Yordania,REDAKSI17.COM – Gelombang penolakan terhadap kehadiran militer Amerika Serikat mulai menguat di Yordania setelah negara itu terus menjadi sasaran serangan drone dan rudal yang dikaitkan dengan Iran.
Desakan agar pasukan AS angkat kaki dari wilayah Yordania pun bermunculan, seiring meningkatnya kekhawatiran publik bahwa keberadaan militer Washington justru menyeret negara tersebut ke pusaran konflik Timur Tengah.
Yordania kini disebut menjadi salah satu titik panas dalam rivalitas antara Amerika Serikat dan Iran.
Sekitar 4.000 personel militer AS yang ditempatkan di Yordania disebut terus menghadapi ancaman serangan drone dan rudal yang diduga dilancarkan Iran.
Mengutip Tribunnews pada (6/8/2026), sejak Juli 2026 sedikitnya 60 serangan drone dan rudal dilaporkan menghantam wilayah Yordania dengan sasaran fasilitas militer Amerika Serikat.
Salah satu serangan dilaporkan menghancurkan hanggar di Pangkalan Udara Raja Faisal dan menyebabkan kerusakan pada pesawat tempur F-15E Strike Eagle milik AS.
Negara yang selama ini dikenal sebagai salah satu kawasan paling stabil di Timur Tengah kini dinilai ikut terseret ke dalam eskalasi konflik akibat hubungan militernya dengan Washington.
Iran sengaja menjadikan Yordania sebagai target untuk memberi tekanan kepada sekutu Amerika Serikat sekaligus membalas peran Amman yang beberapa kali membantu menggagalkan serangan menuju Israel.
Situasi keamanan yang terus memburuk turut berdampak pada aktivitas masyarakat.
Sirene peringatan serangan udara semakin sering terdengar, sementara gangguan terhadap penerbangan mulai memengaruhi sektor pariwisata yang selama ini menjadi salah satu penopang utama ekonomi Yordania dengan kontribusi sekitar 18 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
Rangkaian serangan memicu reaksi dari dalam negeri.
Ratusan tokoh masyarakat bersama mantan anggota parlemen Yordania dilaporkan menandatangani surat terbuka yang mendesak pemerintah menarik seluruh pasukan asing dari wilayah mereka agar negara itu tidak menjadi korban konflik yang melibatkan pihak lain.
Di sisi lain, pemerintah Yordania menghadapi dilema karena masih bergantung pada bantuan ekonomi dan militer dari Amerika Serikat yang nilainya mencapai 1,65 miliar dolar AS.
Letak geografis Yordania yang berbatasan dengan Suriah, Irak, dan Israel juga membuat posisi negara tersebut semakin rentan di tengah meningkatnya ketegangan kawasan.
Aliansi pertahanan dengan Amerika Serikat yang sebelumnya dipandang sebagai jaminan keamanan kini justru dinilai sebagian kalangan telah menempatkan Yordania di garis depan konflik regional.
Ancaman bertubi-tubi diletupkan oleh Mohsen Rezaei, Penasihat Militer Pemimpin Tertinggi Iran, ke arah Amerika Serikat. Dalam wawancara televisi pada Senin (4/8/2026), Rezaei menuding Washington tengah berupaya keras menguasai jalur pelayaran strategis Selat Hormuz demi mencaplok cadangan minyak dan gas milik Teheran.
Rezaei menegaskan bahwa pihak militer Iran tidak akan tinggal diam membiarkan dominasi AS di perairan vital tersebut.
“Jika mereka membawa kapal induk, kami akan menyerang kapal induk itu.”
“Jika mereka mengirim pasukan militer, kami akan menyerang mereka,” kata Rezaei.
Ia mengungkapkan, gertakan militer Iran telah membuahkan hasil. Sejumlah kapal dagang dilaporkan memilih putar balik usai menerima peringatan tegas dari armada Iran. Bahkan, beberapa kapal dikabarkan sempat mengalami kerusakan sebelum akhirnya memutuskan retreat dari zona perairan tersebut.
Tak berhenti di situ, Rezaei turut menanggapi klaim Presiden AS Donald Trump yang mengaku membatalkan rencana serangan besar-besaran demi membukan jalan bagi dialog dan negosiasi. Bagi Rezaei, klaim tersebut hanyalah isapan jempol semata.
“Anda sedang bermimpi, Tuan Trump.”
“Jika operasi itu benar-benar ada, mengapa pasukan Anda tidak menginjakkan kaki di darat?” ujarnya.
Penasihat militer tersebut kembali menyuarakan peringatan keras bahwa perlawanan Iran atas ambisi Amerika di Selat Hormuz berpotensi menyulut ledakan konflik yang jauh lebih luas.
“Kami tidak ingin memperluas perang.”
“Namun, kami tidak akan membiarkan Selat Hormuz dikuasai Amerika Serikat,” tegasnya. (Tribun Style/Tribun Video)





