Kami sangat senang, karena bisa saling bersilaturahmi dengan teman sebaya. Harapannya, dengan mengikuti kegiatan rutin seperti ini, kesehatan kami bisa terus terjaga,” kata Pitoyo.