“Kami berpandangan bahwa Bank Indonesia sebaiknya mempertahankan suku bunga acuannya di 5,75% pada Rapat Dewan Gubernur September 2026 mendatang,” tulis riset LPEM FEB UI dikutip Warta Ekonomi.
Lembaga tersebut menyebutkan bahwa mempertahankan suku bunga acuan pada RDG hari ini memperhatikan kondisi inflasi. Inflasi meningkat menjadi 3,19% pada Agustus 2026 dari 2,88% pada Juli 2026.
Namun inflasi tersebut dinilai masih berada dalam kisaran target Bank Indonesia sebesar 1,5 cabai, dan beras, menjadi pendorong utama kenaikan–3,5%, dengan komponen harga bergejolak, terutama daging ayam.
Selain itu, neraca perdagangan Indonesia kembali mencatat surplus sebesar US$121,9 juta pada Juli 2026 dari defisit sebesar US$450,5 juta pada Juni 2026.
Namun, surplus kumulatif Januari–Juli 2026 sebesar US$3,70 miliar tercatat 84,4% lebih rendah dibandingkan US$23,77 miliar pada periode yang sama pada 2025.
Dari sisi eksternal, Federal Reserve menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 bps menjadi 3,75%–4,00% pada 16 September 2026, kenaikan pertama sejak Juli 2023, di tengah kembali meningkatnya konflik di Timur Tengah yang mendorong harga minyak Brent menembus US$00 per barel.




