Beranda / Daerah / Posisi Strategis Taman Budaya, Ruang Ekspresi hingga Jawab Tantangan Zaman

Posisi Strategis Taman Budaya, Ruang Ekspresi hingga Jawab Tantangan Zaman

Yogyakarta,REDAKSI17.COM – Taman Budaya memiliki posisi strategis dalam pemajuan kebudayaan, tidak hanya sebagai ruang ekspresi dan pengembangan karya, tetapi juga untuk menjaga keberlanjutan kehidupan budaya. Keberadaannya pun penting dalam mendorong pemajuan kebudayaan yang inklusif sekaligus menjawab tantangan zaman.

Hal demikian disampaikan Wakil Gubernur DIY, KGPAA Paku Alam X, saat membacakan sambutan Gubernur DIY pada Opening Ceremony Temu Karya Taman Budaya se-Indonesia (TKTB) XXV 2026 di Taman Budaya Yogyakarta, Senin (28/09) malam. Berlangsung mulai tanggal 28 September 2026 hingga 1 Oktober 2026, TKTB ini menjadi ruang perjumpaan para pengelola taman budaya dari seluruh Nusantara untuk berbagi gagasan, karya, pengalaman, dan semangat dalam menghidupkan kebudayaan.

Dalam sambutannya, Sri Paduka kemudian menyoroti  tantangan kebudayaan untuk memiliki daya yang mampu menghidupi para pelakunya. Bukan hanya seniman, tetapi juga maestro dan pewarisnya, kreator muda, hingga masyarakat yang terlibat dalam ekosistem kebudayaan.

“Bagaimana kebudayaan memiliki daya untuk menghidupi? Menghidupi senimannya. Menjaga keberlanjutan maestro dan pewarisnya. Membuka kemungkinan bagi kreator muda. Menggerakkan usaha masyarakat. Melahirkan pekerjaan. Dan pada akhirnya, meninggikan martabat manusia yang menjaga nyala kebudayaan,” tuturnya.

Dalam konteks tersebut, Sri Paduka menyebut, ekonomi kreatif memiliki relevansi dalam pengembangan kebudayaan. Ekonomi kreatif dapat menjadi jembatan nilai agar kekayaan budaya memperoleh nilai tambah ekonomi, tanpa menghilangkan nilai dan identitas yang menjadi sumber kekuatannya.

“Akar memberi identitas. Kreativitas menumbuhkan cabang. Kesejahteraan adalah buah yang semestinya dapat dipetik bersama. Di sanalah ingatan bertemu imajinasi. Maestro bertemu generasi. Tradisi memperoleh kemungkinan baru melalui teknologi. Dan karya menemukan masa depannya,” katanya.

Pertemuan Taman Budaya se-Indonesia ini pun diharapkan dapat menjadi ruang untuk membawa gagasan tersebut ke dalam laku. Perjumpaan antarpengelola Taman Budaya tidak berhenti pada pertukaran gagasan, tetapi juga menjadi bagian dari proses mencipta, mengembangkan, dan merawat kehidupan kebudayaan.

Sebab, dikatakan Sri Paduka, kebudayaan merupakan sungai panjang ingatan peradaban. Kebudayaan mengalir dari masa silam, membawa pengetahuan lintas generasi, kemudian mencari muaranya pada zaman yang terus berubah.

Karena itu, kebudayaan tidak cukup hanya dijaga, tetapi juga perlu terus dirawat dan diolah agar mampu berbicara kepada zamannya tanpa kehilangan ingatan tentang asalnya. Hal tersebut menjadi bagian dari makna tema TKTB XXV 2026, Gyaning Rasa Mantraning Nusantara, Srawung Karya, Gulawenthah Budaya.

“Srawung mempertemukan. Gulawenthah mematangkan. Karya memberi tubuh kepada gagasan. Maka sesungguhnya, kebudayaan bukanlah kata benda. Kebudayaan adalah kata kerja. Budaya hidup karena terus dilakukan, diwariskan, ditafsirkan, diciptakan kembali, dipertemukan dengan zaman, lalu diteruskan kepada generasi berikutnya. Inilah ruh gulawenthah, ketika kebudayaan terus diolah, agar mampu berbicara kepada zamannya, tanpa kehilangan ingatan tentang asalnya,” jelasnya.

Melalui TKTB XXV 2026, Sri Paduka turut berharap kebudayaan tidak hanya terus lestari. Lebih lanjut, kebudayaan dapat semakin memiliki arti bagi kehidupan hari ini dan memiliki daya untuk menghidupi masa depan.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon juga menekankan, pentingnya peran Taman Budaya di titik temu posisi strategis kebudayaan nasional, yaitu sebagai daya ikat kohesi bangsa (binding power), sumber jati diri (source of identity), penggerak pertumbuhan (engine of growth), serta sarana diplomasi soft power di tingkat global. Baginya, Taman Budaya kini tak lagi sekadar gedung pertunjukan, melainkan sebuah infrastruktur kebudayaan yang hidup sebagai ruang produksi pengetahuan, regenerasi talenta, serta pusat penggerak ekosistem kebudayaan nasional.

“Kehadiran Taman Budaya ini menjadi sangat penting di dalam pemajuan kebudayaan, sesuai dengan amanat imperatif konstitusi Pasal 32 Ayat (1) UUD 1945. Suatu legacy yang hadir hampir di setiap daerah, semacam cultural center yang sangat penting,” ucapnya.

Dengan demikian, Menbud berharap, event ini dapat menguatkan hubungan Taman Budaya se-Indonesia dan mendorong adanya berbagai kolaborasi melalui pertukaran karya, program residensi, kurasi bersama, serta pertukaran praktik baik. Menurutnya, Taman Budaya harus menjadi ruang tempat karya bertemu dengan publik untuk memperkuat ekosistem kebudayaan nasional.

“Wadah untuk berjejaring antara seniman, komunitas, perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat sehingga dapat menjadi salah satu simpul penting dalam ekosistem manajemen talenta,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, Dian Lakshmi Pratiwi saat membacakan laporan penyelenggaraan TKTB XXV 2026 Sekretaris Daerah DIY mengutarakan bahwa Temu Karya Taman Budaya se-Indonesia merupakan forum nasional tahunan yang diselenggarakan secara berkelanjutan sebagai ruang temu, dialog, dan kolaborasi antartaman budaya di seluruh Nusantara. Mengusung tema Gyaning Rasa Mantraning Nusantara, Srawung Karya, Gulawenthah Budaya, TKTB XXV 2026 diharapkan tidak hanya menjadi ajang pertunjukan, tetapi juga ruang bertumbuhnya gagasan, inovasi, dan strategi kebudayaan. Forum ini sekaligus menegaskan peran Taman Budaya sebagai titik temu, titik tumbuh, pusat kreativitas, dan penjaga keberlanjutan tradisi.

Rangkaian TKTB XXV 2026 berlangsung pada 28 September hingga 1 Oktober 2026 di Taman Budaya Yogyakarta. Kegiatan ini diikuti 17 Taman Budaya dari berbagai daerah di Indonesia, yakni Sumatera Utara, Jambi, Sumatera Selatan, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Papua, Bali, serta Taman Budaya Yogyakarta sebagai tuan rumah.

Adapun agenda utama yang disiapkan meliputi seremoni pembukaan, Defile Adat Nusantara, Forum Taman Budaya se-Indonesia, Pagelaran Pentas Seni Utusan Taman Budaya, serta penyerahan pataka tuan rumah Temu Karya Taman Budaya XXVI Tahun 2027. Selain agenda utama, penyelenggaraan TKTB XXV 2026 juga disinergikan dengan sejumlah agenda pendukung. Di antaranya Pameran Seni Rupa Difabel Suluh Sumurup Art Festival, Pojok Kreatif Taman Budaya sebagai wadah penguatan ekonomi kreatif dan pemberdayaan UMKM lokal, Pentas Musik Orkestra Taman Budaya, Gelar Karawitan “Ndang Tak Gong”, serta Peringatan Hari Batik Nasional bersama Art for Children (AFC) Taman Budaya Yogyakarta.

Didanai melalui Dana Keistimewaan Tahun Anggaran 2026, Dian menyampaikan, penyelenggaraan TKTB XXV 2026 tidak terlepas dari kolaborasi lintas sektor. Mulai dari pemerintah pusat dan daerah, seniman, budayawan, akademisi, komunitas kreatif, hingga berbagai mitra pendukung.

“Atas nama Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta, kami menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, Taman Budaya Yogyakarta, panitia pelaksana, serta seluruh kontingen dan delegasi Taman Budaya se-Indonesia atas partisipasi dan dedikasinya,” ucapnya.

Dalam pembukaan TKTB XXV 2026, panggung diisi penampilan orkestra yang melibatkan 60 musisi di bawah pimpinan konduktor Oni Krisnerwinto. Orkestra tersebut mengiringi penampilan Ndarboy Genk, Princess Alicia, Tyok Satrio, Marcella Dee, serta Vocal AFC TBY dengan membawakan sekitar 17 lagu daerah dan lokal.

Humas Pemda DIY

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *