JAKARTA,REDAKSI17.COM– Dalam rangka memperingati Hari Seni Sedunia, Wakil Ketua MPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) menghadiri audiensi bertajuk “Seni Budaya Kreatif Sebagai Identitas Bangsa: Menjaga dan Menghidupkan Warisan Budaya Indonesia”, yang diselenggarakan di Museum Nasional Indonesia (Museum Gajah), Jakarta. Kegiatan ini menghadirkan berbagai pelaku seni dan budaya serta menjadi ruang dialog kebangsaan untuk memperkuat peran seni dalam pembangunan nasional.
*Menjaga dan Mengembangkan Kekayaan Budaya Indonesia*
Dalam sambutannya, Wakil Ketua Umum Partai Demokrat tersebut menegaskan bahwa Indonesia memiliki kekayaan sejarah dan budaya yang luar biasa, yang harus terus dijaga dan dikembangkan. “Indonesia memiliki potensi luar biasa dalam seni dan budaya. Dari berbagai tarian, musik, hingga seni rupa, dan pertunjukkan. Kita memiliki kekayaan yang seharusnya kuat di dalam negeri dan bisa kita angkat ke dunia internasional,” ujar Ibas.
Lulusan S2 NTU Singapura dan S3 IPB University ini juga menekankan bahwa penguatan industri seni budaya kreatif bukan hanya penting sebagai identitas bangsa, tetapi juga sebagai peluang ekonomi Nasional, yang mampu mengisi ruang-ruang industri hiburan, baik di dalam negeri maupun di tingkat global.
*Pentingnya Generasi Muda untuk Mencintai Budaya Sendiri*
Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI ini mengajak generasi muda untuk tidak hanya mengagumi budaya luar, tetapi juga untuk mencintai dan mengembangkan budaya Indonesia sendiri. “Kita harus mengajarkan generasi muda untuk tidak hanya mempertahankan budaya, tetapi juga untuk mengembangkan, dan memajukannya. Kita tidak hanya ingin melestarikan, tetapi juga meningkatkan dan mempercepat manfaat budaya kita,” tegas Anggota Dapil Jawa Timur VII tersebut. Ia juga menekankan pentingnya pendekatan yang lebih inovatif dan kreatif dalam melestarikan kebudayaan, dengan menggabungkan pelestarian dengan inovasi yang relevan di era digital.
*Tantangan Seni di Era Digital dan Peran Teknologi*
Dalam suasana global yang semakin dinamis dan didorong oleh digitalisasi, Wakil Ketua Dewan Penasihat KADIN ini mengingatkan akan tantangan yang dihadapi seni dan budaya Indonesia, terutama dengan adanya perkembangan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI), NFT, dan galeri digital. “Teknologi ini bisa menjadi peluang besar, tetapi juga bisa menjadi ancaman jika tidak dikelola dengan bijaksana,” ungkapnya. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya kolaborasi antara tradisi budaya Indonesia baik itu klasik dan pop modern serta inovasi teknologi, agar seni dan budaya kita tetap relevan dan berkembang di pasar global.
*Mengatasi Keterbatasan yang Dihadapi Pelaku Seni*
Ibas juga mengungkapkan keprihatinannya atas berbagai tantangan yang dihadapi para pelaku seni Indonesia, mulai dari keterbatasan akses pasar hingga rendahnya apresiasi ekonomi terhadap karya seni. Menurutnya, sektor seni budaya bukan hanya soal ekspresi artistik, tetapi juga soal mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. “Pekerja seni harus mendapatkan perlindungan terhadap hak kekayaan intelektual dan kebijakan yang berpihak pada mereka, agar mereka bisa mengembangkan karya mereka tanpa khawatir,” kata Edhie Baskoro.
*Membangun Ekosistem Seni dan Budaya yang Berkelanjutan*
Dalam upaya memperkuat ekosistem seni dan budaya Indonesia, Ibas menyarankan beberapa langkah strategis. Salah satunya adalah mendorong promosi lintas negara dan penguatan peran BUMN dalam sektor pariwisata dan kebudayaan. Ia juga mengusulkan peningkatan kualitas sumber daya manusia di bidang seni dan budaya, seperti kurator dan pemandu wisata, yang akan semakin memperkaya pengalaman wisatawan dan pengunjung museum.
Secara khusus, Ibas memberikan sejumlah saran konkret terkait pengelolaan museum, agar tetap relevan di era digital. Ia menyarankan optimalisasi digitalisasi koleksi museum, pengembangan fitur interaktif berbasis teknologi seperti AI dan video mapping, serta penguatan platform digital yang mengintegrasikan museum di seluruh Indonesia. “Museum harus menjadi tempat yang hidup, bukan hanya sebagai ruang statis. Teknologi memungkinkan kita untuk menghadirkan pengalaman yang lebih menarik dan edukatif,” ujar Ibas.
*Seni sebagai Penguat Persatuan dan Kedaulatan Bangsa*
Ibas juga menegaskan bahwa seni merupakan penerus peradaban bangsa dan instrumen penguat persatuan serta kedaulatan bangsa. “Seni adalah bahasa universal yang mampu menembus batas apapun dan menjadi penghubung antar bangsa. Seni tidak hanya simbol identitas bangsa, tetapi juga cerminan nilai-nilai toleransi, inklusivitas, dan keadilan sosial dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” tambahnya.
*Beragam Aspirasi dari Pelaku Seni*
Dalam forum tersebut, berbagai pelaku seni turut menyampaikan aspirasi mereka yang mencerminkan tantangan nyata di lapangan. Bayu Genia Chrisby dari Galeri Nasional mengungkapkan keterbatasan infrastruktur galeri, meskipun pembangunan gedung baru sedang direncanakan. Pradetya Novitri dari Yayasan Titimangsa menyoroti berkembangnya seni teater yang kini semakin diminati publik, namun masih membutuhkan dukungan berkelanjutan dari negara. Dewi Ratna Ningsih, Putri Indonesia 2025, menekankan pentingnya jaminan kesejahteraan bagi pelaku seni, seperti asuransi, yang hingga kini belum merata.
Selain itu, Nyoman Trianawati menyampaikan upaya pelestarian tari tradisional yang telah dilakukan selama puluhan tahun, dengan harapan adanya dukungan lebih dalam bentuk ruang dan pendanaan. Kathalizsa dan Agung Sentausa menyoroti keterbatasan akses pendanaan, rendahnya manajemen seni profesional, serta perlunya pembaruan regulasi ketenagakerjaan agar lebih adaptif terhadap perkembangan industri kreatif.
*Sinergi Antara Pemerintah dan Komunitas Seni*
Pandangan-pandangan tersebut menggarisbawahi pentingnya sinergi antara pemerintah, legislatif, dan komunitas seni dalam membangun ekosistem kebudayaan yang berkelanjutan. Fraksi Partai Demokrat sendiri menyampaikan beberapa pandangan strategis, di antaranya terkait dengan keberpihakan negara melalui program Dana Indonesiana 2.0 dan pentingnya regulasi yang melindungi hak kekayaan intelektual pelaku seni.
*Simbolis Bantuan untuk Museum Nasional*
Sebagai bagian dari dukungannya terhadap pengembangan Museum Nasional Indonesia, Ibas juga menyerahkan bantuan simbolis kepada pihak museum, yang diterima oleh Kepala Museum Nasional, Indira Estiyanti Nurjadin. Sebagai bentuk apresiasi terhadap upaya museum dalam mengembangkan koleksi dan program edukatif, bantuan tersebut diharapkan dapat memperkuat operasional dan pengembangan museum.
Ibas juga mengajak peserta acara untuk melakukan tur museum, termasuk mencoba fitur interaktif berbasis AI “Paras Nusantara”, yang memindai wajah pengunjung, serta mengunjungi koleksi-koleksi ikonik seperti Arca Bhairawa dan fosil Homo erectus, yang baru saja kembali ke Indonesia setelah lebih dari 130 tahun.
*Kehadiran Legislatif Mendukung Ekosistem Kebudayaan*
Acara ini juga dihadiri oleh sejumlah Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat, termasuk Marwan Cik Asan, Sabam Sinaga, Iman Adinugraha, dan Anita Jacoba Gah, yang semuanya memberikan dukungan nyata terhadap sektor kebudayaan dan ekosistem seni nasional sebagai bagian penting dari pembangunan karakter bangsa.
*Pentingnya Kolaborasi dan Sinergi Lintas Sektor*
Kegiatan ini membuktikan bahwa penguatan sektor seni dan budaya di Indonesia bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan dukungan aktif dari sektor swasta, masyarakat, dan lembaga-lembaga budaya. Kolaborasi yang erat ini sangat penting untuk menciptakan ekosistem yang berkelanjutan dan mampu mendorong Indonesia menjadi pusat kebudayaan kreatif di Asia Tenggara dan dunia.





