
Kulon Progo,REDAKSI17.COM – Petani di Dusun Banyunganti Kalurahan Jatimulyo Kapanewon Girimulyo Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, menjadikan lahan terbengkalai selama 30 tahun menjadi lokasi produksi jagung dengan produktivitas yang melampaui rata-rata daerah.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Dipertapa) Kabupaten Kulon Progo Trenggono Trimulyo di Kulon Progo, Kamis, mengatakan melalui kerja keras dan inovasi pertanian, lahan seluas 7.000 meter persegi yang sebelumnya merupakan hutan tak produktif yang bertransformasi menjadi lahan pertanian unggulan dengan produktivitas mencapai 8,33 ton per hektare.
“Angka ini tercatat jauh melampaui rata-rata kabupaten sebesar 6,5 ton per hektare, bahkan mengungguli capaian rata-rata tingkat Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta sebesar 5,7 ton per hectare,” kata Trenggono.
Ia memberikan apresiasi tinggi atas capaian tersebut. Ia menyebut keberhasilan di Banyunganti sebagai bukti nyata bahwa lahan yang selama ini dianggap tidak produktif memiliki potensi besar untuk menopang kemandirian pangan nasional.
“Hasil ubinan di wilayah Jatimulyo ini sangat menggembirakan. Ini membuktikan bahwa dengan semangat gotong royong dan pengelolaan yang tepat, lahan tidur yang sudah 30 tahun tidak terjamah mampu memberikan hasil panen berkualitas tinggi,” katanya.
Bupati Kulon Progo Agung Setyawan menyatakan bahwa apa yang dilakukan petani Banyunganti merupakan wujud konkret kemandirian pangan berbasis desa.
“Keberhasilan ini tidak hanya menambah pundi-pundi ekonomi petani, tetapi juga memperkuat kedaulatan pangan daerah yang mandiri tanpa ketergantungan pada impor,” katanya.
Ketua Kelompok Tani Mudotomo Dukuh Banyunganti Sutarman menjelaskan bahwa kunci keberhasilan mereka terletak pada penerapan sistem tumpang sari. Petani menanam singkong dan ubi jalar di sela-sela jagung untuk memaksimalkan potensi lahan bekas hutan tersebut.
“Lahan ini sempat mangkrak selama 30 tahun. Kami mencoba mengolahnya kembali dengan sistem tumpang sari agar lahan benar-benar optimal. Hasilnya ternyata jauh di luar dugaan kami,” kata Sutarman.
Meski masih menghadapi tantangan teknis seperti kebutuhan alat kultivator, sistem pengairan, dan penanganan hama, para petani di Banyunganti tetap menunjukkan dedikasi tinggi. Pihak pemerintah daerah pun telah berkomitmen untuk terus mendampingi para petani agar keberhasilan ini dapat terus berlanjut dan menjadi inspirasi bagi wilayah-wilayah lain di Kulon Progo.
Transformasi lahan tidur di Banyunganti kini menjadi potret inspiratif bahwa dengan semangat inovasi, sektor pertanian tetap menjadi pilar utama kesejahteraan masyarakat desa yang mampu memberikan dampak signifikan bagi ketahanan pangan nasional.


