Home / Daerah / Perputaran Ekonomi Koperasi Gemah Ripah Capai Rp10 Miliar Per Hari

Perputaran Ekonomi Koperasi Gemah Ripah Capai Rp10 Miliar Per Hari

Yogyakarta,REDAKSI17.COM – Perputaran uang di Koperasi Gemah Ripah tercatat menembus angka fantastis, yakni Rp5 miliar hingga Rp10 miliar per hari. Angka ini menjadi bukti kuat vitalitas ekonomi kerakyatan di DIY, yang dukung oleh koperasi.

Ketua Koperasi Gemah Ripah, Mafthuhin, menyampaikan hal ini usai bersilaturahmi kepada Wagub DIY sekaligus pembina koperasi Gemah Ripah, KGPAA Paku Alam X,  Senin (20/04) di Gedhong Pare Anom, Kompleks Kepatihan, Yogyakarta. Mafthuhin menjelaskan, angka ini bukanlah sekadar statistik di atas kertas, melainkan cerminan dari nyata dari vitalitas sektor pangan di DIY.

“Hitungannya sederhana, satu truk jeruk asal Medan itu nilainya antara Rp100 juta hingga Rp120 juta. Dalam satu hari, bisa masuk hingga 20 truk. Itu baru jeruk, belum lagi komoditas lain seperti semangka, nanas, melon, salak, hingga buah-buahan impor yang terus mengalir selama 24 jam,” ungkap Mafthuhin.

Menurutnya, perputaran uang ini bahkan melonjak jauh lebih tinggi saat memasuki musim panen raya. Meski harga komoditas fluktuatif, arus distribusi buah di Pasar Gemah Ripah tetap stabil dan menjadi tumpuan bagi ribuan pedagang maupun tenaga kerja yang menggantungkan hidup di sana.

Mafthuhin menuturkan, Sri Paduka dalam kesempatan tersebut meminta untuk lebih mengembangkan koperasi Gemah Ripah. Koperasi Gemah Ripah diharapakn tidak hanya besar secara organisasi, tetapi juga besar secara manfaat bagi sesama. Salah satu poin utama yang ditekankan adalah filosofi merangkul, bukan memukul.

Mafthuhin memaknai arahan tersebut sebagai komitmen koperasi untuk tetap mengedepankan kolaborasi dan inklusivitas dalam berdagang. “Beliau mengingatkan agar kita selalu merangkul teman-teman seperjuangan, bukan justru memukul atau mematikan usaha orang lain. Di Koperasi Gemah Ripah, semangatnya adalah tumbuh bersama. Baik itu pedagang besar, pedagang kecil, hingga tenaga bongkar muat, semua harus dirangkul sebagai satu kesatuan ekonomi,” tuturnya.

Filosofi ini juga menjadi landasan bagi rencana ekspansi koperasi ke wilayah lain di DIY, seperti Kulon Progo dan Gunungkidul. Sesuai arahan Sri Paduka, ekspansi tersebut bukan dilakukan untuk memonopoli pasar, melainkan untuk mengadopsi dan memberdayakan potensi lokal yang ada agar bisa ikut sejahtera dengan sistem manajemen koperasi yang sudah teruji.

Di sisi lain, Koperasi Gemah Ripah juga menyimpan terobosan ramah lingkungan yang futuristik. Bekerja sama dengan Universitas Gadjah Mada (UGM), mereka telah berhasil mengimplementasikan teknologi pengolahan limbah buah menjadi energi listrik.

Inovasi ini lahir dari kesadaran akan besarnya volume sampah organik yang dihasilkan pasar setiap hari. Saat ini, limbah buah seperti semangka, melon, dan buah naga sudah mampu diolah 100 persen menjadi energi.

“Kami sudah memiliki instalasi pengelolaan sampah sendiri. Hasilnya, listrik dari sampah ini menjadi back-up otomatis jika aliran PLN padam. Setiap kios mendapatkan jatah daya untuk penerangan, sehingga aktivitas kerja di kantor hingga ibadah di masjid tetap bisa berjalan tanpa gangguan meski listrik kota mati,” jelas Mafthuhin.

Meski masih menghadapi tantangan pada limbah jeruk yang memiliki kadar asam tinggi, Mafthuhin menyatakan riset bersama UGM terus ditingkatkan agar efektivitas pengolahan bisa mencapai 100 persen untuk seluruh jenis buah. Langkah ini menjadi bukti bahwa koperasi tidak hanya mengejar profit, tetapi juga bertanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan.

“Kanjeng Gusti juga berpesan bahwa berbagi itu tidak hanya soal harta, tapi juga ilmu. Inovasi lingkungan dan kemandirian ekonomi inilah yang ingin terus kami tularkan ke wilayah lain di Yogyakarta,” tutupnya.

Humas Pemda DIY

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *