Beranda / Hikayat Seni dan Budaya / PUSAKA YANG TERASING: MENYELAMI SUNYI PATAKA MAJAPAHIT DI JANTUNG NEW YORK

PUSAKA YANG TERASING: MENYELAMI SUNYI PATAKA MAJAPAHIT DI JANTUNG NEW YORK

Ada sebuah ironi yang menyesakkan dada saat kita bicara tentang kedaulatan Majapahit.
Di sebuah sudut sunyi di The Metropolitan Museum of Art (The Met), New York, berdirilah tegak empat pataka (tombak panji) yang dulunya adalah nyawa dari sebuah imperium besar Nusantara.
Mari kita runut kembali garis takdir pusaka-pusaka agung ini:
1. Manifestasi Kedaulatan (Masa Penciptaan)
Diciptakan dengan teknik cor perunggu tingkat tinggi di akhir masa Singhasari, pataka-pataka ini, terutama Sang Dwija Naga Nareswara, bukan sekadar alat perang. Mereka adalah simbol legitimasi kekuasaan.
Ketika Raden Wijaya mendirikan Majapahit, pusaka inilah yang dikirabkan sebagai tanda bahwa suksesi kekuasaan telah sah secara tradisi dan spiritual.
2. Saksi Bisu Kejayaan (Masa Penggunaan)
Selama ratusan tahun, pataka ini memimpin barisan terdepan ekspedisi militer Majapahit. Di ujung tombak inilah, panji “Gula Kelapa” (Merah Putih) berkibar melintasi samudera Nusantara. Ia adalah saksi hidup penyatuan nusantara di bawah sumpah Palapa. Setiap ukirannya, mulai dari figur naga hingga padma adalah doa yang dipahat menjadi logam.
3. Jejak yang Terputus (Masa Hilangnya)
Bagaimana pusaka sepenting ini bisa “nyasar” ke Amerika? Sejarah kita mencatat masa-masa gelap saat keraton mengalami guncangan dan kolonialisme mulai merajalela. Banyak artefak kita yang “moksanya” bukan karena ritual, melainkan karena jalur perdagangan ilegal dan koleksi pribadi.
Pataka ini sempat berpindah-pindah tangan dalam gelapnya pasar antik dunia sebelum akhirnya “mendarat” di tangan kolektor Samuel Eilenberg, dan didonasikan ke museum pada tahun 1987.
4. Pusaka yang “Kehilangan Nyawa”
Secara fisik, mereka dirawat dengan standar kelas dunia. Suhu udara diatur, cahaya lampu disesuaikan agar perunggu itu tak lekang oleh zaman.
Namun secara esensi, mereka adalah pusaka yang kehilangan nyawanya. Ia terasing dari tanah tumpah darahnya, dipisahkan oleh ribuan mil dari doa-doa dan rasa hormat yang seharusnya ia terima di bumi Nusantara. Ia kini hanya dipandang sebagai “benda seni eksotis” oleh para turis mancanegara, bukan sebagai identitas sebuah bangsa.
Penutup:
Melihat artefak ini di New York memunculkan refleksi mendalam, “Apakah kita sebagai pewaris peradaban sudah cukup peduli untuk menjemput kembali ‘jiwa-jiwa’ kita yang tertinggal di tanah asing?”
Semoga suatu saat nanti, angin Nusantara bisa kembali menyentuh permukaan perunggu pataka-pataka agung ini di tanah asalnya.
Rahayu Sagung Dumadi 🙏

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *