Beranda / Hikayat Seni dan Budaya / Sosro Warsito Menjahit Warisan Jawa Lewat Blangkon

Sosro Warsito Menjahit Warisan Jawa Lewat Blangkon

Gunungkidul,REDAKSI17.COM – Di sebuah rumah sederhana di Padukuhan Clorot, Kalurahan Semanu, Gunungkidul, jemari tua Sosro Warsito masih setia merapikan lipatan demi lipatan kain batik. Dengan ketelitian yang nyaris tak berubah selama lebih dari setengah abad, lelaki yang akrab disapa Sosro Blangkon itu terus merangkai warisan budaya Jawa menjadi sebuah penutup kepala yang sarat makna, yakni blangkon.

Usianya kini telah menginjak 78 tahun. Namun setiap hari, Sosro tetap duduk lesehan di ruang kerjanya selama berjam-jam untuk menyelesaikan pesanan yang datang dari berbagai daerah. Bagi sebagian orang, membuat blangkon mungkin hanya pekerjaan. Namun bagi Sosro, setiap jahitan adalah bentuk cinta, kesabaran, sekaligus pengabdian kepada budaya Jawa yang diyakininya tak akan pernah mati.

“Saya menekuni pekerjaan ini karena punya keyakinan. Selama orang Jawa masih ada, blangkon tidak akan punah,” ujarnya mantap.

Keyakinan itulah yang membuatnya bertahan sejak tahun 1970 hingga hari ini. Perjalanan Sosro menjadi pengrajin blangkon bermula pada 1969. Saat itu, ia aktif dalam kelompok karawitan dan mendapat tugas memesan blangkon kepada seorang pengrajin bernama Kasan Dayat di Piyaman, Wonosari. Ketertarikannya pada blangkon tumbuh seiring kecintaannya terhadap budaya Jawa yang sejak kecil mengalir dalam kehidupannya melalui seni karawitan.

Tak sekadar memesan, Sosro memberanikan diri untuk belajar atau nyantrik kepada Kasan Dayat. Selama setahun, ia belajar dengan tekun. Tidak hanya membuat blangkon, ia juga membantu berbagai pekerjaan gurunya, termasuk mencari pakan ternak. Kesungguhan itu berbuah kepercayaan. Saat kondisi kesehatan Kasan Dayat memburuk, seluruh peralatan pembuatan blangkon diserahkan kepada Sosro. Tak lama kemudian, sang guru wafat. “Tahun 1970 saya mulai menerima dan mengerjakan pesanan blangkon sendiri,” kenangnya.

Sejak saat itulah hidup Sosro tak pernah jauh dari kain batik, jarum, dan lipatan-lipatan rumit yang menjadi ciri khas blangkon gaya Yogyakarta. Berbeda dengan banyak pengrajin lain, Sosro hanya membuat blangkon gaya Yogyakarta atau Mataraman Yogyakarta. Ia tidak menerima pesanan blangkon gaya Surakarta. “Karena dulu saya hanya diajari membuat blangkon Yogyakarta. Sebelum sempat belajar model Surakarta, guru saya sudah meninggal dunia,” katanya.

Keputusan itu justru membuatnya dikenal sebagai salah satu maestro blangkon gaya Yogyakarta yang paling konsisten di Gunungkidul. Membuat blangkon bukan pekerjaan yang bisa dilakukan secara tergesa-gesa. Ada proses wiru atau lipatan yang harus dikerjakan dengan sangat presisi. Pada bagian tertentu, kain harus dilipat hingga 15 sampai 17 lipatan dengan ukuran yang tepat agar motif dan bentuk blangkon tampak sempurna.

Bagi Sosro, bagian paling rumit adalah menyusun lipatan-lipatan itu agar rapi, simetris, dan presisi. Kesalahan kecil saja dapat mengubah bentuk keseluruhan blangkon. Karena itu, ia lebih sering memilih mengerjakan sendiri sebagian besar proses pembuatan. Sang istri, Surami, setia mendampingi, terutama pada pekerjaan menjahit dan beberapa tahapan produksi lainnya.

Jika pesanan sedang membludak, Sosro kadang dibantu warga sekitar. Namun, untuk menjaga kualitas, sentuhan akhir hampir selalu berada di tangannya. Dalam sehari, ia mampu menyelesaikan sekitar tiga blangkon, terutama jika kain telah melalui proses wiru terlebih dahulu.

Meski usianya tak lagi muda, ketelatenannya tetap sama seperti puluhan tahun lalu. Satu per satu blangkon lahir dari tangannya, seolah menjadi cara Sosro merawat waktu dan menjaga denyut budaya Jawa tetap hidup.

Pesanan datang dari berbagai daerah. Tidak hanya dari DIY dan Jawa Tengah, tetapi juga dari Lampung, Kalimantan, Bali, Surabaya, Malang, Kebumen, hingga Pacitan. Menurut Sosro, hal itu menjadi bukti bahwa blangkon masih memiliki tempat di hati masyarakat. “Yang memakai blangkon sekarang bukan hanya orang Jawa. Banyak dari daerah lain juga memesan. Itu membuat saya semakin yakin bahwa blangkon masih dibutuhkan,” ujarnya.

Harga blangkon buatannya pun relatif terjangkau, berkisar antara Rp100 ribu hingga Rp200 ribu per buah, tergantung jenis kain batik yang digunakan. Motif yang ditawarkan beragam, mulai dari Kumitir Tulis, Modang Tulis, Winarnan, Kumitir Prima, Modang Prima, Poleng Prima, Celeng Kewengen, Kesuma Prima, Wilis, hingga motif polos atau wulung. Di antara semuanya, motif Kumitir menjadi yang paling banyak diminati.

Bagi Sosro, keuntungan bukanlah tujuan utama. Yang lebih penting baginya adalah memastikan tradisi pembuatan blangkon tetap hidup dan terus dikenal oleh generasi berikutnya. “Saya ingin nguri-uri budaya Jawa. Jangan sampai budaya membuat blangkon ini hilang atau kalah dengan budaya lain,” tandasnya.

Dedikasi panjang itulah yang mengantarkan Sosro Warsito menerima Anugerah Kebudayaan DIY 2025 dari Pemerintah Daerah (Pemda) DIY. Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi atas konsistensi dan pengabdiannya dalam melestarikan kerajinan blangkon, salah satu Warisan Budaya Takbenda (WBTb) yang menjadi identitas masyarakat Jawa.

Namun bagi Sosro, penghargaan terbesar bukanlah piagam atau pengakuan. Ia justru merasa bahagia ketika melihat blangkon masih dikenakan dalam berbagai acara adat, peringatan budaya, hingga kegiatan masyarakat sehari-hari. Di tengah derasnya arus modernisasi, Sosro tetap percaya bahwa budaya akan bertahan selama masih ada orang yang mencintainya.

Keyakinan itu pula yang membuatnya terus bekerja dengan penuh kesabaran, meski usia semakin menua dan regenerasi pengrajin blangkon belum berjalan seperti yang diharapkannya. Setiap jahitan yang dibuatnya adalah pesan sederhana tentang ketekunan, kesetiaan, dan cinta pada akar budaya.

Selama masih ada orang Jawa yang bangga mengenakan blangkon, Sosro yakin warisan itu akan terus hidup dari generasi ke generasi.”Saya berharap selama orang Jawa masih ada, blangkon tidak akan pernah punah. Itu yang selalu saya pegang sampai sekarang,” tuturnya. Di rumah kecilnya di Clorot, keyakinan itu terus dijahit rapi, satu blangkon demi satu blangkon.

Humas Pemda DIY

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *