Beranda / Hikayat Seni dan Budaya / PRASASTI SDOK KOK THOM: SAAT NAMA JAWA TERUKIR DALAM SEJARAH KAMBOJA

PRASASTI SDOK KOK THOM: SAAT NAMA JAWA TERUKIR DALAM SEJARAH KAMBOJA

Prasasti Sdok Kok Thom (K.235) merupakan salah satu dokumen sejarah terpenting Kekaisaran Khmer. Prasasti ini dipahat pada 1052/1053 M pada masa pemerintahan Raja Udayadityavarman II dan ditemukan di kompleks Candi Sdok Kok Thom, yang kini berada di Provinsi Sa Kaeo, Thailand, dekat perbatasan Kamboja. Ditulis dalam bahasa Sanskerta dan Khmer Kuno, prasasti ini terdiri atas sekitar 340 baris, menjadikannya salah satu sumber primer paling lengkap mengenai sejarah awal Kerajaan Angkor.
Isi prasasti diawali dengan pujian kepada Dewa Siwa, kemudian mengisahkan silsilah para raja Khmer, mulai dari Jayavarman II, pendiri Kekaisaran Angkor pada tahun 802 M, hingga Udayadityavarman II. Prasasti juga mencatat sembilan generasi keluarga brahmana kerajaan yang bertugas memimpin ritual keagamaan, mengelola candi, serta menjaga legitimasi kekuasaan raja. Selain itu, prasasti memuat informasi mengenai pemberian tanah kepada candi, hak-hak keagamaan, struktur administrasi kerajaan, serta perkembangan institusi keagamaan Hindu di Kamboja.
Bagian yang paling terkenal adalah kisah tentang Jayavarman II yang mengundang brahmana Hiraṇyadāma untuk melaksanakan upacara Devarāja di Mahendraparvata (kini Phnom Kulen). Menurut prasasti, upacara tersebut bertujuan agar “Kambuja tidak lagi bergantung kepada Jawa” dan hanya memiliki satu penguasa tertinggi (cakravartin). Kalimat inilah yang membuat nama Jawa tercatat secara eksplisit dalam salah satu prasasti paling penting di Asia Tenggara.
Hingga kini, makna penyebutan “Jawa” tersebut masih menjadi perdebatan di kalangan sejarawan. Sebagian ahli, seperti George Cœdès, menafsirkan bahwa Jayavarman II sedang melepaskan diri dari dominasi politik Jawa, yang kemungkinan berkaitan dengan wangsa Sailendra. Namun, banyak sejarawan modern berpendapat bahwa istilah tersebut lebih tepat dipahami sebagai upaya mengakhiri hubungan ketergantungan atau kesetiaan dalam sistem mandala, yaitu jaringan pengaruh antarkerajaan, bukan bukti adanya pemerintahan langsung atau penjajahan seperti konsep negara modern. Hingga saat ini belum ditemukan prasasti dari Jawa maupun prasasti Khmer lain yang secara tegas menjelaskan bentuk hubungan tersebut.
Terlepas dari berbagai penafsiran itu, Prasasti Sdok Kok Thom tetap menjadi sumber sejarah yang sangat berharga. Selain menjelaskan asal-usul ideologi Devarāja, prasasti ini merekam silsilah raja-raja Angkor, struktur pemerintahan, organisasi keagamaan, administrasi kerajaan, serta menjadi bukti bahwa nama Jawa telah tercatat dalam sejarah Kamboja lebih dari seribu tahun yang lalu. Karena itulah, prasasti ini terus menjadi rujukan utama dalam kajian hubungan awal antara Jawa dan Kekaisaran Khmer serta sejarah politik Asia Tenggara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *