
UMBULHARJO,REDAKSI17.COM – Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Dinas Kesehatan terus memperkuat upaya pencegahan dan penemuan kasus Tuberkulosis (TBC) melalui kegiatan Active Case Finding (ACF). Hingga hari ini, Jumat 11 September 2026, pelaksanaan ACF telah berjalan sekitar 35 persen terlaksana.
Epidemiolog Ahli Muda, Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Setyogati Candra Dewi mengatakan, pelaksanaan ACF sejak Juli hingga awal September telah menyasar 18 lokus dari 52 lokus yang direncanakan.
Selain itu, dari 18 lokus tersebut, sebanyak lima lokus telah melaksanakan pemeriksaan menggunakan X-ray portabel. Pemeriksaan X-ray dilakukan secara bergiliran karena alat tersebut masih dipinjam dari Rumah Sakit Respira dan penggunaannya harus menyesuaikan jadwal dengan kabupaten/kota lainnya.
“Dari 52 lokus yang direncanakan, yang menggunakan X-ray ada 25 lokus. Sampai hari ini yang sudah terlaksana menggunakan X-ray ada lima lokus,” jelas Setyogati Candra Dewi saat ditemui, Jumat (11/9).
Ia menambahkan, pelaksanaan ACF tetap berjalan meskipun pemeriksaan X-ray tidak dapat dilakukan di lokasi. Apabila berdasarkan hasil skrining peserta membutuhkan pemeriksaan rontgen, peserta akan dirujuk ke Rumah Sakit Pratama.
Dalam pelaksanaannya, kegiatan ACF terintegrasi CKG juga menyasar berbagai kelompok usia. Sebagian besar peserta berasal dari kelompok usia produktif dan lansia karena kegiatan dilakukan berbasis masyarakat. Meski demikian, kelompok anak-anak juga menjadi perhatian, terutama anak yang memiliki faktor risiko.
“Salah satu pelaksanaan di wilayah kerja Puskesmas Mergangsan, misalnya, menyasar balita yang memiliki kondisi berat badan tidak naik atau berisiko mengalami stunting. Pemeriksaan dilakukan untuk memastikan apakah terdapat indikasi TBC sekaligus menentukan kebutuhan terapi pencegahan,” ungkapnya.
Pihaknya mengatakan pemeriksaan X-ray juga membantu dalam penegakan diagnosis TBC pada anak. Hal ini karena anak sering kali lebih sulit memberikan sampel dahak dibandingkan orang dewasa.
“Penegakan diagnosis TBC pada anak memang agak sulit dibanding orang dewasa. Karena itu, pemeriksaan rontgen pada anak juga membantu untuk melihat gambaran kondisi paru-parunya,” ujarnya.
Selain penemuan kasus, pencegahan TBC juga dilakukan melalui pemberian Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) kepada kontak erat yang tidak menderita TBC.
“Yang kita datangi belum semuanya mau. Kemudian yang sudah mau didatangi dan akan diberi TPT, belum tentu mau minum obat. Karena mereka merasa sehat, sehingga ketika diberikan obat pencegahan memang perlu edukasi,” katanya.
Sementara itu, Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi, Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Endang Sri Rahayu, mengatakan, pelaksanaan ACF hingga Agustus 2026 telah tercatat 231 orang yang masuk kategori terduga atau suspek TBC dan kemudian menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Selain itu, sebanyak 344 orang telah menjalani pemeriksaan X-ray.
Menurutnya, pemeriksaan dahak dilakukan setelah peserta terlebih dahulu menjalani skrining gejala TBC. Peserta yang menunjukkan gejala kemudian diminta memberikan sampel dahak untuk pemeriksaan menggunakan Tes Cepat Molekuler (TCM).
“Dari yang bergejala kemudian kita minta berdahak. Dari pemeriksaan tersebut sampai Agustus ada 231 suspek. Kemudian kita tindak lanjuti dengan pemeriksaan X-ray,” katanya.
Jumlah pemeriksaan X-ray lebih banyak dibandingkan pemeriksaan dahak karena pemeriksaan rontgen juga diberikan kepada kontak serumah pasien TBC yang tidak menunjukkan gejala.

Endang menjelaskan, pemeriksaan tersebut penting untuk mengetahui kondisi paru-paru anggota keluarga yang memiliki kontak erat dengan pasien TBC.
Jika hasil pemeriksaan menunjukkan kondisi paru-paru normal dan yang bersangkutan tidak menderita TBC, maka dapat diinisiasi untuk mendapatkan TPT.
Sebaliknya, apabila hasil pemeriksaan menunjukkan adanya kelainan yang mengarah pada TBC, maka yang bersangkutan akan mendapatkan penanganan sebagai pasien TBC, bukan terapi pencegahan.
“Tujuannya selain menemukan orang yang bergejala TBC dari masyarakat umum maupun kelompok berisiko, juga meningkatkan cakupan pemberian TPT kepada kelompok kontak serumah pasien TBC,” ungkapnya.
Pihaknya menambahkan, upaya pencegahan TBC juga perlu dilakukan secara menyeluruh melalui penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), pemenuhan asupan gizi, aktivitas fisik, serta kebiasaan hidup sehat lainnya.
“Vaksinasi BCG juga menjadi salah satu bagian dari upaya perlindungan terhadap TBC, terutama pada anak. Selain itu, kondisi lingkungan dan rumah yang sehat turut berperan dalam memutus rantai penularan,” ungkapnya.



