“Hari ini hadir bersama kita Ibu Susana dari Kabupaten Bogor. Dia bekerja sebagai buruh harian. Buruh harian mengupas bawang dengan upah Rp700 ribu per kilogram,” ujar Prabowo.
Pernyataan tersebut kemudian dipertanyakan pegiat media sosial Ferry Koto. Berdasarkan video yang dipublikasikan Badan Komunikasi (Bakom) dan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), terungkap informasi berbeda mengenai pekerjaan Susana.
“Ternyata apa yg diucapkan Presiden Prabowo di sidang Tahunan MPR tentang pengupas bawang dengan upah Rp700.000/kg, berbeda dengan apa yang dipublikasikan anak buahnya di BAKOM dan KOMDIGI,” kata Ferry di akun X.
Alih-alih sebagai buruh pengupas bawang dengan upah Rp700 ribu per kilogram, Susanah dalam informasi yang disoroti Ferry justru disebut bekerja sebagai penjahit kain perca. Upah yang tercantum juga hanya Rp700 per kilogram.
“Sudahlah yang disampaikan Presiden ndak masuk nalar, ternyata BAKOM tak menyebut pekerjaan Susanah sebagai pengupas bawang, tapi penjahit kain perca yang dibayar Rp700 per kilogram,” ujarnya.
Perbedaan informasi tersebut kemudian membuat Ferry mempertanyakan sumber data yang diterima Presiden sebelum disampaikan dalam forum kenegaraan. Menurutnya, persoalannya tidak berhenti pada apakah Prabowo mengetahui kondisi pekerjaan Susana atau tidak.
“Jadi ini bukan sekadar Presiden Prabowo tidak paham realitas rakyatnya, yang lebih memprihatinkan anak buah Presiden menyampaikan hal berbeda ke Presiden yang diucapkan di sidang MPR,” ungkapnya.
Ferry bahkan menilai perbedaan tersebut memperlihatkan adanya persoalan komunikasi di internal pemerintahan. Ia mempertanyakan informasi mana yang seharusnya menjadi acuan masyarakat.
“Bayangkan, seperti apa kacau balaunya di dalam pemerintahan saat ini. Entah informasi mana yang bisa dipercaya masyarakat,” imbuh Ferry.





